Dari Atas Kursi Roda, Penderita Celebral Palsy Menangkan Kompetisi Logo dan Desain dari Amerika

Sejak usia sekitar 2 tahun, Dika, sapaan akrabnya didiagnosa menderita celebral palsy (CP).

Yunita Amalia
Oleh Yunita Amalia - Reporter
Dari Atas Kursi Roda, Penderita Celebral Palsy Menangkan Kompetisi Logo dan Desain dari Amerika
Dari Atas Kursi Roda, Penderita Celebral Palsy Menangkan Kompetisi Logo dan Desain dari Amerika (Merdeka.com)

Itulah harapan dari Andhika Syaifuddin ketika bertekad menjadi pribadi yang mandiri. Sejak usia sekitar 2 tahun, Dika, sapaan akrabnya didiagnosa menderita celebral palsy (CP).

Mendengar diagnosa dokter itu, hati orang tua Dika runtuh. Tidak tega melihat sang anak di usia sangat kecil menderita penyakit yang membuatnya sangat bergantung terhadap kursi roda.

Dalam wawancara yang diunggah di akun YouTube Pecah Telur, Dika menceritakan orang tua Dika sangat all out. Keduanya berjuang agar Dika bisa kembali normal.

Namun, hingga memasuki usia TK hingga SD, usaha tersebut tak membuahkan hasil. 

Dia mengaku sudah merasa lelah mengonsumsi obat-obatan, jamu, hingga terapi segala macam. Air mata sang ibu pecah saat sang anak mengutarakan perasaannya.

Di satu sisi, Dika tidak ingin membebani orang tua dan keluarga, termasuk adik-adiknya.

Dia pun kemudian nekat meminta izin kepada orang tuanya untuk tinggal di Balai Rehabilitasi Terpadu Penyandang Disabilitas (BRTPD).

Orangtua Dika mengizinkan. Selama tinggal di balai rehabilitasi, Dika mengikuti berbagai aktivititas, salah satunya mengikuti kurus desain grafis.

Dok. Istimewa
Dok. Istimewa

Hingga satu hari, temannya memberi kabar ada sebuah kompetisi logo dan desain grafis. Mendengar itu, Dika terpacu untuk mengikuti kompetisi itu. 

Setiap malam, Dika 'mencuri' waktu di laboratorium komputer untuk mempelajari desain atau logo.

Sesekali, Dika ditegur petugas keamanan yang sedang berjaga, dan memintanya kembali ke asrama. Hasil belajar melalui YouTube membuahkan hasil. 

Dika keluar sebagai pemenang dalam kompetisi logo dan desain grafis yang diselenggarakan sebuah perusahaan multinasional Amerika.

merdeka.com

Namun, Dika tidak diizinkan menyebut perusahaan yang dia ikuti kompetisinya.

Capaian itu membuat Dika semakin tertantang meningkatkan kemampuannya dalam mendesain.

Dia bahkan pernah mendapatkan USD100 atau sekitar Rp1,5 juta dari Canva atas hasil karya desainnya.

Dok. Istimewa
Dok. Istimewa

Tawaran mulai mengalir deras. Hingga kemudian berbekal bakatnya dalam mendesain, Dika memiliki pendapatan tetap sekitar Rp1 hingga Rp7 juta yang rutin dia terima setiap bulan.

Rekomendasi