Menepi dari Medsos: Cerita Mereka yang Memilih Diam Demi Kesehatan Mental
Banyak orang kelelahan imbas bermedia sosial yang semakin tidak nyaman.
Di balik layar ponsel, di balik senyum digital yang kita unggah, ada kelelahan yang tak semua orang tahu. Inilah kisah mereka yang memilih diam dan menepi dari dunia media sosial bukan karena kalah, tapi karena ingin kembali utuh.
Liana (32) sudah tak lagi aktif di Instagram sejak dua tahun lalu. Ia bukan orang yang anti teknologi, bukan pula yang tak suka berbagi. Justru sebaliknya, pekerja swasta di bidang media dan komunikasi ini kerap diundang ke acara konser dan peluncuran brand besar. Tapi setiap kali ia membagikan momen itu di story, selalu ada hal yang membuat dadanya sesak.
"Deactivate karena dia sindir-sindir kehidupan gue di grup kantor," ceritanya lirih. Masih sangat membekas di pikirannya kejadian dia dimarahin habis-habisan karena kesalahpahaman dari sebuah story.
"Gue sampai mual karena kejadian yang bikin muak banget sama story".
Sindiran itu datang dari atasannya sendiri yang sering menilai unggahan Liana tanpa memahami konteks sebenarnya. Lama-lama, komentar itu menyusup ke pikirannya, membuat setiap unggahan terasa seperti membuka celah untuk dihakimi.
Padahal media sosial dulu adalah tempatnya bersenang-senang. Kini, ia hanya merasa terjebak. Liana sempat mencoba fitur “Close Friends”, tapi nyatanya, rasa aman tetap tak hadir. “Close friend pun enggak bisa diharapkan di sosial media,” ucapnya, getir.
Diam Demi Otak Tak Busuk
Haryanti pun mengalami hal serupa. Ia tak sepenuhnya menghilang dari dunia maya, tapi kini lebih banyak diam dan memilih uninstall aplikasi Instagram meski akunnya masih ada.
"Jujur, sebenarnya pengen gak punya medsos," tuturnya. “Cuma kadang butuh juga buat nyari berita atau resep masakan.”
Baginya, media sosial mulai terasa seperti jebakan waktu. Satu swipe membawa ke video lucu, satu klik membawa ke postingan hidup orang lain yang tampak sempurna, dan tanpa sadar, berjam-jam waktunya hilang.
Ia mulai merasakan efeknya di tubuh dan pikiran. Fokus mudah pecah, buku-buku yang dulu disayang kini hanya menumpuk. Sampai akhirnya ia berani berkata cukup.
“Khawatir kebanyakan main medsos bikin (brain rot) otak cepat membusuk. Sekarang kalau nggak buka medsos, bisa tamat satu buku di bawah 100 halaman sehari,” ujarnya.
Ajang pamer pencapaian hidup pun bukan menjadi alasan bagi Haryanti menepi dari kehidupan di media sosial.
"Membandingkan diri dengan orang lain bikin capek dan jadinya kita lupa bersyukur," ucapnya.
Dunia Maya yang Makin Bising
Fenomena seperti ini tak hanya terjadi pada dua orang. Menurut Firman Kurniawan, pengamat komunikasi digital dari Universitas Indonesia, semakin banyak orang terutama generasi muda yang memilih menonaktifkan media sosial mereka.
Dia mengungkapkan belakangan ini banyak masyarakat, khususnya generasi milenial dan generasi Z, memilih untuk menonaktifkan akun media sosial mereka. Langkah ini diambil sebagai upaya untuk menjauh dari kegaduhan yang kerap terjadi di ruang digital.
"Sejak tahun 2022, itu artinya sudah sejak tiga tahun yang lalu, banyak pesohor, artis, selebritas itu menonaktifkan media sosialnya," ujar Firman.
Pemicunya cukup beragam, namun meningkatnya dinamika politik dalam negeri menjadi pendorong utama tren non aktif bersosial media.
Menurut Firman, media sosial seperti X (dulu Twitter) dan TikTok sering menjadi arena pertikaian antar pandangan politik yang berbeda. Hal ini menimbulkan ketidaknyamanan bagi banyak pengguna.
Firman menjelaskan ruang digital yang awalnya digunakan untuk mencari informasi, hiburan, atau membangun relasi, kini berubah menjadi tempat pertengkaran. Bahkan, jika seseorang tidak ikut terlibat langsung, mereka tetap akan menjadi saksi dari konflik yang terjadi di dalamnya.
Selain itu, menyatakan konten pamer kekayaan atau flexing bukan menjadi alasan utama masyarakat merasa jenuh terhadap media sosial, meskipun tetap memberi kontribusi terhadap kejenuhan tersebut.
"Bisa saja kalau pertanyaannya bisa, tapi yang terutama memicu adalah konten-konten politik. Nah itu tadi itu terutama ya yang memacu deaktivasi, tapi bahwa flexing, pamer kekayaan, pamer kehidupan yang sempurna itu memang menjenuhkan. Itu banyak menjadi alasan juga," jelasnya.
Jaga Kewarasan
Firman menegaskan keputusan untuk menonaktifkan media sosial ini seringkali dilakukan demi menjaga kewarasan diri. Dia mencontohkan sebuah kejadian yang dialami penulis Dewi Lestari.
Firman menceritakan bahwa beberapa waktu lalu ia melihat penulis Dewi Lestari membuat sebuah unggahan. Dalam unggahan tersebut, ada seseorang yang membuka percakapan dengan menyampaikan kekaguman terhadap karya-karya Dewi Lestari, yang menunjukkan bahwa orang tersebut sebenarnya mengetahui bahwa Dewi telah menerbitkan beberapa buku. Namun, percakapan itu kemudian diakhiri dengan pertanyaan apakah Dewi memiliki rencana untuk menerbitkan buku.
Menurut Firman, pernyataan awal dan akhir dalam percakapan tersebut tidak selaras, sehingga membuat Dewi merasa heran karena dinilai tidak konsisten.
Sayangnya, tanggapan Dewi terhadap percakapan itu justru menuai cacian dari warganet. Ia dianggap sombong dan tidak rendah hati, bahkan dinilai seharusnya langsung menjawab saja apakah akan menerbitkan buku atau tidak, tanpa perlu mengunggahnya di media sosial.
"Tapi kemudian apa yang terjadi, beliau ini dicacimaki orang. Sebagai orang yang sombong, tidak rendah hati, ya bilang aja kalau memang nggak mau menerbitkan atau menerbitkan, bilang aja langsung, kenapa harus di posting-posting," paparnya
Menurutnya, kesalahpahaman semacam ini sering terjadi di media sosial, dan berujung pada ketidaknyamanan.
Terkait tren ke depannya, Firman memperkirakan akan semakin banyak orang yang beralih ke platform media sosial yang lebih sehat, konstruktif, dan ramah. Misalnya aplikasi Threads yang kini terlihat seperti harapan baru bagi mereka yang memilih ketenangan dalam bermedia sosial.
"Ini misalnya, hari ini Threads misalnya, itu menjadi harapan karena konten-kontennya masih berisi cerita-cerita yang sehari-hari, tidak ada cacimaki, tidak ada mengurusi hidup orang lain. Nah itu orang banyak yang masuk ke situ. Meninggalkan X, Twitter, pindah ke Threads," ujarnya.
Lebih lanjut, meskipun tren ini kerap terjadi, Firman menilai hal ini tidak menandakan kemunduran dalam penggunaan media sosial. "Mundur, enggak. Pindah, iya. Seperti itu," tutupnya.