Harga BBM Meroket Tajam di AS, Senator Terang-terangan Salahkan Donald Trump
Kenaikan harga bensin ini, yang terakhir kali mencapai USD 4 pada Agustus 2022, akan semakin membebani konsumen yang sudah tertekan oleh inflasi.
Pemimpin Minoritas Senat Amerika Serikat, Chuck Schumer, menyatakan bahwa kenaikan harga bensin hampir 75 persen dalam waktu kurang dari sebulan adalah tanggung jawab Presiden Donald Trump.
"Sebulan yang lalu, harga bensin nasional adalah USD 2,93 per gallon. Hari ini USD 3,94. Satu orang yang harus disalahkan: Donald Trump," ungkap Schumer dalam sebuah unggahan di platform X, yang sebelumnya dikenal sebagai Twitter, seperti yang dikutip dari Al Jazeera pada Selasa (24/3).
Sebagai pemimpin oposisi Demokrat yang paling senior, Schumer sangat menentang keputusan Trump untuk menyerang Iran dan mendesak agar perang tersebut segera dihentikan.
Dalam unggahan sebelumnya di platform X, Schumer juga menyoroti bahwa puluhan miliar dolar AS telah terbuang sia-sia akibat pelaksanaan perang tersebut. Menurut laporan dari Yahoo Finance pada Jumat, 20 Maret 2026, harga bensin di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) AS mengalami lonjakan lebih dari 30 persen pada bulan Maret 2026, mendekati USD 4 per gallon.
Meskipun Donald Trump berusaha untuk menekan kenaikan harga dan mengatasi gangguan pasokan yang disebabkan oleh perang di Timur Tengah, harga rata-rata bensin eceran nasional AS telah meningkat sekitar 90 sen per gallon, atau lebih dari 30 persen, sejak serangan AS dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari 2026.
Harga rata-rata di SPBU pada Kamis lalu tercatat di USD 3,88 per gallon, berdasarkan data dari American Automobile Association (AAA). Para analis memperkirakan bahwa harga di SPBU akan terus meningkat, seiring dengan lonjakan harga minyak mentah.
"Sekarang tampaknya harga bensin akan mencapai USD 4 per gallon minggu depan, dan bisa menuju USD 4,10 per gallon dan seterusnya," kata Patrick De Haan, analis dari GasBuddy.
Kenaikan harga bensin ini, yang terakhir kali mencapai USD 4 pada Agustus 2022, akan semakin membebani konsumen yang sudah tertekan oleh inflasi.
Kenaikan Harga Bensin Jadi Isu Politik Trump
Lonjakan harga bensin telah menjadi isu politik yang signifikan bagi Trump dan Partai Republik, yang akan segera memulai kampanye untuk mempertahankan mayoritas tipis mereka di Kongres AS pada pemilihan paruh waktu bulan November mendatang. Trump berkomitmen untuk menurunkan harga energi serta meningkatkan produksi minyak dan gas domestik.
Namun, selama masa jabatannya, banyak tantangan yang dihadapi, termasuk pasar yang tidak stabil, perubahan kebijakan yang mencakup tarif, dan ketegangan geopolitik yang meningkat.
Konflik antara AS dan Iran telah mengganggu pasokan dari salah satu kawasan penghasil minyak terbesar dunia. Serangan Iran terhadap pelayaran di Selat Hormuz telah merusak ekspor dari negara-negara penghasil minyak di Timur Tengah.
Akibatnya, harga bahan bakar eceran telah melonjak tajam seiring dengan meningkatnya harga minyak, yang didorong oleh biaya bahan baku yang semakin tinggi. Semua faktor ini menciptakan tantangan besar bagi pemerintah dalam upaya menstabilkan harga energi di pasar.
Pengumuman Donald Trump
Pekan lalu, pemerintahan Trump mengumumkan bahwa mereka akan memberikan pengecualian sementara selama 60 hari terhadap undang-undang pengiriman Jones Act. Kebijakan ini akan memungkinkan kapal berbendera asing untuk mengangkut bahan bakar, pupuk, dan berbagai barang lainnya antar pelabuhan di AS.
Meskipun demikian, para pelaku industri memperkirakan bahwa dampak dari kebijakan ini terhadap harga hanya akan bersifat marginal.
"Harga minyak ditetapkan secara independen dari biaya transportasi. Pengecualian ini hanya akan memungkinkan kapal tambahan untuk mengangkut pasokan," ungkap seorang sumber perdagangan bahan bakar yang tidak berwenang untuk berbicara secara terbuka. "Saya rasa ini tidak akan menurunkan harga secara dramatis."
Selain itu, De Haan dari GasBuddy menyatakan, "Para pengendara yang berharap harga bahan bakar akan turun drastis akibat pengecualian Jones Act mungkin akan kecewa."
Pemerintahan Trump juga merencanakan untuk mencabut peraturan bensin musim panas, yang akan menghapus pembatasan federal untuk mengurangi polusi udara pada bensin campuran musim panas. "Pencabutan peraturan tersebut dapat mengurangi harga bensin eceran sebesar 10 hingga 20 sen per galon," jelas De Haan.
Ia menambahkan bahwa konsumen di kota-kota seperti Chicago, New York, dan Washington, D.C., yang menggunakan bensin yang diformulasikan ulang, kemungkinan akan merasakan penghematan terbesar di SPBU. Dengan langkah-langkah ini, pemerintah berharap dapat memberikan sedikit kelegaan bagi konsumen yang menghadapi lonjakan harga bahan bakar.