Kisah Sukses Dua Bersaudara, Modal Rp300.000 Kini Raup Rp21 Miliar Setahun Berkat Usaha Ini
Namun, hidup berbelok arah ketika pada usia 16 tahun. Ia membuat keputusan impulsif dengan membeli domain atau situs web internet Repair.sg.
Zames Chew dan adiknya Amos Chew tak pernah membayangkan mereka akan berkecimpung di dunia jasa tukang. Padahal mimpinya sederhana, ia hanya ingin bekerja atau menjadi karyawan di perusahaan teknologi besar seperti Google.
Namun, hidup berbelok arah ketika pada usia 16 tahun. Ia membuat keputusan impulsif dengan membeli domain atau situs web internet Repair.sg yang dengan harga 30 dolar Singapura atau sekitar Rp300.000. Langkah kecil itu tak disangka malah mengubah hidupnya.
Sembilan tahun setelah membeli situs tersebut, bisnis blue-collar (jasa tukang) yang ia rintis bersama sang adik, Amos Chew, berkembang pesat. Perusahaan mereka yang bernama Repair.sg, merupakan platform layanan jasa tukang dan perbaikan rumah berbasis online yang kini menjadi salah satu penyedia jasa perbaikan paling dikenal di Singapura.
Pada 2024, Repair.sg mencatat pendapatan sebesar 1,7 juta dolar Singapura, atau sekitar USD 1,3 juta (Rp21 miliar) per tahun.
Awalnya, perusahan Repair.sg hanya proyek sampingan dua remaja yang hobi membongkar barang elektronik, merakit PC, hingga bermain lego. Namun pada 2016, mereka menemukan celah pasar dengan sulitnya mencari jasa tukang perbaikan Rumah secara online.
"Orang tua kami butuh tukang, tapi di internet hampir tidak ada penyedia jasa yang jelas," ujar Zames, dikutip dari CNBC.
"Jadi saya coba buat situs web dan lihat apa yang terjadi," tambahnya.
Menjelankan Bisnis Sambil Sekolah
Sejak itu, dua bersaudara tersebut mulai menjalankan bisnis sambil sekolah. Mereka bangun pagi untuk membalas pesan pelanggan, mengerjakan sendiri sebagian besar pekerjaan lapangan, dan mengelola operasional yang masih sangat manual.
Selama tujuh tahun pertama, bisnis mereka beberapa kali hampir tutup karena pengalaman yang minim. Namun, tantangan terbesar datang dari stigma. Banyak pelanggan meremehkan mereka karena usia mereka yang masih muda dan profesi mereka di sektor blue-collar (jasa tukang).
Bahkan orang tua mereka sempat mempertanyakan kelanjutan usaha tersebut. Namun Zames dan Amos memilih bertahan dengan mengambil lisensi, seperti memperbaiki kesalahan, serta berani menolak pekerjaan yang tidak sepadan.
Titik Balik Tahun 2021
Titik balik terjadi pada 2021. Keduanya memutuskan untuk berhenti kuliah dan fokus penuh membesarkan usaha mereka yang bernama Repair.sg.
Keputusan itu membuahkan hasil yang memuaskan perusahaan mereka berkembang pesat, hingga kini memiliki lebih dari 20 karyawan, dan menghasilkan pendapatan sekitar 2,3 juta dolar Singapura pada 2025.
Meski mereka sempat minder karena pekerjaannya dianggap sebelah mata, Zames kini bangga dengan pilihan hidupnya. Menurutnya, pekerjaan blue-collar (jasa tukang) justru memberinya kepuasan yang tidak pernah ia temukan dalam impiannya dengan bekerja di perusahaan teknologi besar.
"Kalau saya dipaksa duduk di kantor ber-AC lima hari seminggu, saya mungkin tidak akan merasakan kebahagiaan seperti sekarang," kata Zames.
Tren Baru Anak Muda
Ia juga melihat tren baru yang semakin banyak anak muda mulai melirik pekerjaan blue-collar (jasa tukang). Bahkan teman-temannya yang dulu bekerja di perusahaan besar kini memilih jalur serupa dan merasa lebih bahagia.
Perusahan mereka yang bernama Repair.sg menjadi bukti bahwa peluang besar bisa muncul dari kebutuhan sederhana, asal ada ketekunan, keberanian, dan kemauan untuk menantang stigma.
Reporter Magang: Ahmad Subayu