10 Menit Israel Bombardir Lebanon, Kirim 50 Jet Tempur Serang 100 Target
Lebih dari 200 nyawa melayang akibat serangan hebat yang dilancarkan oleh Israel.
Israel bombardir Lebanon dalam 10 menit. Mengerahkan 50 jet tempur untuk menyerang 100 target.
Serangan ini dilancarkan hanya beberapa jam setelah kesepakatan gencatan senjata yang dimediasi Pakistan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.
Em Walid sedang berada di toko pakaian miliknya di pusat Beirut, Lebanon, pada Rabu (8/4) ketika suara ledakan terdengar. "Bahkan kucing-kucing jalanan di luar pun mulai berlari," ungkapnya, seperti yang dikutip dari Al Jazeera, setelah Israel meluncurkan serangan udara yang paling mematikan di Lebanon dalam beberapa tahun terakhir.
Akibat serangan tersebut, sedikitnya 254 orang dilaporkan tewas dan lebih dari 1.160 lainnya mengalami luka-luka. Terdapat kekhawatiran bahwa jumlah korban mungkin akan terus bertambah seiring dengan ditemukannya lebih banyak korban di bawah reruntuhan pasca serangan, yang merupakan eskalasi tajam sejak Israel meningkatkan serangannya terhadap Lebanon awal bulan lalu di tengah perang dengan Amerika Serikat (AS) melawan Iran.
Semula, Lebanon sempat bingung dengan posisi negaranya dalam gencatan senjata selama 2 pekan tersebut.
Di mana Pakistan dan Iran mengklaim bahwa Lebanon termasuk dalam perjanjian itu. Namun, Israel dan AS memiliki pandangan yang berbeda. Dalam pernyataannya kepada media, Presiden Donald Trump menyebut Lebanon sebagai "pertempuran terpisah", sementara Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan bahwa gencatan senjata tersebut "tidak mencakup Lebanon".
Dania Arayssi, analis senior di New Lines Institute for Strategy and Policy, menjelaskan, "Netanyahu ingin memanfaatkan situasi yang masih cair untuk memaksimalkan capaian operasional di Lebanon."
Ia juga menambahkan bahwa Netanyahu harus mempertimbangkan kesepakatan antara AS dan Iran yang mungkin mencakup penghentian perang terhadap proksi Iran, yang akan menyulitkan upaya perang Israel melawan Hizbullah di Lebanon. Israel kembali meningkatkan serangannya terhadap Lebanon untuk kedua kalinya dalam waktu kurang dari dua tahun pada awal Maret setelah kelompok Hizbullah meluncurkan serangkaian roket.
Meskipun gencatan senjata antara Israel dan Hizbullah telah diberlakukan sejak 27 November 2024, Israel tetap melancarkan serangan hampir setiap hari yang mengakibatkan ratusan warga Lebanon tewas.
Hizbullah, yang didukung oleh Iran, menyatakan bahwa serangan mereka pada 2 Maret merupakan respons pertama setelah lebih dari satu tahun pelanggaran gencatan senjata oleh Israel. Serangan itu dianggap sebagai balasan atas pembunuhan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatullah Ali Khamenei, oleh AS dan Israel dua hari sebelumnya, tepatnya pada 28 Februari, yakni saat perang AS-Israel melawan Iran dimulai.
Sejak saat itu, pengeboman yang dilakukan Israel secara terus-menerus dan invasi darat telah menewaskan sekitar 1.700 orang di Lebanon serta memaksa lebih dari 1,2 juta orang meninggalkan tempat tinggal mereka. Hizbullah menegaskan bahwa mereka memiliki hak untuk merespons serangan Israel.
"Darah para martir dan yang terluka tidak akan ditumpahkan dengan sia-sia, dan bahwa pembantaian hari ini, seperti semua tindakan agresi dan kejahatan brutal, menegaskan hak alami dan sah kami untuk melawan pendudukan dan membalas agresinya," tegas Hizbullah.
Menurut laporan dari Times of Israel, militer Israel (IDF) mengerahkan 50 jet tempur untuk menjatuhkan sekitar 160 bom ke 100 target strategis Hizbullah dalam waktu 10 menit pada Rabu, dalam operasi yang dinamakan "Eternal Darkness".
Masyarakat Lebanon Dilanda Kebingungan
Gelombang serangan terbaru dari Israel terjadi saat banyak pengungsi berusaha kembali ke rumah mereka di selatan, di tengah kebingungan terkait status Lebanon dalam gencatan senjata. Serangan ini melanda berbagai daerah di negara itu, termasuk bagian Beirut yang sebelumnya tidak tersentuh selama sebulan terakhir, bahkan hingga tahun 2024.
Tanpa adanya peringatan, serangan tersebut, menurut laporan Al Jazeera, banyak menghantam kawasan permukiman yang padat penduduk. Rumah sakit yang kewalahan menghadapi lonjakan jumlah korban mulai meminta donor darah. Di American University of Beirut Medical Center yang terletak di kawasan Hamra, puluhan orang datang memenuhi permintaan tersebut.
Salah satu di antara mereka adalah seorang mahasiswa berusia 20 tahun yang menempuh studi filsafat di American University of Beirut. Keluarganya telah melarikan diri dari Dahiyeh, di selatan Beirut, ketika serangan dimulai pada awal Maret.
Mereka kemudian berlindung di kawasan Basta, di pusat ibu kota. Mahasiswa tersebut berada di kampus, dekat rumah sakit, saat gelombang serangan pertama terjadi. "Saya mendengar beberapa ledakan," ungkapnya, tanpa menyebutkan namanya. "Jumlahnya terlalu banyak."
Ia juga mengingat melihat asap membubung dari berbagai lokasi di seluruh kota, sementara laporan tentang serangan di berbagai daerah mulai berdatangan. Salah satu serangan terjadi dekat rumah bibinya di Distrik Aley, yang berjarak sekitar setengah jam berkendara dari Beirut. Meskipun bibinya selamat, seorang tetangga tidak berhasil bertahan hidup.
Seiring berjalannya waktu, kekhawatiran masyarakat semakin meningkat, terutama mengenai kemungkinan bahwa Israel belum selesai dengan serangannya. Dalam sebuah pernyataan yang disiarkan di televisi, Netanyahu mengungkapkan bahwa operasi militernya terhadap Hezbollah, dan dengan demikian terhadap Lebanon, akan terus berlanjut.