Advertisement
Pasutri asal Blitar, Jawa Timur, Andi Widodo dan istrinya Prima dikenal sebagai pemilik usaha kerajinan kayu terkenal di wilayahnya. Di balik kesuksesan usaha tersebut, ada perjuangan yang tak sepele.
Tak punya pengalaman berbisnis, pasutri itu nekat membuka usaha kecil-kecilan untuk menambah penghasilan. Pasalnya, gaji keduanya sebagai pegawai tidak cukup untuk hidup sehari-hari. Saat itu, pasutri tersebut memiliki kewajiban lain membiayai sekolah adiknya. Usaha pertamanya gulung tikar karena banyaknya persaingan. Pasutri itu banting setir menjadi reseller produk kerajinan tangan dari orang lain. Melihat tingginya permintaan pasar, Prima dan Andi memutuskan mulai melakukan produksi kerajinan kayu sendiri. Sejak awal, keduanya memutuskan ciri khas usahanya adalah kerajinan kayu berwarna pastel.
Advertisement
Pada tahun 2017 saat memulai usaha kerajinan tangan, Instagram belum banyak digunakan orang untuk berjualan. Prima dan Andi dengan modal ponsel memotret produknya dan mengunggah ke Instagram.
Mengutip YouTube PecahTelur, produk pertama yang diproduksi Prima adan Andi yakni lafaz Allah dan Muhammad. Tak disangka, produk kerajinan kayu itu diminati banyak orang.
Advertisement
Melihat bisnisnya punya potensi berkembang di masa depan, Andi dengan dukungan sang istri mantap resign dari bank. Ia kemudian fokus mengelola usaha kerajinan tangan.
Jika Andi resign saat kondisi usahanya masih butuh banyak perjuangan, sang istri, Prima baru memutuskan resign dari pekerjaannya sebagai dosen kampus swasta pada 2020 lalu.
Advertisement
Pasutri ini mengaku berbisnis tidak hanya untuk kepentingan pribadi. Keduanya punya prinsip entrepreneur sekaligus sociopreneur. Keduanya ingin memberdayakan lebih banyak orang terlibat dalam bisnisnya.
Advertisement
Salah satu keunikan usaha yang dijalankan Prima dan Andi adalah budaya di lingkungan kerja yang diciptakan sedemikian rupa. Setiap hari sebelum mulai kerja, para karyawan melaksanakan salat duha dan mengaji. Tak hanya itu, setiap kali azan tiba, mereka melaksanakan salat secara berjemaah.
Advertisement
Titik terendah yang dialami pasutri ini adalah pada masa awal pernikahan. Selama dua tahun, Andi dan Prima mengandalkan air minum untuk mengenyangkan perut.
(Foto: freepik)
Saat itu, Andi adalah tulang punggung keluarga. Ia harus membiayai sekolah empat adiknya. Tak hanya itu, sang istri juga tengah menempuh pendidikan magister. Selama dua tahun itu pula, Andi sering datang ke rumah mertuanya dengan pledoi mengunjungi orang tua selepas kerja. Di sanalah, ia memanfaatkan kesempatan ditawari makan oleh mertuanya.
Advertisement