Profesi Ini Dulunya Bergengsi dan Bergaji Besar, Sekarang Rawan PHK
Dulu menjadi seseorang di profesi ini sangatlah didamba-dambakan. Gajinya besar. Namun zaman berubah. Justru disebut-sebut rawan PHK.
Tren adopsi kecerdasan buatan (AI) bukan hanya mengancam pekerjaan berupah rendah, tetapi juga profesi bergaji tinggi. Berbagai studi dan laporan terbaru menunjukkan bahwa tugas-tugas rutin di bidang hukum, akuntansi, kedokteran, hingga keuangan kini semakin mudah diotomatisasi, memaksa para profesional untuk beradaptasi agar tidak tergeser.
Beberapa waktu yang lalu, CEO Amazon Andy Jassy pernah mengumumkan kemungkinan akan ada PHK di masa mendatang. Penyebabnya adalah perusahaan terus menerapkan AI dalam operasinya. Misalnya saja, pekerjaan yang berkaitan dengan entri dan pemrosesan data, telemarketing, layanan pelanggan, penjadwalan, dan jalur perakitan manufaktur.
Bahkan, Jassy mengatakan bahwa ia juga berencana untuk mengurangi pekerja korporat perusahaan selama beberapa tahun ke depan. Ini karena AI akan membuat peran tertentu menjadi tak relevan dikerjakan manusia.
Sebagian firma-firma hukum internasional pun merasa demikian. Misalnya, mereka mulai memanfaatkan AI seperti Harvey, Casetext, hingga Lexis+ AI untuk riset yuridis, membuat draf kontrak, dan menulis memo hukum. Harvard Law School dalam laporannya menyebutkan bahwa teknologi ini dapat memangkas waktu kerja hingga 100 kali lipat untuk dokumen standar.
Di sektor akuntansi, perusahaan global seperti Deloitte, EY, hingga PwC menerapkan AI untuk audit otomatis. Moss Adams dalam surveinya mencatat 69 persen akuntan menilai AI berdampak positif bagi produktivitas. Namun, politisi Inggris sempat mengingatkan bahwa profesi akuntan termasuk yang paling rentan tergantikan oleh AI, terutama pada jenjang pekerjaan junior.
Ancaman serupa muncul di layanan keuangan. Platform robo-advisor seperti Betterment dan Wealthfront mempopulerkan manajemen investasi otomatis dengan biaya rendah. Bank-bank besar pun mengintegrasikan AI untuk analisis risiko dan saran investasi personal. Akibatnya, permintaan untuk penasihat keuangan konvensional diprediksi menurun, kecuali untuk klien dengan kebutuhan kompleks.
Di bidang medis, AI juga mengubah praktik radiologi dan patologi. Model AI seperti Google Health, IBM Watson Health, dan berbagai sistem nasional sudah digunakan untuk membaca citra X-ray, CT-scan, dan slide patologi dengan akurasi tinggi. Meski belum sepenuhnya menggantikan dokter, AI kini mengambil alih tahap skrining awal, membuat volume pembacaan citra. Ini merupakan sumber pendapatan besar yang berpotensi berkurang bagi dokter spesialis.
Business Insider pada Juni 2025 melaporkan penggunaan AI generatif untuk penulisan laporan medis semakin umum, meski tanggung jawab akhir tetap di tangan manusia. Hal serupa terjadi pada profesi analis data, dengan platform seperti Tableau AI dan Looker yang mempermudah analisis data rutin, memaksa analis untuk meningkatkan keahlian ke level strategis.
Tak ketinggalan, sektor teknologi sendiri terdampak. Engineer perangkat lunak kini banyak menggunakan asisten AI seperti GitHub Copilot atau ChatGPT untuk menulis kode boilerplate. Meski membantu produktivitas, perusahaan teknologi mengakui potensi pengurangan kebutuhan untuk programmer junior.
Sebuah studi PNAS Nexus menegaskan bahwa pekerja di bidang analitis non-rutin — termasuk hukum, keuangan, manajemen menengah — justru memiliki paparan tinggi terhadap otomatisasi AI. Model prediktif AI saat ini bukan hanya mengeksekusi perintah, tetapi juga mampu membuat keputusan berbasis data, membuat lapisan pekerjaan menengah kian rentan.
Para ahli menekankan bahwa alih-alih menghilangkan profesi sepenuhnya, AI lebih mungkin mendorong transformasi. Profesional perlu meningkatkan keahlian di bidang yang sulit diotomatisasi seperti komunikasi, kreativitas, empati, dan pengambilan keputusan strategis.
Dengan perkembangan pesat teknologi AI generatif, berbagai sektor didorong untuk beradaptasi. Sementara itu, pemerintah dan lembaga pendidikan menghadapi tantangan mendesak untuk mempersiapkan tenaga kerja menghadapi era di mana AI bukan lagi sekadar opsi, melainkan bagian dari proses kerja sehari-hari.