Eny Nawangsih tak pernah menyangka bahwa bayi yang dikandungnya selama 9 bulan akan lahir dengan kekhususan pada tangan sebelah kanannya. Bayi yang dinamai Eifie Julian Hikmah ini sempat membuat perasaan campur aduk dalam pikiran Eny.
Dengan penghasilan sang suami sebagai tukang kayu, kekhawatiran muncul dibenak Eny. Eny sempat bertanya dalam batinnya, apakah dirinya dan suaminya mampu membesarkan putrinya dengan sebaik-baiknya?
Di tengah rasa cemas yang dirasakan Eny ini, justru dukungan keluarga mengalir. Tak perlu ada yang disalahkan, keluarga besarnya memberi dukungan.
"Putri saya ini membawa banyak hikmah di bulan Juli. Makanya diberi nama Eifie Julian Hikmah," kata Eny dalam keterangannya, Senin (4/8).
Eifie tumbuh menjadi anak yang cerdas dan ceria. Meski demikian, Eifie sempat jadi perhatian anak-anak di lingkungannya karena disabilitas daksa yang dia miliki. Kondisi ini menyebabkan keterbatasan fungsi tangan kanannya. "Tangannya putul, tangannya putul," kenang Eny, mengingat teriakan anak-anak kecil dari balik pagar saat melihat Eifie.
Meski Eifie cukup percaya diri, di momen-momen seperti itu, air matanya tetap jatuh. Eny pun harus menasehati anak-anak yang mengejek Eifie. "Setiap kali mengaji, saya tunggu di samping masjid. Anak yang mengejek saya cari, saya tegur baik-baik supaya berhenti. Yang lihat-lihat dari pagar juga saya usir," ucap Eny.
Saat akan masuk SD, Eny dihadapkan pada dua opsi: menyekolahkan Eifie di SLB atau di SD negeri dekat tempat tinggalnya. Eny pun harus berkonsultasi dengan guru Eifie tentang pilihan yang akan diambil. Saat itu sang guru menyebut tidak ada masalah dengan kemampuan akademik Eifie. Guru itu pun menyarankan agar Eifie bersekolah di SD negeri saja.
Ternyata kondisi disabilitasnya tidak menghalangi langkah akademik Eifie. Eifie mampu meraih peringkat pertama dari kelas 1 hingga 6 SD. Mentalnya tumbuh dan terus menguat seiring waktu.
Saat ditanya bagaimana dia membangun rasa percaya diri, Eifie menjawab, "Dengan keadaan seperti ini, aku masih bisa beraktivitas, berprestasi, dan belajar dengan baik. Jadi, buat apa harus dengerin omongan orang? Lebih baik percaya sama kemampuanku sendiri."
Advertisement
Eifie masih mengingat pertemuannya dengan Pak Karmani, pelatih pertamanya yang juga berjualan es krim keliling. Seperti anak-anak lain, Eifie mampir membeli jajan. Alih-alih hanya menjajakan es, Pak Karmani justru menawarinya ikut latihan.
"Ternyata sejak saya kelas 1 SD beliau sudah memperhatikan, tapi baru minta izin ke orang tua saat saya kelas 3," cerita perempuan kelahiran tahun 2006.
Bagi Eifie, dunia atletik awalnya adalah hal yang asing baginya. Satu-satunya olahraga atletik yang ia tahu hanya lari. Bahkan saat mulai latihan pun, dia hanya mengenakan sepatu sekolah seadanya. "Ibu sempat khawatir dengan biaya, tapi ternyata tidak perlu beli seragam atau bayar iuran apa pun," terang Eifie.
Selang beberapa bulan berlatih, Eifie diikutkan pada kompetisi pertamanya. Dia mendapat bantuan Rp200.000 untuk membeli sepatu paku. Namun, harga di toko ternyata jauh lebih mahal. Ayahnya kala itu hanya memiliki tabungan Rp150.000, sementara sang ibu membawa Rp19.000.
"Tunggu di sini dulu,” ujar Eifie mengenang ucapan ayahnya sebelum pergi mencari tambahan. Entah bagaimana caranya, beliau kembali membawa sisa uang yang dibutuhkan.
Sepatu paku pertama Eifie pun akhirnya terbeli. Hasilnya tak sia-sia. Di kompetisi perdananya, Eifie meraih juara kedua untuk nomor lari 200 meter pada Kejuaraan Walikota Cup Surabaya Se-Jawa Timur. Sekolah bahkan memasang banner ucapan selamat untuknya.
Sejak saat itu, Eifie semakin rajin berlatih, tiga kali seminggu di sela-sela kegiatan belajar. Dari lomba antarpelajar tingkat daerah hingga kejuaraan nasional, ia terus berlari. Tak hanya di lintasan 100, 200, atau 400 meter, ia juga menjajal lompat jauh dan tolak peluru.
Advertisement
Meski begitu, perjalanan tidak selalu mulus. Eifie mengaku, tantangan terberat bukan hanya lawan tanding, tetapi dirinya sendiri. Dia kerap merasa gugup menjelang lomba. Meski sudah pemanasan, tubuhnya bisa tiba-tiba kaku saat start. Pernah, di kejuaraan provinsi, dia kehilangan fokus dan gagal mendengar aba-aba.
"Pernah juga, sisa 50 meter, aku malah melambat. Harusnya bisa dapat perunggu, tapi tersalip, dan selisih waktunya cuma 0,0 detik. Nangis waktu itu," kenangnya.
Ujian kian berat ketika ayahnya meninggal dunia, sebulan sebelum Pekan Paralimpiade Provinsi Jawa Timur 2024. Saat itu, mentalnya belum pulih. Di ajang ini, dia tak mendapat emas. Eifie sempat khawatir gagal melangkah ke ajang nasional. Terlebih, ini merupakan impian ayahnya.
"Dulu suka marah kalau ayah telat sedikit jemputnya, padahal ayah juga capek. Sekarang aku mikir, kenapa ayah nggak nunggu sampai aku ada di titik ini," ucapnya sedikit bergetar.
Tekanan dan rasa kehilangan memberinya banyak pelajaran. Debutnya di Pekan Paralimpiade Nasional 2024 dilalui dengan susah payah. Dua nomor awal berakhir tanpa medali. "Takut nggak bawa pulang apa-apa,” ujarnya mengingat momen itu. Syukurlah, di nomor 400 meter, ia bangkit dan menyabet perunggu.
"Kompetisi di Palembang (Pekan Paralimpik Pelajar Nasional 2023) juga berkesan buatku. Ternyata aku bisa lompat jauh dan malah bawa pulang emas dari sini," katanya sambil tersenyum.
Advertisement
Sejak SMP, Eifie bertekad harus kuliah. Harapan itu tidak datang tiba-tiba, melainkan tumbuh dari cerita almarhum ayahnya yang sempat menempuh pendidikan tinggi, tetapi harus terhenti di tengah jalan karena kendala biaya. Keinginan untuk kuliah pun semakin menguat saat ayahnya berpulang. Eifie merasa perlu menuntaskan mimpi sang ayah yang tertunda. Dia ingin menunjukkan bahwa dia bisa mengenyam pendidikan tinggi, bahkan di kampus terbaik.
Bagi anak kedua dari empat bersaudara ini, orang tuanya saling melengkapi. Sang ayah merupakan sosok yang mengalir dan mendukung minat dan bakat anak-anaknya, termasuk saat Eifie mulai menekuni olahraga atletik. Sementara itu, ibunya hadir sebagai penyeimbang, yang sejak ia kecil selalu menekankan pentingnya pendidikan. Satu hal yang selalu Ibunya ingatkan, “Sekolah nomor satu. Jadilah orang pintar, tapi kalau sudah pintar, ojo minteri uwong.”
Awal ketertarikannya pada Universitas Gadjah Mada bermula secara tak sengaja. "Waktu itu lihat video PPSMB Palapa di media sosial. Aku langsung bilang mau kuliah di UGM, pakai almamater karung goni, dan nyanyi lagu PPSMB (Pionir saat ini)," kenangnya.
Sejak saat itu, impian masuk UGM menjadi salah satu target pribadinya. Namun, jalan menuju kampus impian penuh dengan rintangan. Dia sempat gagal di jalur SNBT, lalu kembali ditolak di UM UGM CBT. Ketika pengumuman PBU tiba, Eifie tidak berani membukanya.
"Sudah ketampar kalimat ‘maaf, belum diterima’ berkali-kali. Sebelum buka pengumuman, aku minta maaf ke Ibu kalau gagal lagi,” ceritanya.
Atas dorongan ibunya, dia pun membuka pengumuman. Dan kali ini, kabar baik datang. Ia diterima di Program Studi Akuntansi, Fakultas Ekonomika dan Bisnis UGM.
"Langsung peluk Ibu. Nangis banget," ucapnya haru.
Advertisement
Pilihan Akuntansi bukan asal ambil. Ketertarikannya pada pelajaran ini tumbuh sejak bersekolah di SMAN 2 Kediri, berkat cara mengajar gurunya yang menyenangkan. Bersama teman kelasnya, ia kerap berebut maju ke papan tulis untuk menjawab soal. Setelah melalui sholat istikharah dan berbagai pertimbangan, ia mantap memilih jurusan ini.
"Harapannya, nanti bisa jadi akuntan atau auditor di perusahaan yang menjanjikan atau melanjutkan karier sebagai paraatlet," harapnya.
Kini, sebagai mahasiswa UGM yang diterima melalui jalur PBUTM, Eifie bersyukur bisa berkuliah tanpa harus membebani ibunya. "Subsidi UKT 100 persen dari UGM sangat meringankan jalanku ke depan,” ucapnya penuh syukur.
Selain fokus kuliah, Eifie ingin aktif berorganisasi, ikut berbagai lomba, hingga menjajal program magang. Dengan status sebagai mahasiswa UGM, ia ingin mengoptimalkan setiap peluang yang ada sebaik-baiknya.
Eifie juga bertekad untuk tidak meninggalkan dunia atletik. Dia tetap akan berlatih tiga kali seminggu dengan meminta program latihan mandiri kepada pelatih. Dia sadar kini harus lebih pandai membagi waktu agar mimpi untuk bertanding di ajang internasional tidak berhenti sebagai angan-angan.
"Aku mau mecahin rekor pribadi dan ngalahin lawan-lawan yang selama ini susah dikalahkan," tuturnya bersemangat.
Ketika ditanya pesan untuk anak muda lainnya, Eifie menekankan pentingnya menjadi seseorang yang berpendidikan. Menurutnya, pendidikan membantu seseorang memiliki prinsip dan mampu mengambil keputusan dengan lebih bijak. Semua itu bisa dimulai dengan menggali minat dan bakat, lalu mengembangkannya dari hal-hal sederhana di sekitar.
"Nggak usah dengerin omongan orang yang menjatuhkan. Semua punya waktunya masing-masing," pungkas Eifie.