Kisah Abin Jadi Pengusaha Pempek Terlaris di Usia Muda Hanya Berawal dari Bucin
Usaha dirintis Abin tak singkat. Setelah dua bulan percobaan barulah menemukan pempek dan cuka dengan cita rasa yang disukai pelanggan.
Nasib seseorang tak ada yang tahu. Begitulah dialami Abin, pria berusia 25 tahun asal Banyuasin, Sumatera Selatan.
Selama tiga tahun tamat kuliah, Abin belum mendapatkan pekerjaan tetap. Selama itu, dia harus menjadi pekerja serabutan, dengan penghasilan tak menentu, untuk kebutuhan kehidupannya.
Abin juga tak memiliki modal untuk membuka usaha. Terlebih kedua orangtuanya sudah tiada sehingga tak ada yang mensupport niatnya.
Beruntung dia memiliki kekasih yang selalu memberinya semangat menjalani hidup. Dengan pengalaman sang kekasih kerja di Tangerang, Banten, dia pun mencoba melakoni usaha yang diusulkan pacarnya.
Bermodal nekat dan media sosial, pada Maret 2021, Abin mencoba menawarkan kerupuk buatan tetangga untuk dijual kembali. Ternyata unggahannya mendapat respons positif dari kenalannya dan memesan.
"Ya sebenarnya berawal dari bucin sih, pacar menyarankan begitu. Karena tidak ada modal, saya bikin status di WA (WhatsApp) jual kerupuk orang lain. Ternyata banyak peminatnya," ungkap Abin, Kamis (22/1).
Pesanan Meningkat
Semakin hari pesanan kerupuk semakin banyak. Dia sampai kewalahan menerima orderan dan mengirim ke pemesan.
Agar makin diminati, Abin membuat brand pada kerupuk jualannya dengan nama AA. AA itu singkatan dari namanya Abin dan kekasihnya Anisa yang belakangan menjadi istrinya.
Pada September 2021, Abin memulai usaha penjualan pempek sesuai permintaan pasar. Lagi-lagi Abin kesulitan membuat sendiri karena bukan berlatarbelakang pembuat pempek.
Abin lantas bekerjasama dengan pembuat pempek untuk memenuhi pesanan. Sayangnya, mitra tak bisa menjaga kualitas sehingga sering dikeluhkan pelanggan.
Rekrut Tetangga
Abin pun memutuskan kerja sama karena berdampak pada usaha yang baru dirintis. Dengan modal seadanya, Abin nekat menggaet beberapa tetangganya yang memiliki pengalaman memasak untuk mencoba memproduksi pempek. Setelah dua bulan percobaan barulah menemukan pempek dan cuka dengan cita rasa yang disukai pelanggan.
"Saya temukan sendiri resepnya agar pempek tidak bau dan tetap enak. Ternyata makin banyak peminat," kata dia.
Pada 2022, Abin membuka toko pempek di Palembang. Namun penjualan offline kurang diminati hingga menutup tokonya sehingga dia lebih mengoptimalkan perdagangan elektronik atau e-commerce melalui Shopee dengan username oleh-oleh Palembang.
Dari sanalah pesanan mulai makin berdatangan dari berbagai daerah di Indonesia, seperti Jabodetabek, Medan, Ambon, Maluku hingga Papua. Bahkan, pesanan juga datang dari Hongkong.
Dalam sebulan, rumah produksi Abin di Perumahan Taman Sari II, Jalan Pangeran Ayin, Kenten, Talang Kelapa, Banyuasin, Sumsel, itu mampu memproduksi 130 ribu biji pempek perbulan dengan ratusan orderan. Banyaknya pesanan membuat Abin harus menambah pekerja yang kini berjumlah delapan orang.
"Sejak menikahi pacar saya, brand pempek saya ubah jadi Abin Anisa. Alhamdulillah makin berkah, makin banyak pesanan," kata Abin.
Pesanan Meningkat saat Ramadan
Pesanan bertambah drastis saat momen-momen tertentu, semisal pesta belanja online nasional terlebih pada bulan Ramadan. Saat itu produksi pempek naik berlipat hingga 300 ribu pempek per bulan.
Untuk harga sendiri, Abin menyebut cukup bersaing dengan brand lain. Harga dipatok mulai Rp50 ribu hingga Rp99 ribu per 10-30 pieces.
Untuk menjaga pempek tidak bau selama perjalanan, pempek buatannya divakum terlebih dahulu. Dengan cara itu bisa bertahan paling tidak tujuh hari sejak pembuatan.
"Pempek kami berbahan dari ikan kakap, tenggiri papan, dan gabus. Cukanya sendiri siap santap," kata Abin.
Dengan keuletan dan pandai membaca pangsa pasar, sejak November 2025 Abin dan istrinya membuka cabang di Tangerang untuk penjualan online dan offline. Dua bulan berjalan, pelanggan makin banyak seiring pempek semakin disukai dari daerah mana pun.
"Sekarang pempek seperti bakso, yang suka bukan orang-orang asal daerah tertentu saja, tapi semua orang juga suka. Itu yang saya manfaatkan," kata dia.
Abin berharap anak-anak muda tidak ragu membuka usaha dan nantinya membuka lapangan pekerjaan bagi orang sekitar. Tak perlu banyak modal, tapi memanfaatkan kemajuan teknologi juga bisa meraih cita-cita sebagai pengusaha.
"Saya sendiri mulai usaha tidak ada modal, cuma ngandalin status WA, barang yang dijual juga punya orang. Alhamdulillah jika ditekuni akan berhasil," tutup Abin.