Prabowo Generasi Muda: Dulu Belajar 4 Jam Lewat Buku, Kini Ada YouTube dan ChatGPT, Enak Sekali Kalian!
Presiden Prabowo Subianto menyoroti keberuntungan **generasi muda** dengan teknologi seperti YouTube dan ChatGPT, namun mengingatkan bahaya penyalahgunaan AI.
Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, baru-baru ini menyoroti perbedaan signifikan dalam metode belajar antara generasinya dan **generasi muda** saat ini. Dalam sebuah acara di Bandung, ia menyatakan bahwa kemajuan teknologi telah membawa kemudahan luar biasa bagi para pelajar.
Prabowo membandingkan masa belajarnya yang menghabiskan waktu berjam-jam untuk membaca buku dengan era sekarang yang didukung oleh internet, YouTube, dan kecerdasan buatan (AI) seperti ChatGPT. Ia mengakui bahwa alat-alat modern ini sangat memudahkan akses informasi dan pembelajaran.
Meski demikian, Presiden Prabowo juga menyampaikan peringatan keras mengenai potensi penyalahgunaan teknologi. Menurutnya, meskipun teknologi membantu, ia juga dapat menjadi sarana penipuan dan penyebaran kebohongan yang cepat, termasuk melalui manipulasi AI.
Kemudahan Belajar di Era Digital: Dulu Buku, Kini AI
Presiden Prabowo Subianto mengungkapkan bahwa hingga kini ia masih meluangkan waktu dua hingga empat jam setiap hari untuk membaca dan belajar. Kebiasaan ini telah ia jalani sejak lama, jauh sebelum era digital berkembang pesat seperti sekarang.
Dalam sambutannya pada sidang senat terbuka wisuda 521 sarjana UKRI di Trans Convention Centre, Kota Bandung, Jawa Barat, Prabowo membandingkan metode belajarnya dengan fasilitas yang dinikmati **generasi muda** saat ini. Ia menyoroti keberadaan YouTube, internet, dan ChatGPT sebagai alat pembelajaran yang revolusioner.
“Saya sampai sekarang masih mungkin 2, 3, 4 jam tiap hari saya belajar tiap hari boleh tanya ajudan saya, staf saya. Saya tidur jam berapa? Malam, dua jam paling sedikit saya baca,” ujar Prabowo. Ia menambahkan, “Sekarang ada alat yang luar biasa untuk anak-anak muda. Sekarang ada YouTube, ada internet ya, zaman saya dulu enggak ada ChatGPT, enak sekali kalian ya.”
Pernyataan ini menunjukkan apresiasinya terhadap kemudahan akses pengetahuan yang kini tersedia, sekaligus refleksi atas perubahan drastis dalam lanskap pendidikan dan informasi.
Waspada Manipulasi dan Hoaks di Tengah Kemajuan Teknologi
Di balik kemudahan yang ditawarkan teknologi, Presiden Prabowo Subianto mengingatkan akan sisi gelapnya. Ia menekankan bahwa teknologi, termasuk AI, bisa menjadi pedang bermata dua yang berpotensi disalahgunakan untuk tujuan negatif.
Prabowo mencontohkan berbagai bentuk manipulasi digital yang pernah menimpa dirinya. Mulai dari video yang menampilkan seolah-olah dirinya pandai bernyanyi hingga rekaman pidato palsu dalam berbagai bahasa asing seperti Mandarin dan Arab, semua ini menunjukkan betapa mudahnya konten direkayasa.
Selain itu, ia juga menyinggung praktik manipulasi informasi di ruang publik, seperti penggunaan foto atau video lama untuk memperbesar jumlah peserta aksi. Hal ini membuktikan bahwa tidak semua yang beredar di media sosial atau internet adalah kebenaran.
“Teknologi bisa bantu kita luar biasa dan kita tidak boleh takut teknologi, tapi teknologi pun harus kita waspadai, rakyat harus dikasih tahu tidak semua yang ada di YouTube, di sosmed itu benar dan baik,” tegas Prabowo, menekankan pentingnya kewaspadaan dan literasi digital di kalangan masyarakat.
Pentingnya Literasi Digital dan Peran Masyarakat
Peringatan dari Presiden Prabowo Subianto ini menggarisbawahi urgensi literasi digital bagi seluruh lapisan masyarakat, terutama **generasi muda** yang sangat akrab dengan teknologi. Kemampuan untuk memilah informasi yang benar dari yang palsu menjadi krusial di era banjir informasi ini.
Masyarakat perlu memahami bahwa kemudahan akses informasi juga diiringi dengan risiko penyebaran hoaks dan disinformasi yang cepat. Oleh karena itu, sikap kritis dan verifikasi informasi sebelum mempercayai atau menyebarkannya adalah hal yang sangat penting.
Dalam acara tersebut, Presiden Prabowo didampingi oleh sejumlah pejabat negara, yang menunjukkan dukungan terhadap pesan penting ini:
- Menteri Luar Negeri Sugiono
- Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian
- Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad
- Menteri Kebudayaan Fadli Zon
- Kepala Badan Gizi Nasional Dadan Hindayana
- Utusan Khusus Presiden Bidang Pembinaan Generasi Muda dan Pekerja Seni Raffi Ahmad
- Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Stella Christie
- Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi
- Wali Kota Bandung Muhammad Farhan
Kehadiran para pejabat ini menegaskan komitmen pemerintah untuk terus mendorong pemanfaatan teknologi secara positif, sekaligus meningkatkan kesadaran akan bahaya penyalahgunaannya.
Sumber: AntaraNews