Kemenperin Sebut Insentif Otomotif Penting Perkuat Ekosistem Hulu-Hilir dan Jaga Daya Beli Masyarakat
Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menegaskan pentingnya insentif otomotif untuk memperkuat ekosistem industri dari hulu ke hilir, sekaligus menjaga daya beli masyarakat di tengah penurunan penjualan.
Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menyoroti kebutuhan mendesak akan insentif di sektor otomotif nasional. Langkah ini dianggap krusial untuk memperkuat ekosistem industri dari hulu hingga hilir. Tujuannya adalah mempertahankan utilisasi produksi serta menarik investasi baru di tengah dinamika pasar yang menantang.
Juru Bicara Kemenperin, Febri Hendri Antoni Arif, menjelaskan bahwa meskipun penjualan kendaraan listrik (EV) impor melonjak, sektor otomotif secara keseluruhan menghadapi penurunan signifikan. Kondisi ini mengindikasikan bahwa industri membutuhkan dukungan kebijakan yang konkret. Insentif diharapkan dapat membalikkan tren negatif penjualan kendaraan domestik.
Pernyataan ini disampaikan di Jakarta pada Minggu, 30 November, sebagai respons terhadap data penjualan otomotif yang menunjukkan penurunan tajam. Kemenperin berpendapat bahwa indikator kesehatan industri harus dilihat dari penjualan keseluruhan, bukan hanya segmen tertentu yang didominasi produk impor.
Kondisi Industri Otomotif Nasional Menghadapi Tantangan
Febri Hendri Antoni Arif menyoroti bahwa kenaikan penjualan kendaraan listrik (EV) pada periode Oktober 2025 hingga Januari 2025 sebagian besar berasal dari unit impor (CBU). Dari total 69.146 unit EV yang terjual, 73 persen di antaranya merupakan kendaraan impor. Hal ini berarti nilai tambah dan penyerapan tenaga kerja industri berada di negara asal produksi.
Di sisi lain, segmen kendaraan yang diproduksi di dalam negeri justru mengalami penurunan penjualan yang signifikan. Menurut Kemenperin, adalah keliru jika menyatakan industri otomotif sedang kuat hanya dengan mengandalkan indikator pertumbuhan pada segmen tertentu. Data penjualan dan produksi otomotif nasional harus menjadi acuan utama.
"Penurunan tajam penjualan kendaraan bermotor roda empat jauh di bawah angka produksinya di kala penjualan kendaraan EV impor naik tajam adalah fakta yang tidak bisa dihindari," tegas Febri. Ia menambahkan bahwa kondisi ini harus menjadi indikator pertumbuhan industri otomotif nasional saat ini, yang jelas membutuhkan insentif.
Kemenperin juga menegaskan bahwa banyaknya pameran otomotif bukanlah ukuran kekuatan industri. Pameran justru merupakan upaya industri untuk mempertahankan permintaan di tengah anjloknya penjualan domestik dan melindungi pekerja dari Pemutusan Hubungan Kerja (PHK).
Data Penjualan Otomotif Menurun Drastis
Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) mencatat penurunan penjualan mobil yang signifikan. Penjualan secara wholesales (distribusi dari pabrik ke dealer) pada Januari-Oktober 2025 hanya mencapai 634.844 unit. Angka ini turun 10,6 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang mencapai 711.064 unit.
Penjualan retail sales (dari dealer ke konsumen) juga mengalami penurunan, tercatat sebanyak 660.659 unit pada Januari-Oktober 2025. Angka ini merosot 9,6 persen dari 731.113 unit pada tahun sebelumnya. Data ini menunjukkan pelemahan pasar yang nyata di seluruh segmen.
Selain itu, data Ditjen Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika (ILMATE) menunjukkan produksi kendaraan domestik menurun menjadi 957.293 unit tahun ini dari 996.741 unit pada 2024. Penurunan ini sangat terasa pada segmen entry (OTR low (Rp200–400 juta) merosot 36 persen, dan kendaraan komersial turun 23 persen.
Segmen-segmen ini merupakan tulang punggung industri otomotif nasional, menyasar konsumen domestik, khususnya masyarakat kelas menengah. Pelemahan di segmen ini berpotensi menyebabkan penurunan utilisasi pabrik, investasi, dan mengancam keberlanjutan lapangan kerja.
Insentif Otomotif sebagai Solusi Pemulihan Pasar
Melihat kondisi pasar yang melemah, Kemenperin menekankan bahwa insentif otomotif menjadi instrumen krusial. Kebijakan ini diharapkan dapat memulihkan pasar kendaraan bermotor dan menjaga keberlangsungan industri otomotif nasional secara menyeluruh. Insentif ini penting tidak hanya bagi pelaku industri, tetapi juga masyarakat sebagai konsumen.
Febri menyatakan bahwa insentif akan menciptakan ruang bagi penurunan harga kendaraan. Hal ini secara langsung dapat memperbaiki sentimen pasar dan mempertahankan daya beli masyarakat. Terutama bagi kelompok kelas menengah dan pembeli mobil pertama yang sangat sensitif terhadap perubahan harga.
Meskipun jenis dan bentuk insentif belum dirumuskan secara detail, Kemenperin mengusulkan agar stimulus ini mengarah pada segmen kelas menengah-bawah. Selain itu, pemberian insentif akan didasarkan pada nilai Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) untuk mendorong produksi lokal.
"Tidak adanya intervensi kebijakan akan membuat tekanan ini semakin dalam, dan efeknya dapat memengaruhi struktur industri secara keseluruhan," kata Febri, menekankan urgensi tindakan pemerintah.
Dukungan Komunitas Otomotif terhadap Insentif
Rencana pemberian insentif ini juga mendapatkan dukungan dari berbagai komunitas otomotif di Indonesia. Sonny Eka Putra, Founder Xpander Mitsubishi Owners Club (X-MOC), berpendapat bahwa insentif harus dirancang spesifik untuk kebutuhan tiap segmen, bukan diberlakukan secara menyeluruh.
Menurut Sonny, dukungan fiskal dari pemerintah seharusnya lebih fokus menyasar kendaraan untuk kelas menengah ke bawah. Hal ini sejalan dengan tujuan Kemenperin untuk membantu segmen pasar yang paling terdampak dan memiliki kontribusi besar terhadap industri lokal.
Sementara itu, Ketua Dewan Pengawas Calya Sigra Club (Calsic), Ryan Cayo, menambahkan bahwa insentif otomotif bukan sekadar potongan harga bagi produsen. Lebih dari itu, insentif berfungsi sebagai stimulus untuk menjaga pergerakan ekosistem otomotif dari hulu ke hilir. Ini mencakup seluruh rantai pasok dan produksi.
Sumber: AntaraNews