Berawal dari Kesulitan Mencari Hijab Anak, Pria Asal Ngawi Ini Sukses Jadi Pebisnis Konveksi

Wahyu bercita-cita melalui usahanya ini dia bisa menyerap 1.000 tenaga kerja.

Magang
Oleh Magang - Reporter
Berawal dari Kesulitan Mencari Hijab Anak, Pria Asal Ngawi Ini Sukses Jadi Pebisnis Konveksi
Wahyu Ahmad Hasan, owner dari Shahia Hijab Indonesia. (@ 2024 merdeka.com)

Berawal dari kesulitan mencari hijab untuk sang anak, Wahyu Ahmad Hasan kini sukses menjadi pengusaha konveksi yang menjanjikan.

Dilansir dari akun Youtube Pecah Telur, Wahyu Ahmad Hasan atau kerap disapa Hasan merupakan owner dari Shahia Hijab Indonesia. Usaha yang bergerak di bidang konveksi itu mulai dirintisnya sejak tahun 2018 bersama dengan sang istri tercinta di daerah asalnya, yaitu Kabupaten Ngawi, Jawa Timur.

Shahia Hijab Indonesia awalnya hanya berfokus pada produksi gamis anak saja, tetapi semakin hari semakin berkembang hingga ke produksi fashion muslim lainnya, seperti gamis couple dan kaos muslim anak. Menurut pengakuan dari Hasan, dirinya mendapat inspirasi usaha setelah kelahiran anak pertamanya. Pada saat itu, Hasan kesulitan mencari hijab untuk sang anak dan harus membeli produk dengan sistem pre-order.

"Mencari hijab untuk baby pada tahun 2018 itu lumayan susah. Jadi, saat itu kami membeli suatu produk dan ada ketertarikan untuk memulai usaha ini," kata Hasan dikutip pada Senin (23/9).

Pria berusia 30 tahun itu memiliki background atau latar belakang di bidang konstruksi dan properti, pasalnya Hasan merupakan lulusan teknik sipil. Namun, melihat adanya peluang di bidang fashion atau konveksi, dirinya lantas tidak menyia-nyiakan peluang tersebut.

Tahun 2018, usaha ini hanya dikelola oleh sang istri dengan mengandalkan marketing di marketplace. Tak selalu berjalan mulus, Hasan dan istri sempat melewati lika-liku atau tantangan bisnis, hingga akhirnya mereka berhasil merekrut karyawan.

"Dari awal berdiri, seminggu cuma laku satu paket. Berlanjut jadi sehari satu paket dan akhirnya sehari bisa puluhan dan saat itu udah mulai hire orang, yang awalnya istri sendirian jadi mulai ada karyawan," terang Hasan.

"Sekarang per hari kira-kira bisa terjual sekitar 2.000 sampai 2.500 pcs, tergantung model dan kloter produksi," sambungnya.

Hasan mengibaratkan bisnis itu seperti karya seni, apapun bisnisnya pasti ada pondasi-pondasi yang sama. Pertama ada marketing, keuangan yang sehat, operasional, dan SDM atau human capital. Apabila keempat pondasi tersebut berjalan dengan baik, maka usaha yang dijalankan dengan mudah beradaptasi.

Kemudian, menjadi seorang pengusaha juga harus siap rugi dan menghadapi tantangan usaha. Seperti halnya yang dialami oleh Hasan, dirinya sempat rugi puluhan juta saat awal merintis usaha. Selain kerugian finansial, dirinya juga pernah menghadapi kecurangan dari mitra bisnis. Tantangan tersebut tidak menyulutkan usaha Hasan, usahanya justru semakin berkembang dan memiliki target pertumbuhan bisnis sekitar 25 sampai dengan 35 persen per tahun.

Dalam menjalankan usahanya, Hasan juga selalu menerapkan mindset yang dibangun sejak kecil oleh kedua orang tuanya. Kerja bukanlah hanya untuk mencari keuntungan semata, tetapi kalau bisa memberi manfaat untuk banyak orang, misalnya menciptakan lapangan kerja untuk banyak orang.

Meski usahanya dinilai sudah sukses, Hasan tetap memiliki target dapat mempekerjakan 10.000 karyawan ketika dirinya berusia 40 tahun mendatang. "Itu harus bisa saya laksanakan dengan tidak berutang satu rupiah pun, jadi mengandalkan kemampuan dan keuangan pribadi," tegas Hasan.

Menurut Hasan, dirinya tidak mau berutang karena pernah mengalami titik terendah di masa SMA akibat hutang. Maka dari itu, dirinya menerapkan mindset menjalankan bisnis tanpa berutang sesuai dengan pesan orang tuanya, "Ketika nanti kamu usaha, jangan sekali-kali kamu berutang!" pungkas Hasan.

Reporter magang: Thalita Dewanty

Rekomendasi