Jauh dari Agama, Cerita Bos Akuarium dan Ikan Hias Dulu Sukses Kini Hidup Sederhana

Kisah pengusaha akuarium pilih hidup sederhana usai bangkrut akibat terlilit riba.

Thomas
Oleh Thomas - Reporter
Jauh dari Agama, Cerita Bos Akuarium dan Ikan Hias Dulu Sukses Kini Hidup Sederhana
Jauh dari Agama, Cerita Bos Akuarium dan Ikan Hias Dulu Sukses Kini Hidup Sederhana (YouTube PecahTelur)

Seorang pengusaha akuarium asal Tulungagung bernama Slamet Maryoto membagikan kisahnya selama menjalankan bisnis. Belasan tahun menekuni bidang tersebut, berbagai tantangan telah ia rasakan sampai sukses hingga sekarang.

Slamet menceritakan betapa berat perjuangannya dahulu hingga pada waktunya mendapatkan momentum untuk mengembangkan bisnisnya.

Meski begitu, ia mengaku saat berada di atas ia justru jauh dari pedoman agama. Alhasil usahanya sempat hancur.

Kisahnya pun layak untuk diteladani dan dapat memberikan motivasi untuk siapapun. Seperti apa ulasannya? Melansir dari YouTube PecahTelur, Kamis (8/5) simak informasi berikut ini.

Slamet menuturkan kemampuan berdagangnya sudah ada sejak kecil. Mengaku berasal dari orang yang tidak mampu, ia harus berjualan untuk menambah uang jajan.

"Kelas 1-2 SD pulang sekolah beli es dijual es lilin itu loh Mas," ucapnya.

Semasa SMA, ia harus menempuh perjalanan jauh hingga ke Kabupaten Trenggalek yang berjarak 56 Km dari rumahnya di Tulungagung. Banyak rekannya kala itu tinggal di kos-kosan, namun karena masalah biaya ia harus menumpang di rumah keluarga pelayar dan tidak dipungut biaya sepeserpun.

"Ada orang pelayaran, orang Gorontalo, istrinya orang Munjungan. Setelah itu malah saya disuruh nganggon di situ ndak bayar malah diingoni Mas sampai sekarang jadi keluarga," tambahnya.

Selama SMA, Slamet tetap menjalankan rutinitasnya terhadap dagang. Bahkan ia rela mencari barang rongsok untuk dijual lagi.

"SMA itu libur 1 minggu pulang ke panggul ke Trenggalek sana ke panggulnya itu dagang rongsokan. Eh, sekolah SMA bolos seminggu golek rongsokan ke panggul tak jual baru sekolah lagi," jelasnya.

Sejumlah pekerjaan telah ia coba setelah lulus dari SMA. Slamet mengaku pernah mendaftar sekolah guru pendidikan luar biasa SGPLB di jurusan Tunarungu.

Selain itu, ia juga pernah bekerja sebagai sales di perusahaan consumer good Surabaya.

Sang Ibu merasa kasihan melihat Slamet harus bolak-balik ke luar kota untuk berjualan. Alhasil, ia ditawari oleh temannya untuk menjadi pegawai negeri di Bumi dan Bangunan lewat jalur 'orang dalam'.

"Akhirnya ketemu teman pegawai negeri di Surabaya nawarkan pekerjaan pegawai negeri."

"Ibu saya kan bilang dibantu sekolah eh malah jualan air, ngamen, malah jadi kaya gini. Mendingan jadi pegawai negeri toh," ucapnya.

Pada saat itu Slamet harus membayar uang sogokan senilai Rp5 juta. Namun sayangnya ia malah tertipu karena mendapat SK palsu.

"Nyogok ini kan kita gak tahu, gak punya ilmunya. Akhirnya saya dapat SK tapi palsu. Setelah kita dapat dikatakan mau masuk ke BB tadi, dibohongi akhirnya gak tahunya kan lari toh," tambahnya.

Slamet mulai menemukan rezekinya saat bertemu seorang langganannya semasa jadi Sales di Nganjuk. Ia ditawari untuk berbisnis akuarium oleh langganannya itu di Tulungagung. Namun di awal usahanya, ia justru kesulitan karena faktor sewa tempat.

"Waktu itu kalau nggak salah 1 bulannya Rp350.000. Di situ saya wis pokoke bertahan setahun. Bertahan setahun jual akuarium. Akhirnya saya sampai bingung," ucapnya.

Merasa sulit berkembang, ia lantas berpindah ke lokasi lain dengan biaya yang jauh lebih murah.

"Alhamdulillah itu buka di situ pertama kali hari pertama itu malah dapat uang Rp300.000 Mas padahal dagangan saya belum penuh," katanya.

Hari berikutnya, penghasilannya meningkat pesat hingga Rp600-Rp700 ribu dalam sehari. Ia pun mulai mengembangkan bisnisnya termasuk jual beli ikan lohan.

"Keluar ikan lohan tahun 2000 awal lohan waktu itu beli Rp50.000 sampai jual Rp75.000 gak laku, dijual Rp200.000 itu malah laku," sambungnya.

Dari usahanya itu, ia berhasil mempekerjakan 80 karyawan dan mampu meraup untung jutaan rupiah.

"Sampai waktu itu ramai-ramainya lohan itu karyawan saya 80 rezeki itu koy disok nih Mas. Kita dagangan waktu itu keuntungan masih bagus," jelasnya.

Slamet sadar bahwa bisnisnya berkembang pesat. Sampai pada masanya ia pernah mendapatkan keuntungan Rp3-Rp4 juta dalam sehari di awal tahun 2000-an.

Karena merasa ambisi mencari kekayaan, ia justru melupakan kewajiban agama. Meski begitu ia tetap berusaha tetap bersedekah dan memberikan bantuan dana untuk rumah ibadah.

"Lama-kelamaan ke sana kita terlalu ambisi seakan-akan dienakin dari awal tapi lupa dan jauh dari agama."

"Lupa kan mas jauh dari agama. Walaupun jauh dari agama, kalau ada tetangga bikin masjid atau butuh apa ya kita bantu. Tapi sholatnya enggak," katanya.

Ia juga pernah membantu seseorang tanpa meminta balik bantuannya. Ia meminta persaudaraan ketimbang uang.

"Waktu itu saya belum seberapa ngerti agama tapi masih punya pikiran daripada pusing susah-susah, diikhlaskan saja."

"Saya ke tempatnya beliau sampai takut. Saya nggak nagih, udah saya ikhlaskan. Sudah kita jadi saudara saja," ucapnya.

Titik balik kehidupannya terjadi saat usaha Slamet diambang kebangkrutan. Ia pernah membuat usaha kuliner karena percaya diri akan mendapat banyak keuntungan dengan cara tersebut.

"Akhirnya beli tanah memaksakan diri beli tanah bangun enggak pengalaman langsung utang bank awalnya. Ya dari situ belum paham soal bank belum paham soal larangan agama belum paham yang penting kita gagah langsung saya punya usaha lima utang bank," jelasnya.

Modalnya sempat kurang hingga akhirnya ia mendapat pinjaman lagi dari bank. Namun belakangan ia sadar bahwa caranya itu justru hanya membuatnya terlilit pinjaman.

"Pertama kali untuk bangun, gak tahunya setelah bangunan selesai modalnya kurang. Belum ada setahun utang bank itu untuk menambah modal dikasih pinjaman lagi. Akhirnya itu ya karena kita terbelit bank tadi," tambahnya.

Akhirnya ia sadar bahwa selama ini yang ia lakukan salah dan melenceng dari pedoman agama. Ia telah terlilit riba akibat utang di bank.

"Setelah mempelajari bahwa namanya riba itu memang larangan agama yang saya rasakan dapat hidayah," katanya.

Berbagai cobaan pun terus menerpanya setelah terlilit riba. Namun dari pengalaman itu, ia semakin mendekatkan diri pada Yang Kuasa dan mulai mengubah gaya hidupnya menjadi sederhana.

"Makanya namanya cobaan, malah mendekatkan diri sama yang bikin hidup kita. Kekayaan akhirnya malah bikin lupa sampai terjadi," sambungnya.

Rekomendasi