Sulitnya Melepas Candu Media Sosial
Media sosial benar-benar memikat penggunanya. Sulit untuk dilepas dan membebaskan diri dari belenggunya.
Januari 2025 tiba-tiba media sosial dibuat gaduh, terutama platform yang berjejaring dengan Meta. Gara-garanya keputusan mereka yang menanggalkan tim cek fakta profesional di seluruh platformnya, termasuk Facebook, Instagram, dan Threads.
Alih-alih memperkuat akurasi informasi, Meta justru menggantinya dengan sistem mirip Community Notes. Pendekatan berbasis crowdsourcing yang lebih longgar dan belum terbukti efektif dalam menahan laju misinformasi.
Dalam hitungan hari, pencarian terkait “cara menghapus Facebook” dan “cara menghapus Instagram” melonjak tajam di Google Trends. Bahkan menurut laporan TechCrunch, lonjakannya mencapai status breakout, yakni kenaikan lebih dari 5.000 persen.
CEO Meta Mark Zuckerberg pun langsung bereaksi. Ia telak menyindir orang-orang yang menghapus akun dari platform Meta hanya sedang melakukan “virtue signaling”. Virtue signaling ini, kata dia, ingin terlihat bermoral tanpa benar-benar berpengaruh alias mengikuti tren semata.
Jika benar begitu, maka muncul pertanyaan: apakah orang-orang sanggup meninggalkan media sosial?
“Enggak mungkin,” kata Pengamat Budaya dan Komunikasi Digital dari Universitas Indonesia (UI), Firman Kurniawan kepada Merdeka.com, Selasa (10/6).
Merujuk hasil survei WeAreSocial 2025 saja jumlah pengguna media sosial dari tahun ke tahun terus naik. Data terakhir menyebut pengguna media sosial di seluruh dunia mencapai 5,24 miliar. Naik sekitar 3.97 persen dari tahun 2024 yakni 5.04 miliar. Melihat dari data tersebut, sulit rasanya jika orang-orang akan berhenti meninggalkan media sosial.
Nanda Sekar Ayu (23), contohnya. Perempuan generasi Z ini mengaku sulit untuk meninggalkan media sosial. Sempat mencoba, namun tak bertahan lama.
"Kalau seterusnya kayaknya belum ya, tapi istirahat dalam beberapa waktu itu mungkin bisa," ungkapnya.
Momen istirahat dalam bermedia sosial itu, ia lakukan saat merasa lelah dan jenuh dengankonten-konten yang ada di dalamnya. Selepas itu, dia kembali haus informasi. Merasa butuh asupan demi tetap eksis bergaul.
"Setelah beberapa minggu ngerasa bosen, kayaknya perlu on media sosial lagi, perlu tahu lagi perkembangannya kayak apa," jelas Nanda.
Hal itu yang kemudian menjadi candu bagi banyak orang untuk sukar melepasnya. Terlebih, kata Firman, media sejatinya akan semakin canggih mengikuti zaman. Sehingga akan ada rasa penasaran ingin mencoba lalu susah membebaskan diri.
“Itu hukum ekologi media,” kata dia.
Ia menyontohkan telepon. Telepon bisa menjangkau jarak yang lebih jauh tanpa harus bertatap muka. Kemudian muncul teleconference. Dengan teknologi ini orang-orang bisa menikmati gambar maupun video secara langsung dari kejauhan.
“Jadi media itu termasuk media sosial, semakin lama akan semakin canggih. Orang-orang tidak akan pernah kembali ke bentuk awal,” ujar dia.
Ia pun memprediksikan di masa mendatang, bentuk dari media sosial tidak seperti sekarang. Mungkin teknologi hologram bakal menjadi rupa baru media sosial.
“Kita seakan-akan bertatap muka dengan lawan bicara, tetapi bentuknya adalah digital. Mungkin bentuk kecilnya sekarang sudah kita nikmati yang namanya metaverse. Jadi itulah yang kemudian akan menjadikan media sosial sulit untuk ditinggalkan,” ungkapnya.