Inflasi Lampung November 2025 Capai 1,14 Persen, Lebih Rendah dari Tahun Sebelumnya

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Inflasi Lampung November 2025 sebesar 1,14%, lebih rendah dari periode sebelumnya. Simak rincian komoditas pemicu dan penahan laju inflasi.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Inflasi Lampung November 2025 Capai 1,14 Persen, Lebih Rendah dari Tahun Sebelumnya
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Inflasi Lampung November 2025 sebesar 1,14%, lebih rendah dari periode sebelumnya. Simak rincian komoditas pemicu dan penahan laju inflasi. (AntaraNews)

Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Lampung merilis data inflasi tahunan untuk November 2025. Angka inflasi tercatat sebesar 1,14 persen, menunjukkan penurunan signifikan dari periode yang sama tahun sebelumnya.

Penurunan ini menandai kondisi ekonomi yang lebih stabil dibandingkan dengan inflasi 1,5 persen pada November 2024. Data ini disampaikan oleh Statistisi BPS Provinsi Lampung, M Sabiel, dalam rilis resmi statistik.

Sabiel menjelaskan bahwa angka inflasi ini juga lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya di tahun 2025. Informasi ini penting untuk memahami dinamika harga barang dan jasa di wilayah Lampung.

Berdasarkan analisis BPS, inflasi tahunan di Lampung pada November 2025 menunjukkan pola yang menarik. Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya menjadi penyumbang inflasi tertinggi, mencapai 8,37 persen.

Sementara itu, kelompok pengeluaran makanan, minuman, dan tembakau memiliki andil inflasi yang cukup besar. Kelompok ini menyumbang andil sebesar 1,31 persen terhadap inflasi keseluruhan di Lampung.

"Inflasi dari tahun ke tahun di Provinsi Lampung di November sebesar 1,14 persen, atau lebih rendah jika dibandingkan bulan sebelumnya, dan lebih rendah jika dibandingkan bulan yang sama di 2024," ujar Statistisi BPS Provinsi Lampung M Sabiel dalam kegiatan rilis berita resmi statistik secara daring di Bandarlampung, Senin.

Komoditas yang paling dominan dalam mendorong inflasi tahunan adalah emas perhiasan dengan andil 0,49 persen. Cabai merah juga memberikan kontribusi signifikan sebesar 0,45 persen, diikuti bawang merah 0,25 persen.

"Dan untuk andil beberapa komoditas terhadap inflasi pada November meliputi, untuk komoditas yang memberi andil inflasi tertinggi, adalah emas perhiasan sebesar 0,49 persen, cabai merah 0,45 persen, bawang merah 0,25 persen, beras 0,13 persen, dan daging ayam ras 0,09 persen," katanya. Selain itu, beras menyumbang 0,13 persen dan daging ayam ras 0,09 persen terhadap total inflasi. Data ini memberikan gambaran jelas mengenai sektor-sektor yang paling mempengaruhi kenaikan harga.

Di sisi lain, beberapa komoditas justru berperan sebagai penahan laju inflasi tahunan di Lampung pada November 2025. Tarif sekolah menengah atas menjadi penahan terbesar dengan kontribusi 0,85 persen.

Tarif sekolah menengah pertama juga ikut menahan inflasi sebesar 0,39 persen, menunjukkan stabilitas biaya pendidikan. Komoditas pangan seperti bawang putih 0,16 persen, tomat 0,11 persen, dan cumi-cumi 0,06 persen turut berkontribusi positif.

Untuk inflasi dari bulan ke bulan (month-to-month) di November 2025, angkanya tercatat sebesar 0,36 persen. Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya tetap menjadi pendorong utama dengan inflasi 1,92 persen.

"Sedangkan inflasi dari bulan ke bulan di November 2025 sebesar 0,36 persen. Inflasi berdasarkan kelompok pengeluaran yang tertinggi berasal dari kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 1,92 persen, serta andil inflasi tertinggi berasal dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau sebesar 0,19 persen," ucap dia.

Kelompok makanan, minuman, dan tembakau juga memiliki andil inflasi bulanan tertinggi, yakni 0,19 persen. Cabai merah, bawang merah, emas perhiasan, wortel, dan sampo menjadi komoditas penyumbang inflasi bulanan.

BPS juga menyoroti perbedaan tingkat inflasi antar wilayah cakupan Indeks Harga Konsumen (IHK) di Lampung. Kabupaten Mesuji mencatat inflasi tahunan tertinggi pada November 2025.

Angka inflasi di Kabupaten Mesuji mencapai 2,35 persen, menunjukkan tekanan harga yang lebih tinggi dibandingkan daerah lain. Hal ini perlu perhatian khusus dari pemerintah daerah setempat.

"Untuk inflasi antar wilayah cakupan Indeks Harga Konsumen di November 2025, daerah yang mengalami inflasi tahunan tertinggi adalah Kabupaten Mesuji sebesar 2,35 persen, dan inflasi terendah terjadi di Kota Bandarlampung sebesar 0,37 persen," tambahnya.

Sebaliknya, Kota Bandarlampung mengalami inflasi terendah di Provinsi Lampung. Inflasi tahunan di ibu kota provinsi ini hanya sebesar 0,37 persen, mencerminkan stabilitas harga yang relatif baik.

Perbedaan ini mengindikasikan adanya disparitas ekonomi dan ketersediaan pasokan antar daerah di Lampung. Pemantauan berkelanjutan diperlukan untuk menjaga stabilitas harga di seluruh wilayah.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi