Kisah Sedih Li Chuangye: Pengemis yang Mengidap Cerebral Palsy Sukses Jadi Dokter, Sumbangkan Tubuh untuk Kepentingan Riset
Karena tidak mendapat perawatan tepat waktu, dia harus berjalan dalam posisi jongkok seumur hidupnya.
Li Chuangye, seorang pria asal Henan, China membuktikan bahwa keterbatasan fisik bukanlah penghalang untuk meraih mimpi. Di usia 37 tahun, dia kini menjalankan sebuah klinik kecil di provinsi Yunnan, mewujudkan cita-citanya sejak lama untuk menjadi seorang dokter, meski perjalanan hidupnya penuh liku dan penderitaan.
Melansir dari South China Morning Post, Li didiagnosis menderita cerebral palsy saat masih bayi. Karena tidak mendapat perawatan tepat waktu, dia harus berjalan dalam posisi jongkok seumur hidupnya. Orang tuanya rela menghabiskan seluruh tabungan keluarga demi upaya pengobatannya, termasuk menjalani operasi yang akhirnya gagal ketika Li berusia sembilan tahun.
Merasa tidak ingin lagi menjadi beban, Li kecil memutuskan untuk pergi bersama seorang pria yang menjanjikannya pekerjaan. Namun, alih-alih diberi pekerjaan layak, dia justru dijadikan alat eksploitasi dalam praktik pengemis jalanan.
Selama tujuh tahun, dari usia sembilan hingga 16 tahun, Li dipaksa mengemis dan hanya mendapat 100 yuan atau Rp225 ribu (kurs Rp2.255) per bulan. Dia baru dibebaskan karena dianggap sudah terlalu tua untuk membangkitkan simpati publik.
Saat menyadari bahwa dia buta huruf dan bahkan tidak bisa membaca koran, Li mengambil keputusan besar. Dia akan mengubah nasibnya lewat pendidikan. Pada usia 16 tahun, dia mendaftar di kelas dua sekolah dasar dan mulai mengejar ketertinggalannya.
Ketekunannya membuahkan hasil, pada usia 25 tahun dia berhasil masuk perguruan tinggi kedokteran dan pada 2016 diterima di program studi klinis di sebuah universitas.
Mulai Proses Belajar
Dalam proses belajarnya, Li tak hanya menjadi mahasiswa biasa, dia juga menjadikan dirinya sebagai studi kasus bagi rekan-rekannya untuk memahami kondisi cerebral palsy secara nyata. Pada hari ulang tahunnya tahun 2014, dia membuat janji mulia, menyumbangkan tubuhnya untuk kepentingan riset medis setelah dia wafat.
Li lulus dari universitas pada 2019, di usia 31 tahun. Dia sempat bekerja sebagai editor di sebuah perusahaan medis yang berafiliasi dengan kampusnya, namun tak lama kemudian mengundurkan diri karena merasa tidak sesuai dengan panggilan jiwanya. Dia pun memilih meniti jalur profesi sebagai dokter, dimulai dengan magang di sebuah klinik komunitas di Henan, sambil mempersiapkan ujian lisensi medis.
Meski menyadari keterbatasannya membuatnya sulit bersaing di rumah sakit besar, Li tetap teguh menjalani peran sebagai dokter di lingkungan kecil. Dia kemudian memutuskan pindah ke provinsi Yunnan, yang dikenal beriklim nyaman sepanjang tahun, dan membuka klinik sendiri untuk melayani warga sekitar.
Tak hanya berdedikasi di bidang medis, Li juga menunjukkan semangat luar biasa di dunia petualangan. Pada 2016,d ia mendaki Lima Gunung Suci (Wuyue) serta Gunung Huang di China seorang diri. Dalam ekspedisi tersebut, dia menghabiskan enam pasang sepatu, 12 pasang celana panjang, dan 16 pasang sarung tangan selama 17 hari.
Pendakian Gunung Tai, puncak paling timur Wuyue yang memiliki ketinggian 1.545 meter, ia tuntaskan dalam waktu lima hari empat malam.
Li yang memiliki tinggi tubuh hanya 80 cm di usia dewasa mengatakan, “Saya mendaki untuk melihat dunia dari titik yang lebih tinggi.” Tekad dan keberaniannya pun menuai banyak pujian dari masyarakat.
"Musuh terbesar seseorang adalah dirinya sendiri. Kegagalan dan kesulitan adalah anak tangga di jalan kita. Teruslah maju, dan Anda akan melihat impian Anda menjadi kenyataan," ujar Li, penuh keyakinan.