Milenial dan Gen Z Makin Merasa Kuliah Menjadi Percuma di Masa Depan
Banyak lulusan mulai meragukan apa yang akan mereka dapat dari gelar yang mereka peroleh.
Selama bertahun-tahun, perguruan tinggi dipromosikan sebagai jalan emas menuju kesuksesan. Banyak yang menganggap masa kuliah sebagai "empat tahun terbaik dalam hidup" sebuah fase penuh harapan, penemuan diri, dan janji akan masa depan cerah. Namun, realitas kini berbicara lain.
Survei terbaru dari Indeed menunjukkan bahwa lebih dari sepertiga lulusan perguruan tinggi di Amerika Serikat kini menganggap gelar mereka sebagai "pemborosan uang".
Penyesalan ini terasa paling kuat di kalangan Generasi Z, dengan 51% dari mereka menyatakan kecewa atas investasi waktu dan uang yang telah mereka tanamkan.
Generasi milenial tidak jauh berbeda, dengan 41% berbagi pandangan serupa, sementara hanya 20% dari baby boomer yang merasa demikian.
Angka-angka ini mencerminkan perubahan sikap besar terhadap pendidikan tinggi. Dalam wawancara dengan Fortune, Kyle MK, pakar tren karier dari Indeed, menjelaskan bahwa banyak lulusan mulai meragukan imbal hasil (ROI) dari gelar yang mereka peroleh. Ini tidak mengejutkan, mengingat biaya kuliah yang melonjak dua kali lipat dalam dua dekade terakhir mencapai rata-rata lebih dari USD38.000 sementara utang pinjaman mahasiswa di AS kini mendekati USD2 triliun.
Tak hanya soal angka, beban psikologis dan keterbatasan karier juga mulai dirasakan.
“Sebanyak 38% lulusan mengatakan bahwa pinjaman mahasiswa justru menghambat pertumbuhan karier mereka lebih dari membantu,” ujar MK.
Di tengah situasi ini, muncul pergeseran fokus—baik dari institusi pendidikan maupun dunia kerja. Alih-alih memprioritaskan gelar, banyak perusahaan kini lebih mengutamakan keterampilan praktis. Bahkan, 52% lowongan kerja di platform Indeed tidak lagi mencantumkan persyaratan pendidikan formal.
Namun, kenyataan ini tidak selalu disadari sejak awal oleh para lulusan muda. Saat ini, sekitar 4,3 juta anak muda dari Generasi Z di AS tergolong sebagai “NEET” (Not in Education, Employment, or Training) tanpa kejelasan arah karier.
Nilai Sebuah Gelar
Meski gelombang keraguan terhadap nilai gelar terus menguat, sejumlah pakar pendidikan meminta publik untuk tidak menilai pendidikan tinggi hanya dari aspek kuantitatif.
Christine Cruzvergara, Chief Education Strategy Officer di Handshake, mengatakan bahwa gelar sarjana memberikan lebih dari sekadar peluang kerja pertama.
“Pendidikan tinggi memberi ruang untuk menemukan jati diri, membangun jaringan, serta mengembangkan kepemimpinan dan manajemen diri,” katanya.
Ia menambahkan, universitas sering gagal menyampaikan bahwa mereka bukan hanya tempat belajar, tetapi juga ruang bertemu dengan orang-orang yang satu visi.
Kisah sukses Mark Zuckerberg menjadi contoh nyata: ia memang keluar dari Harvard untuk membangun Facebook, namun pertemuan dengan para co-founder-nya terjadi di kampus.
Meski hampir 70% lulusan muda merasa mereka bisa bekerja tanpa gelar, jaringan dan pengalaman yang mereka bangun di universitas kerap menjadi kunci pembuka peluang besar di masa depan.
Ketika AI Hadir
Tekanan terhadap nilai gelar semakin tinggi dengan kehadiran kecerdasan buatan (AI) di hampir setiap lini pekerjaan. Sekitar 30% lulusan kini merasa bahwa AI telah membuat gelar mereka kurang relevan. Di kalangan Gen Z, angka ini melonjak hingga 45%.
Namun, tidak semua harapan sirna. Kyle MK menekankan bahwa AI lebih bersifat sebagai “penguat” daripada ancaman. “AI tidak akan menggantikan pendidikan yang solid, tapi akan memberikan keunggulan bagi mereka yang terus memperbarui keterampilannya,” ujarnya.
Bidang-bidang seperti pemrograman dasar, analisis data, dan produksi konten sederhana memang rawan tergantikan AI. Namun, profesi seperti keperawatan, manajemen proyek tingkat lanjut, dan strategi kreatif tetap memerlukan sentuhan manusia.
Di tengah ketidakpastian ini, satu hal menjadi jelas: gelar saja tidak cukup. Yang dibutuhkan adalah pembelajaran seumur hidup, adaptasi, dan kemauan untuk tumbuh seiring perubahan zaman.