Marsiyah Salim, seorang nenek berusia 105 tahun dari Kabupaten Kediri, Jawa Timur, telah tiba di Makkah, Arab Saudi. Ia menjadi calon haji tertua dari Indonesia pada musim haji 1447 H/2026 M. Kedatangannya pada Jumat (23/5) pagi ini menandai sebuah kisah inspiratif yang menyentuh hati banyak orang.
Perjalanan spiritual Mbah Marsiyah membuktikan bahwa usia senja dan segala keterbatasan fisik bukanlah penghalang. Niat tulus untuk beribadah di Baitullah akhirnya menemukan jalannya. Kisah ini menjadi teladan nyata bagi umat Muslim di seluruh dunia.
Tergabung dalam kelompok terbang (kloter) SUB 112 melalui Embarkasi Surabaya, Mbah Marsiyah menempuh perjalanan udara panjang. Penerbangan ini menjadi pengalaman pertama baginya, namun ia mengaku sangat nyaman dan menikmati setiap momennya.
Advertisement
Advertisement
Perjalanan Pertama Nenek Marsiyah ke Tanah Suci
Mbah Marsiyah Salim, calon haji tertua Indonesia, menunjukkan semangat luar biasa. Pada usia 105 tahun, ia menjejakkan kaki di Makkah setelah perjalanan panjang. Ini adalah pengalaman terbang pertamanya, namun ia merasa damai dan menikmati setiap detiknya.
"Rasanya ayem (damai), berangkat sampai pulang sehat," ujar Mbah Marsiyah dengan polos. Ia menambahkan, "Gimana rasanya naik pesawat? Ya enak, orang tidak pernah keluar." Pengalaman ini menjadi momen tak terlupakan baginya.
Ketenangan dan kebugaran Mbah Marsiyah selama penerbangan mengundang decak kagum. Ia bahkan rutin minum susu dan menikmati udara dingin di dalam pesawat. Kisahnya menjadi bukti bahwa semangat tak mengenal batas usia.
Advertisement
Advertisement
Kisah Perjuangan Menabung dari Jualan Bubur
Di balik keberangkatan Mbah Marsiyah ke Tanah Suci, tersimpan cerita perjuangan hidup yang mengharukan. Biaya hajinya terkumpul dari hasil berjualan bubur di depan rumahnya. Ia menabung sedikit demi sedikit dalam sebuah kaleng bekas yang disimpan rapat.
Lembaran uang kertas bernominal Rp2.000 hingga Rp5.000 menjadi saksi bisu ketekunannya. Setiap hari, di bawah rindangnya pohon sawo, Mbah Marsiyah setia menanti pembeli. Ia tidak pernah berjualan hingga ke pasar, hanya di teras rumahnya yang sederhana.
"Saya jualan bubur, menabung sedikit-sedikit, masukkan ke kaleng," ungkapnya. Jika ada kekurangan, anak-anaknya turut membantu menambahi. Kegigihan Nenek Marsiyah dalam mengumpulkan dana patut diacungi jempol.
Advertisement
Berkat ketekunan dan doa yang tak pernah putus, Mbah Marsiyah berhasil mendaftar haji pada tahun 2021. Mengingat usianya yang sudah sangat sepuh, ia kemudian mendapatkan program percepatan keberangkatan lansia dari pemerintah.
Advertisement
Kebugaran dan Dukungan Keluarga Nenek Marsiyah
Meskipun telah berusia lebih dari satu abad, fisik Mbah Marsiyah terbilang luar biasa bugar. Ia menjalani hidup dengan tenang di desanya, menjaga rutinitas sederhana. Kebugaran ini menjadi salah satu faktor penting dalam perjalanannya.
Hari-hari Mbah Marsiyah kini dihabiskan dengan beristirahat di rumah, tidak lagi berkeliling mengunjungi tetangga. Untuk menjaga kebugaran, ia rutin berjalan-jalan kecil di dalam rumah. Ini menunjukkan adaptasinya terhadap usia.
"Masih kuat jalan-jalan," katanya, merujuk pada tongkat setia yang kini menemaninya. Ia pernah terjatuh di kamar mandi, namun kini sudah pulih berkat perhatian anaknya. Dukungan keluarga sangat berperan dalam menjaga kesehatannya.
Advertisement
Mbah Marsiyah kini diawasi penuh oleh anak perempuannya yang tinggal di sebelah rumah. Kehangatan keluarga dan rutinitas damai di desa menjadi kunci kebugaran sang nenek. Ini memungkinkannya menempuh ribuan kilometer menuju Arab Saudi.
Sumber: AntaraNews