Ternyata, Orang yang Kurang Tidur Bisa Rugikan Negara Rp6.530 Triliun
Dengan tidur yang lebih berkualitas akan berdampak langsung pada peningkatan energi, dan ekonomi.
Tidur merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia yang sering kali diabaikan. Menurut data dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) pada 2016, sepertiga orang dewasa tidak mendapatkan tidur yang cukup. Kondisi ini merugikan negara lebih dari USD400 miliar atau setara Rp6.530 triliun setiap tahunnya, dengan lebih dari 1,2 juta hari kerja hilang di Amerika Serikat akibat karyawan yang kelelahan, seperti dilaporkan oleh Rand Europe. Selain itu, dampak jangka panjang dari kurang tidur juga memengaruhi kesehatan otak dan tubuh.
Kesadaran yang semakin meningkat akan pentingnya tidur telah mengarah pada peningkatan minat dalam industri yang fokus untuk memperbaiki kualitas tidur. Teknologi kini menjadi solusi potensial untuk masalah tidur yang sudah lama dihadapi masyarakat.
Dilansir Forbes, selama lebih dari 50 tahun, cara manusia tidur tidak banyak berubah. Inovasi terakhir dalam dunia tidur adalah memory foam yang ditemukan pada tahun 1966. Sejak itu, meskipun industri kasur global diperkirakan mencapai USD38 miliar pada 2022, perkembangan dalam hal teknologi tidur belum signifikan. Banyak kasur yang beredar hanya menambahkan kenyamanan, tetapi tidak bisa memenuhi kebutuhan tidur yang lebih personal.
Namun, inovasi teknologi kini mulai merambah ke dunia tidur. Dengan berbagai produk terbaru, teknologi dapat membantu memecahkan masalah umum yang mengganggu tidur, seperti suhu ruangan yang tidak tepat, gangguan suara atau cahaya, serta gangguan tidur seperti sleep apnea dan insomnia. Beberapa produk bahkan dirancang untuk merangsang tidur nyenyak dan pemulihan optimal.
Teknologi tidur juga mendapat perhatian besar dari para eksekutif Silicon Valley dan pakar kesehatan. Berbagai produk yang dipamerkan di Consumer Electronics Show tahun ini menunjukkan potensi besar teknologi tidur dalam memperbaiki kualitas tidur. Dari ikat kepala SmartSleep Philips hingga sensor tidur Nokia, pasar teknologi tidur semakin berkembang pesat. Selain itu, aplikasi seperti Shleep juga menawarkan pelatihan tidur yang dapat disesuaikan untuk membantu individu tidur lebih baik setiap malam.
Meskipun teknologi tidur telah ada sejak lama, seperti yang dimulai oleh Zeo pada 2003 dengan alat yang memantau gelombang otak saat tidur, minat terhadapnya baru meningkat pesat belakangan ini. Pasar teknologi tidur diperkirakan akan mencapai lebih dari USD76 miliar pada 2019. Dengan adanya inovasi ini, tidur yang lebih berkualitas akan berdampak langsung pada peningkatan energi, produktivitas, kesehatan, dan kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan.
Para ahli sepakat bahwa teknologi tidur bisa menjadi langkah besar berikutnya dalam meningkatkan kualitas hidup manusia. Tidur yang baik bukan hanya penting untuk kesehatan fisik, tetapi juga untuk kinerja kerja dan kualitas hidup. Teknologi tidur, yang semakin berkembang, akan memainkan peran utama dalam masa depan kita yang lebih sehat dan produktif.