Wow, 69 Ribu Penumpang Kereta Api Lampung pada September: BPS Catat Kenaikan Signifikan!
BPS Lampung melaporkan jumlah Penumpang Kereta Api Lampung mencapai 69.222 orang pada September 2025, naik 2,68% dari bulan sebelumnya, menjadikannya moda transportasi favorit. Apa yang membuat KA begitu diminati?
Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Lampung baru-baru ini merilis data menarik terkait pergerakan penumpang di wilayah tersebut. Pada September 2025, jumlah penumpang kereta api yang berangkat dari Stasiun Tanjung Karang mencapai angka 69.222 orang. Angka ini menunjukkan peningkatan yang patut dicermati dalam preferensi transportasi masyarakat.
Peningkatan jumlah penumpang ini tercatat sebesar 2,68 persen dibandingkan bulan sebelumnya, Agustus 2025, yang mencatat 67.418 penumpang. Data ini disampaikan oleh Statistisi Ahli Muda BPS Provinsi Lampung, M Sabiel Adi Prakasa, dalam rilis daring di Bandarlampung pada Senin (03/11). Kenaikan ini mengindikasikan tren positif bagi sektor perkeretaapian di Lampung.
Sabiel Adi Prakasa juga menegaskan bahwa jumlah ini menjadikan kereta api sebagai moda transportasi paling digemari masyarakat Lampung. "Jumlah penumpang tersebut menjadikan kereta api sebagai moda transportasi favorit bagi masyarakat Lampung, dibandingkan transportasi lainnya seperti kapal feri maupun pesawat terbang," ujarnya. Ini menunjukkan kepercayaan dan kenyamanan masyarakat terhadap layanan kereta api.
Lonjakan Penumpang Kereta Api dan Jarak Tempuh Rata-rata
Data BPS Provinsi Lampung mengonfirmasi bahwa Penumpang Kereta Api Lampung terus menunjukkan pertumbuhan yang stabil. Kenaikan 2,68 persen dari 67.418 orang pada Agustus menjadi 69.222 orang pada September 2025 merupakan indikator kuat. Angka ini mencerminkan tingginya minat masyarakat menggunakan jasa kereta api untuk berbagai keperluan.
Meskipun jumlah penumpang meningkat, rata-rata kilometer yang ditempuh oleh penumpang mengalami sedikit penurunan. "Rata-rata kilometer penumpang yang berangkat dari Stasiun Kereta Api Tanjung Karang Lampung pada September yakni sepanjang 134,79 kilometer, atau turun 2,69 persen dibanding Agustus 2025 yang rata-ratanya sepanjang 138,51 kilometer," kata Sabiel.
Penurunan rata-rata jarak tempuh ini bisa jadi mengindikasikan peningkatan perjalanan jarak pendek. Hal ini mungkin disebabkan oleh bertambahnya frekuensi perjalanan komuter atau perjalanan antar kota yang lebih dekat. Namun, secara keseluruhan, kereta api tetap menjadi pilihan utama.
Perbandingan dengan Moda Transportasi Lain di Lampung
Selain data Penumpang Kereta Api Lampung, BPS juga merilis statistik untuk moda transportasi lainnya. Angkutan laut, khususnya kapal feri yang berangkat melalui Pelabuhan Penyeberangan Bakauheni, mencatat 43.849 penumpang pada September 2025. Jumlah ini naik tipis 0,70 persen dari 43.544 orang pada Agustus 2025.
Berbeda dengan kereta api dan feri, sektor transportasi udara justru mengalami penurunan. Penumpang pengguna pesawat yang berangkat dari Bandara Radin Inten II pada September 2025 mencapai 48.518 orang. Angka ini turun 8,96 persen jika dibandingkan Agustus 2025 dengan jumlah 53.293 orang.
Penurunan juga terlihat pada penumpang pesawat udara yang datang di Bandara Radin Inten II. "Penumpang pesawat udara yang datang di Bandara Radin Inten II pada September 2025 sebanyak 47.128 orang, mengalami penurunan sebesar 11,47 persen dibandingkan dengan Agustus 2025 sebanyak 53.236 orang," tambah Sabiel. Perbedaan tren ini menunjukkan dinamika preferensi masyarakat Lampung terhadap berbagai pilihan transportasi.
Aktivitas Angkutan Barang di Pelabuhan Panjang
Selain data penumpang, BPS Provinsi Lampung turut mencatat aktivitas angkutan barang yang signifikan. Barang yang dimuat melalui Pelabuhan Panjang pada September 2025 tercatat sebanyak 2.892.292 ton. Angka ini menunjukkan kenaikan 4,28 persen dibandingkan Agustus 2025 yang sebesar 2.773.603 ton.
Kenaikan ini mengindikasikan peningkatan aktivitas ekonomi dan perdagangan di wilayah Lampung. Volume barang yang dimuat yang terus bertumbuh mencerminkan pergerakan komoditas yang aktif. Pelabuhan Panjang memegang peran vital dalam distribusi logistik regional.
Sementara itu, barang yang dibongkar di Pelabuhan Panjang pada September 2025 mencapai 1.012.398 ton. "Selanjutnya untuk barang yang dibongkar di September 2025 ada sebanyak 1.012.398 ton, ini juga mengalami peningkatan sebesar 0,89 persen dibandingkan Agustus 2025 sebanyak 1.003.509 ton," ucap Sabiel. Data ini melengkapi gambaran menyeluruh tentang geliat transportasi dan logistik di Provinsi Lampung.
Sumber: AntaraNews