INDEF Sarankan Kebijakan Investasi Khusus, Dorong Daya Tarik Indonesia bagi Investor Global
Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) menyarankan pemerintah menerapkan kebijakan investasi yang disesuaikan untuk menarik lebih banyak investor global ke Indonesia, menyoroti kebutuhan infrastruktur dan SDM.
Kebutuhan Kebijakan Investasi yang Disesuaikan
Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) mendesak pemerintah Indonesia untuk merumuskan kebijakan investasi yang lebih adaptif dan spesifik. Langkah ini dinilai krusial guna meningkatkan daya tarik Indonesia di mata investor global.
Direktur Eksekutif INDEF, Esther Sri Astuti, menyampaikan bahwa pendekatan kebijakan yang disesuaikan (customized policy) sangat dibutuhkan. Esther mengatakan, "Kita punya banyak natural resources (sumber daya alam), tetapi sekali lagi kenapa mereka investor ini tidak terlalu tertarik ya untuk datang ke Indonesia, mungkin karena, yang pertama, paket kebijakannya itu tidak customized (disesuaikan)".
Saran ini muncul karena insentif pajak seperti tax holiday atau tax incentive kini dianggap kurang efektif dan relevan. Investor global kini lebih memprioritaskan kepastian usaha, infrastruktur memadai, dan kualitas tenaga kerja di negara tujuan investasi.
Fokus Kebijakan Investasi: Infrastruktur Andal dan SDM Berdaya Saing
Esther Sri Astuti dari INDEF menegaskan bahwa strategi pemberian keringanan pajak tidak lagi menjadi daya tarik utama bagi investor. Kebijakan investasi yang hanya berfokus pada insentif fiskal kini dinilai kurang relevan dan efektif.
Menurutnya, investor modern mencari lebih dari sekadar potongan pajak; mereka menginginkan lingkungan bisnis yang stabil dan andal. Esther menyatakan, "Investor ini butuh hal yang lain, misalnya infrastrukturnya itu harus relatif firm (andal) dulu. Harus ada semua, ada gas, ada listrik, ada air bersih, sehingga mereka bisa bangun pabrik di situ".
Kepastian usaha menjadi faktor penentu utama bagi para penanam modal global dalam memilih lokasi investasi. Selain itu, ketersediaan infrastruktur yang andal dan kualitas sumber daya manusia yang mumpuni juga menjadi pertimbangan penting.
Oleh karena itu, INDEF menyarankan pemerintah untuk bergeser ke pendekatan kebijakan yang lebih holistik dan disesuaikan. Ini berbeda dengan hanya mengandalkan insentif pajak semata untuk menarik investasi asing.
Pentingnya Kualitas SDM dan Inovasi Riset
INDEF menyoroti pentingnya infrastruktur yang kokoh dan lengkap sebagai prasyarat investasi. Investor membutuhkan pasokan gas, listrik, dan air bersih yang terjamin untuk membangun serta mengoperasikan pabrik mereka di Indonesia.
Di sektor pariwisata, Esther Sri Astuti juga menekankan konektivitas transportasi, khususnya penerbangan, sebagai daya tarik utama. Investor cenderung memilih daerah wisata yang mudah diakses dan terintegrasi dengan jaringan transportasi yang baik.
Ketersediaan Sumber Daya Manusia (SDM) dengan keterampilan yang relevan juga menjadi perhatian serius. Esther menjelaskan, "Pasar tenaga kerja (domestik) rapuh karena sebagian besar tenaga kerja sekarang itu lebih didominasi oleh pekerja yang ada di sektor informal".
Kerapuhan ini seringkali akibat ketidakcocokan keterampilan (skill mismatch) atau tingkat pendidikan yang kurang memadai. Peningkatan kualitas SDM melalui pendidikan dan pelatihan vokasi yang sesuai kebutuhan industri akan sangat mendukung iklim investasi.
Inovasi dan Riset untuk Daya Saing Global
Direktur Kolaborasi Internasional INDEF, Imaduddin Abdullah, menambahkan bahwa penguatan riset dan pengembangan (R&D) harus didorong secara signifikan. Inovasi dari hasil R&D krusial untuk meningkatkan adopsi teknologi dan produktivitas industri nasional.
Peningkatan inovasi ini akan meyakinkan investor untuk menanamkan modal mereka di Indonesia. Tanpa inovasi dan efisiensi biaya operasional, daya saing Indonesia dalam menarik investasi asing akan tertinggal dari negara-negara tetangga.
Imaduddin Abdullah memperingatkan bahwa tanpa dorongan R&D yang kuat, Indonesia berisiko terjebak dalam 'upper middle-income trap'. Ia menegaskan, "Kalau tidak (menerapkan R&D), saya pikir Indonesia tidak akan bisa keluar dari upper middle-income trap gitu ya".
Oleh karena itu, investasi dalam riset dan pengembangan adalah langkah strategis. Ini tidak hanya untuk menarik investasi, tetapi juga untuk memastikan pertumbuhan ekonomi berkelanjutan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
INDEF mengidentifikasi beberapa faktor kunci yang kini menjadi prioritas investor global, jauh melampaui sekadar insentif pajak:
- Kepastian usaha dan regulasi yang jelas.
- Ketersediaan infrastruktur dasar yang memadai (gas, listrik, air bersih).
- Aksesibilitas dan konektivitas transportasi, terutama untuk sektor pariwisata.
- Kualitas dan ketersediaan Sumber Daya Manusia dengan keterampilan yang sesuai kebutuhan industri.
- Dukungan terhadap riset dan pengembangan (R&D) untuk inovasi dan peningkatan produktivitas.
Sumber: AntaraNews