Gen Z Punya Cara Berbeda Kembangkan Diri, Gadget Jadi Pertimbangan
Tren self-development Gen Z berubah. Mayoritas kini belajar lewat smartphone dan konten digital seperti TikTok dan podcast.
Perkembangan teknologi digital telah mengubah cara generasi muda Indonesia dalam mengembangkan diri.
Jika sebelumnya self-development identik dengan buku atau kelas formal, kini tren tersebut bergeser ke arah yang lebih fleksibel dan berbasis digital.
Laporan Jakpat 2025 mencatat, sebanyak 87 persen Gen Z dan Millennials di Indonesia tertarik melakukan pengembangan diri.
Tujuannya beragam, mulai dari menambah pengetahuan, meningkatkan kepercayaan diri, hingga membuka peluang karier baru.
Yang menarik, cara belajar mereka juga berubah signifikan. Sekitar 7 dari 10 Gen Z kini mempelajari hal baru melalui media digital, dengan smartphone sebagai perangkat utama.
Platform seperti TikTok, YouTube, dan podcast menjadi sumber belajar alternatif yang semakin populer.
Fenomena ini menandai pergeseran besar dalam pola pembelajaran. Informasi kini hadir dalam format singkat, visual, dan mudah diakses kapan saja.
Konten edukatif berdurasi pendek bahkan mampu menjadi “kelas mini” yang efektif untuk memahami berbagai topik, mulai dari digital marketing hingga pengembangan karier.
Gaya belajar ini membuat proses self-development menjadi lebih fleksibel dan personal. Anak muda dapat memilih materi sesuai minat dan kebutuhan, tanpa terikat waktu atau tempat.
Podcast inspiratif, misalnya, kini banyak dimanfaatkan sebagai sarana belajar sambil beraktivitas.
Gadget Punya Peran
Di tengah perubahan ini, smartphone memegang peran penting sebagai pusat aktivitas pengembangan diri.
Perangkat ini tidak lagi sekadar alat komunikasi, melainkan menjadi “learning hub” yang mendukung berbagai aktivitas, mulai dari belajar online, membaca e-book, hingga membuat konten.
Kebutuhan akan perangkat yang andal pun semakin meningkat. Daya tahan baterai, kapasitas penyimpanan, dan performa menjadi faktor krusial untuk menunjang aktivitas belajar yang semakin intens dan multitasking.
Menjawab kebutuhan tersebut, perangkat seperti REDMI 15 hadir dengan baterai besar 7.000 mAh yang mendukung aktivitas sepanjang hari. Dukungan pengisian cepat 33W serta fitur reverse charging menambah fleksibilitas dalam penggunaan.
“Generasi muda Indonesia tumbuh di tengah perubahan yang cepat dan dinamis, dengan semangat untuk terus belajar, beradaptasi, dan berkembang,” ujar Andi Renreng, Marketing Director Xiaomi Indonesia.
Selain itu, kapasitas RAM hingga 16GB (dengan ekspansi) dan penyimpanan hingga 256GB memungkinkan pengguna menjalankan berbagai aplikasi secara bersamaan tanpa hambatan. Layar 6,9 inci dengan refresh rate 144Hz juga memberikan pengalaman visual yang lebih nyaman.
Meski akses belajar semakin mudah, tantangan tetap ada. Banyaknya konten membuat pengguna perlu lebih selektif, sementara distraksi digital juga menjadi hal yang tidak bisa dihindari.
“Melalui REDMI 15, kami ingin menghadirkan perangkat yang tidak hanya tangguh dengan baterai besar, tetapi juga menjadi partner produktivitas yang mendukung mereka mengekspresikan potensi terbaik dari belajar, bekerja, hingga berkarya,” tambah Andi.
Namun demikian, tren ini menunjukkan bahwa generasi muda semakin adaptif dalam memanfaatkan teknologi untuk berkembang. Dengan perangkat yang tepat dan pola belajar yang konsisten, peluang untuk terus tumbuh kini semakin terbuka luas.