Awas, Banjir Hoaks Video AI Perang Israel dan Iran Beredar di Medsos
Video deepfake hoaks AI perang Israel dan Iran makin meresahkan, terlebih beredar cepat di media sosial.
Hati-hati, gelombang hoaks berbasis AI dan video deepfake memperkeruh konflik bersenjata antara Iran dan Israel. Di tengah eskalasi serangan udara dan balasan rudal, publik dunia disuguhi banjir informasi palsu yang menyebar lewat media sosial dalam kecepatan dan skala yang belum pernah terjadi sebelumnya. Hal ini seperti dikutip dari The Hindu, Senin (23/6).
Video hasil AI yang diklaim menunjukkan kehancuran Tel Aviv dan Bandara Ben Gurion usai serangan Iran ternyata dipalsukan dengan teknologi generatif seperti Google Veo. Salah satunya bahkan diunggah oleh akun resmi Tehran Times.
Pemeriksaan oleh AFP membuktikan bahwa visual tersebut berasal dari akun TikTok pembuat konten AI, bukan dari lokasi kejadian nyata.
Hany Farid, pakar keamanan digital dari UC Berkeley, memperingatkan bahwa realisme video AI kian sulit dibedakan dari aslinya.
“Saat video hanya berdurasi delapan detik dan terlihat realistis, kita perlu jeda untuk cek fakta sebelum menyebarkannya,” ujarnya.
Farid menambahkan, kesalahan dalam membedakan fakta dan fiksi digital bisa berdampak geopolitik serius. Bukan hanya deepfake, cuplikan dari video game militer seperti Arma 3 juga digunakan untuk menyebar disinformasi.
Salah satu video yang diklaim memperlihatkan jet tempur Israel ditembak jatuh oleh Iran ternyata hanyalah rekaman simulasi. Militer Israel membantah klaim tersebut dan menyebutnya manipulatif.
Ironisnya, chatbot berbasis AI seperti Grok dari xAI juga ikut keliru mengidentifikasi video palsu sebagai rekaman nyata, menunjukkan bahwa sistem AI verifikasi pun belum sepenuhnya andal melawan manipulasi yang dibuat oleh AI lain.
Menurut perusahaan pemantau konten NewsGuard, ada 51 situs web yang terlibat dalam penyebaran hoaks sistematis seputar konflik ini.
Di antaranya termasuk narasi palsu soal penangkapan pilot Israel hingga foto kehancuran yang dihasilkan oleh AI. Beberapa situs dikaitkan dengan saluran Telegram pro-militer Iran dan media resmi Islamic Republic of Iran Broadcasting, yang kini berada dalam daftar sanksi AS.
“Target utama disinformasi ini adalah warga Iran yang hidup dalam ekosistem media tertutup,” kata peneliti NewsGuard, McKenzie Sadeghi.
Di sisi lain, Iran mengklaim juga menjadi korban, menyebut bahwa siaran TV pemerintah sempat diretas dan menayangkan seruan demonstrasi, yang dituding sebagai operasi siber Israel.
Pakar keamanan digital Ken Jon Miyachi dari BitMindAI menyatakan, runtuhnya sistem moderasi konten di platform besar seperti Facebook, Instagram, dan X turut memperburuk keadaan.
“Ini bukan hanya tentang teknologi AI yang makin kuat, tapi soal runtuhnya kepercayaan publik terhadap konten online,” ujarnya.
Miyachi mendesak adanya teknologi deteksi lebih canggih, peningkatan literasi media, dan tanggung jawab dari platform untuk membatasi penyebaran hoaks. “Jika realitas bisa dipalsukan dalam hitungan detik, maka menjaga integritas informasi adalah pertempuran paling penting yang sedang kita hadapi.”