Resign dari Perusahaan Transportasi, Pria Ini Sukses Ternak Ulat Hong Kong Hasil 1 Kuintal per-Minggu
Naning Yulianto resign dari pekerjaan di bidang transportasi dan mulai beternak ulat Hong Kong.
Naning Yulianto adalah sosok peternak ulat Hong Kong yang sangat menginspirasi. Ia berasal dari Wonolelo, Widodomartani, Ngemplak, Sleman, DIY.
Naning setiap hari menghabiskan waktu untuk beternak ulat Hong Kong. Usaha tersebut telah ia tekuni selama 3 sampai 4 tahun terakhir. Namun, sebelum itu, Naning pernah bekerja di perusahaan swasta di bidang transportasi.
Kini, usaha ternak ulat Hong Kong-nya sudah mulai berkembang dan memproduksi puluhan kilogram per minggu. Bagaimana kisah lengkapnya? Simak ulasannya sebagai berikut.
Resign dari Tempat Kerja Sukses Ternak Ulat Hongkong
Sebuah video yang diunggah oleh channel Youtube Agrotek memperlihatkan seorang pria asal Sleman, Naning Yulianto, resign dari tempat kerjanya demi membangun sebuah usaha yaitu ternak ulat Hong Kong.
“Sebenarnya kerja swasta lah, ikut transportasi. Kayak di Trans Jogja dulu, awal-awal. Karena di ulat Hong Kong ini kita kewalahan penanganannya, jadi kita memutuskan untuk resign dari kerjaan terus fokus ke ulat Hong Kong,” jelas Naning.
Awalnya, Naning mengaku tidak sengaja ketemu dengan bisnis tersebut. Namun, karena informasi dari teman yang memperkenalkan ia dengan ulat Hong Kong, Naning kemudian berani mencoba untuk beternak ulat tersebut.
“Akhirnya kita coba-coba ternyata kok bisa, terus pasar juga kayaknya peluangnya masih terbuka, akhirnya kita seriusin,” ucapnya.
Produksi Melimpah
Naning mengaku dalam proses pembibitan dan ternak ulat Hong Kong, ia terus belajar dari berbagai media. Mulai dari Youtube, hingga dari teman-teman yang lebih berpengalaman. Sisanya, ia mengeksplorasi sendiri sesuai dengan pengetahuannya.
Kini, usaha ulat Hong Kong milik Naning Yulianto sudah mulai berkembang pesat. Setiap minggu, ia bisa memproduksi sekitar 50 sampai 70 kg. Namun, jika hasil sedang banyak, ia bisa memproduksi sampai 1 kwintal.
“Kalau per minggu itu biasa mencapai 50 sampai 7 kg, biasanya. Kalau pas banyak ya bisa 1 kwintal per minggu,” terang Naning.
Harga yang didapatkan oleh Naning saat menjual ulat Hong Kong juga sangat bervariasi. Harga ulat Hong Kong bisa naik turun tergantung situasi dan kondisi.
“Tapi kalau yang kita alami itu biasanya kalau pas murah itu bulan-bulan Agustus sampai Desember itu biasanya agak murah. Tapi kalau harga tinggi itu biasanya bulan Januari sampai ke Agustus itu,” jelasnya.
Meski begitu, Naning tetap menjalankan usahanya sebagai peternak ulat Hong Kong secara rutin dan teratur. Naning juga memberikan masukan kepada calon peternak ulat Hong Kong yang ingin memulai agar selalu tekun dan telaten.
“Untuk pasar kayaknya masih terbuka ya. Masih banyak lah peluangnya. Nanti yang penting kalau mau dicoba dicoba saja yang penting tekun dan telaten itu saja,” pungkas Naning.