Masihkah Medsos Cocok untuk Berjejaring Sosial?
Era media sosial telah bergeser bukan sekadar berjejaring saja, melainkan untuk hiburan.
Tahun 1997 disebut-sebut sebagai awal lahirnya media sosial. Namanya SixDegrees. Kala itu belum ada Facebook. Fungsinya sama. Memungkinkan pengguna membuat profil, menambahkan teman, dan menelusuri jaringan koneksi. Namun, layanan ini ditutup pada 2001 karena belum cukup pengguna internet saat itu.
Kemudian pada 2004 munculah Facebook. Media sosial besutan Mark Zuckerberg ini seketika booming. Banyak orang di seantero dunia punya akunnya. Awalnya Facebook hanyalah sebuah proyek yang diperuntukan bagi mahasiswa Harvard – kampus ternama Amerika Serikat - untuk berjejaring sosial secara digital. Lebih dari 1000 mahasiswa mendaftar dalam 24 jam pertama.
Kini fungsi utama media sosial sebagai alat berjejaring sosial digital mulai bergeser. Menjadi tempat hiburan dan jualan. Sedikit tujuan penggunanya untuk berjejaring lebih luas lagi. Fenomena ini pun diakui Mark Zuckerberg.
“Kami bukan lagi sekadar jejaring sosial personal seperti dulu,” ujarnya dikutip TheNewYorker.
Berdasarkan data internalnya menunjukkan hanya 17 persen waktu pengguna Facebook dan 7 persen waktu pengguna Instagram dihabiskan untuk melihat unggahan dari teman. Selebihnya, menikmati konten yang bersifat hiburan. Angka ini turun tajam dari dua tahun sebelumnya.
Kenyataan itu pun diamini oleh Panji (39). Pegawai swasta di Jakarta ini membuka media sosial seperti Instagram seringnya hanya untuk melihat konten hiburan. Jarang ia bertegur sapa dengan teman-temannya di platform tersebut.
“Itu pun kalau pas muncul di feed saja paling likes doang. Komentar kalau dirasa perlu saja,” ujar dia.
Menurutnya konten yang ada di media sosial lebih menarik untuk disimak. Terlebih dengan penerapan algoritma media sosial saat ini, cenderung lebih mengutamakan personalisasi. Sehingga untuk urusan ‘bersosialisasi’ via digital kurang diperhatikan.
Lain hal dengan Zuhdi (43). Diakuinya, ia masih bertegur sapa dengan teman-teman sekolahnya, meski tidak sesering dulu. Ia justru kerap membuka media sosial terutama Facebook hanya untuk melihat barang-barang yang diperjualbelikan di sana.
“Seringnya memang untuk lihat jual beli barang di Facebook,” ungkap pria asal Tegal ini.
Ada Apa dengan Media Sosial?
Pengamat budaya dan komunikasi digital dari Universitas Indonesia (UI), Firman Kurniawan menyebut fenomena yang terjadi saat ini justru lebih memperluas fungsi relasi sosial. Jika dulu hanya orang yang kita kehendaki berteman, kini gara-gara algoritma semua menjadi ‘kawan’. Tak perlu lagi mem-follow untuk bisa berhubungan sosial dengan seseorang.
“Algoritma hari ini tidak dibatasi hanya dengan berelasi dengan orang-orang yang dikenal saja. Justru fenomena sekarang tidak mengubah makna dari relasi sosial tapi makin memperluas,” ujar Firman kepada Merdeka.com, Selasa (9/6).
Hal senada disampaikan Rulli Nasrullah. Pengamat komunikasi digital dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini mengatakan konsumsi konten lebih banyak daripada berjejaring di media sosial disebabkan fenomena kehidupan. Adanya persoalan hidup yang membuat pengguna lebih menyukai konten yang relevan dengan kondisinya.
“Ini sebetulnya fenomena kehidupan saja. Karena pertama pekerjaan susah, harga-harga mahal gitu kan, terus di kantor stress, jadi larinya mencari konten hiburan. Entah sifatnya lucu, entah sifatnya musik, entah sifatnya klip film gitu atau konten dakwah,” ungkap Rulli.
Ditambah lagi, kata dia, beragamnya konten yang membanjiri di media sosial sedikit banyak memiliki kepentingan untuk bisa menghasilkan uang. Lihat saja banyak konten kreator yang bertebaran di media sosial.
“Apalagi sekarang dengan membuat konten bisa menghasilkan uang. Makanya muncul konten kreator,” terangnya.
Terlepas dari itu, Rulli sepakat bahwa pergeseran fenomena media sosial yang tak lagi berfungsi dua arah, kini semakin kompleks. Semakin memperluas fungsi relasi sosial.