Dari Dosen ke Pengusaha, Ujian Rugi Rp6 Miliar yang Menguatkan Bisnis dan Rumah Tangga Prayogo
Sementara itu, gaji bulanannya sebagai dosen lebih banyak terserap untuk cicilan rumah dan kebutuhan keluarga.
Membangun usaha bersama pasangan kerap terdengar romantis. Namun di balik itu, ada dinamika yang tak sederhana. Ketika ruang kerja dan ruang keluarga menyatu, batas antara urusan profesional dan personal bisa kabur. Dalam situasi seperti itu, bukan hanya bisnis yang diuji, tetapi juga relasi suami-istri.
Hal tersebut dialami Prayogo Waluyo, yang akrab disapa Pakde. Bersama sang istri, Kak Ciwid, ia merintis Hiqween, jenama kecantikan yang fokus pada solusi flek hitam bagi ibu-ibu. Perjalanan mereka tidak dibangun dalam semalam, melainkan melalui proses panjang sejak masa kuliah, ketika keduanya memulai langkah sebagai reseller.
Setelah lulus dan berprofesi sebagai dosen, Pakde tetap menjalankan usaha sepulang mengajar. Malam hari digunakan untuk membungkus paket hingga dini hari, lalu mengantarkannya sendiri ke ekspedisi. Sementara itu, gaji bulanannya sebagai dosen lebih banyak terserap untuk cicilan rumah dan kebutuhan keluarga.
"Tapi kadang orang itu sawang-sinawang. Dikiranya jadi pebisnis itu enak. Padahal sekarang kerja bisa 24 jam, Sabtu-Minggu pun sering tetap kerja," ujarnya.
Keputusan besar diambil pada 2022 ketika ia memilih melepas karier akademiknya untuk fokus mengembangkan Hiqween. Perubahan itu membawa konsekuensi pada ritme kehidupan keluarga. Waktu bersama anak dan istri harus dibagi dengan tanggung jawab operasional bisnis yang terus bertambah.
Ujian terberat datang setahun kemudian. Pada 2023, bisnis yang tengah bertumbuh itu justru mengalami kerugian hingga hampir Rp6 miliar. Permasalahan manajemen tim dan sistem yang belum tertata optimal menjadi pelajaran mahal bagi mereka.
"Tahun 2023 itu berat. Kita diuji sampai rugi hampir 6 miliar. Tapi dari situ kami belajar, baik sebagai tim bisnis maupun sebagai suami-istri," ungkap Pakde.
Diskusi soal Strategi
Sebagai pasangan yang menjalankan usaha bersama, mereka menyadari konflik kecil mudah membesar jika komunikasi tidak dijaga. Diskusi strategi yang seharusnya berhenti di meja kerja kerap terbawa ke ruang keluarga. Fase tersebut menjadi titik refleksi mereka tak hanya membenahi sistem bisnis, tetapi juga memperbaiki pola komunikasi dalam rumah tangga.
Pengiriman 28.000 Resi per Hari
Perlahan, pembagian peran diperjelas dan sistem kerja dirapikan. Upaya itu membuahkan hasil. Hiqween kembali menunjukkan pertumbuhan signifikan, bahkan sempat mencatat pengiriman hingga 28.000 resi per hari.
Meski demikian, bagi Pakde dan istrinya, capaian bukan semata soal angka. Mereka menilai keberlanjutan bisnis sangat bergantung pada keharmonisan keluarga. Dari perjalanan jatuh bangun tersebut, Hiqween menjadi lebih dari sekadar jenama kecantikan ia menjadi ruang belajar tentang ketahanan, kolaborasi, dan keseimbangan antara ambisi dan kehidupan rumah tangga.