Bank Dunia: Peningkatan Kualitas SDM Kunci Utama Industri Indonesia
Bank Dunia menyoroti pentingnya peningkatan kualitas SDM dan pendidikan sebagai fondasi utama kebijakan industri Indonesia, mendesak perbaikan mendasar untuk pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.
Bank Dunia menekankan pentingnya peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) dan pendidikan sebagai fondasi utama kebijakan industri Indonesia. Hal ini disampaikan oleh Kepala Ekonom Bank Dunia untuk Asia Timur dan Pasifik, Aaditya Mattoo, dalam sebuah wawancara daring. Menurutnya, penguatan SDM merupakan pilar pertama yang harus diperkuat untuk mendukung aktivitas ekonomi nasional.
Mattoo menjelaskan bahwa keterampilan dan penyediaan infrastruktur publik, seperti energi, pelabuhan, jaringan serat optik, serta jalan, merupakan elemen krusial. Tanpa fondasi SDM dan infrastruktur yang kuat, kebijakan industri Indonesia tidak akan mencapai potensi maksimalnya. Pernyataan ini muncul seiring dengan rilis laporan East Asia and Pacific Economic Update edisi April 2026.
Laporan tersebut juga memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2026 sebesar 4,7 persen, sedikit menurun dari perkiraan sebelumnya 4,8 persen. Meskipun demikian, angka ini masih lebih tinggi dibandingkan proyeksi pertumbuhan kawasan Asia Timur dan Pasifik (EAP) yang hanya 4,2 persen. Proyeksi ini menunjukkan urgensi bagi Indonesia untuk segera mengatasi kelemahan mendasar dalam kualitas SDM.
Tantangan Pendidikan dan Keterampilan Dasar
Indonesia masih menghadapi kelemahan serius dalam pendidikan dasar, di mana banyak anak belum mampu membaca sesuai usia atau melakukan perhitungan sederhana. Kondisi ini menjadi hambatan signifikan dalam upaya peningkatan kualitas SDM secara menyeluruh. Selain itu, kualitas pendidikan STEM (Sains, Teknologi, Teknik, dan Matematika) dan manajerial juga masih tergolong lemah.
Menurut Aaditya Mattoo, rantai nilai modal manusia perlu diperkuat secara bersamaan dengan pembangunan infrastruktur. Peningkatan kualitas pendidikan dan pelatihan akan menghasilkan tenaga kerja yang lebih kompeten dan inovatif. Ini esensial untuk mendorong daya saing industri di pasar global.
Penguatan modal manusia bukan hanya tentang pendidikan formal, tetapi juga pengembangan keterampilan yang relevan dengan kebutuhan industri. Investasi dalam pendidikan dan pelatihan vokasi dapat menjadi solusi efektif. Dengan demikian, Indonesia dapat menciptakan angkatan kerja yang siap menghadapi tantangan ekonomi modern.
Infrastruktur dan Kebijakan Pendukung Industri
Pilar kedua yang ditekankan oleh Bank Dunia adalah penghapusan kebijakan yang merugikan aktivitas ekonomi, seperti hambatan non-tarif pada barang dan jasa. Reformasi kebijakan ini dinilai dapat memberikan dampak signifikan terhadap iklim usaha di Indonesia. Mempermudah arus barang dan jasa akan meningkatkan efisiensi dan mengurangi biaya produksi.
Meskipun Indonesia telah mencatat kemajuan signifikan dalam pembangunan infrastruktur, upaya ini perlu terus ditingkatkan. Infrastruktur yang memadai adalah prasyarat penting untuk mendukung pertumbuhan industri dan menarik investasi. Pembangunan infrastruktur harus selaras dengan peningkatan kualitas SDM untuk menciptakan ekosistem industri yang kuat.
Manfaat dari kebijakan seperti pembatasan ekspor untuk mendorong industri hilir akan lebih besar jika fondasi infrastruktur dan modal manusia sudah kuat. Selain itu, kemudahan impor bahan baku juga harus diterapkan agar tidak melemahkan kemampuan ekspor. Keseimbangan antara kebijakan proteksi dan fasilitasi perdagangan sangat penting untuk pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
Optimalisasi Insentif dan Proyeksi Ekonomi
Langkah pemberian insentif seperti tax holiday diyakini akan lebih optimal jika fondasi pendidikan dan infrastruktur sudah kuat. Selain itu, kebijakan yang tidak efektif juga harus terlebih dahulu dihapus untuk menciptakan lingkungan investasi yang kondusif. Insentif hanya akan efektif jika diberikan pada kondisi dasar yang mendukung.
Proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia untuk tahun 2026 sebesar 4,7 persen menunjukkan potensi yang ada, meskipun ada sedikit penurunan dari perkiraan sebelumnya 4,8 persen. Angka ini masih lebih tinggi dibandingkan rata-rata kawasan Asia Timur dan Pasifik (EAP) yang diproyeksikan 4,2 persen. Kawasan EAP mencakup beberapa negara seperti Kamboja, China, Malaysia, Filipina, Thailand, dan Vietnam.
Untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi dan berkelanjutan, Indonesia perlu fokus pada investasi jangka panjang dalam SDM dan reformasi kebijakan. Dengan demikian, Indonesia dapat membangun fondasi ekonomi yang lebih kokoh dan berdaya saing di tingkat global.
Sumber: AntaraNews