10 Negara Harga BBM Paling Mahal di Dunia, Ada Indonesia?
Di Indonesia, harga resmi bahan bakar yang diumumkan oleh Pertamina pada 27 Maret 2024 mencatat bahwa Pertamax dijual dengan harga R12.950 per liter.
Amerika Serikat saat ini menjadi salah satu negara yang memiliki harga bensin yang cukup terjangkau jika dibandingkan dengan banyak negara maju lainnya, khususnya di Eropa.
Hal ini sering kali dipengaruhi oleh kebijakan energi yang diterapkan serta kapasitas produksi minyak domestik yang sangat besar. Pada tanggal 11 Maret 2024, harga rata-rata bahan bakar di seluruh dunia tercatat mencapai USD 5,13 per galon, yang setara dengan sekitar Rp81.000 untuk 3,7 liter.
Data ini menunjukkan adanya perbedaan harga yang cukup mencolok antar negara, terutama jika dibandingkan dengan negara-negara penghasil minyak atau yang memberikan subsidi energi.
Di Indonesia, harga resmi bahan bakar yang diumumkan oleh Pertamina pada 27 Maret 2024 mencatat bahwa Pertamax dijual dengan harga R12.950 per liter. Jika dikonversi, satu galon bahan bakar di Indonesia diperkirakan menelan biaya sekitar Rp47.900.
Meskipun harga ini jauh lebih rendah dibandingkan dengan rata-rata global, namun tetap lebih tinggi jika dibandingkan dengan negara-negara yang menerapkan subsidi besar.
Berikut 10 negara dengan harga bensin tertinggi di dunia:
Singapura
Di Singapura, harga setiap galon bahan bakar telah mencapai Rp123.000. Peningkatan harga minyak di negara ini disebabkan oleh penerapan pajak yang lebih tinggi.
Yunani
Di Yunani, biaya untuk setiap galon bahan bakar telah mencapai Rp124.000. Kenaikan harga ini terjadi akibat penerapan berbagai pajak oleh pemerintah yang berdampak langsung pada harga jual bahan bakar di pasaran.
Barbados
Di Barbados, harga satu galon bahan bakar mencapai Rp124.900. Tingginya harga ini disebabkan oleh tarif yang ditentukan oleh pemerintah serta sejumlah biaya tambahan yang diterapkan, sehingga membuat biaya bahan bakar menjadi sangat mahal.
Liechtenstein
Di Liechtenstein, harga bahan bakar per galon mencapai Rp125.000. Negara yang berukuran kecil ini sangat bergantung pada impor untuk memenuhi kebutuhan energinya, termasuk minyak.
Hal ini menunjukkan ketergantungan Liechtenstein terhadap sumber energi dari luar negeri, yang dapat memengaruhi stabilitas ekonomi dan harga energi di dalam negeri.
Dengan biaya yang cukup tinggi, warga dan pengusaha di negara ini harus mempertimbangkan pengeluaran mereka dalam penggunaan bahan bakar. Ketergantungan pada impor juga dapat menjadi tantangan bagi perekonomian, terutama jika terjadi fluktuasi harga di pasar internasional.
Norwegia
Di Norwegia, harga satu galon bahan bakar telah mencapai Rp127.000. Kenaikan harga ini disebabkan oleh ketidakstabilan yang terjadi di pasar global, yang berpengaruh langsung terhadap biaya bahan bakar di negara tersebut.
Seiring dengan fluktuasi harga di pasar internasional, masyarakat Norwegia harus menghadapi dampak dari harga bahan bakar yang terus meningkat. Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi konsumen, terutama dalam hal pengeluaran sehari-hari.
Belanda
Di Belanda, satu galon gas dibanderol dengan harga Rp130.000. Ketidakpastian harga yang terjadi di pasar global akibat fluktuasi harga gas telah menyebabkan ketidakstabilan yang signifikan.
Untuk mengatasi masalah ini, pemerintah telah mengambil langkah-langkah dengan menerapkan kenaikan tarif pajak untuk gas. Dengan demikian, diharapkan dapat mengatur dan menstabilkan harga gas di pasaran.
Denmark
Di Denmark, harga satu galon bahan bakar telah mencapai Rp131.500. Kenaikan harga ini dipengaruhi oleh faktor perdagangan di Uni Eropa yang berdampak pada biaya energi dan gas di negara tersebut.
Islandia
Di Islandia, harga satu galon bahan bakar mencapai Rp138.500. Lonjakan harga ini disebabkan oleh jarak yang sangat jauh dari berbagai arah, di mana transportasi menjadi faktor utama yang berkontribusi terhadap peningkatan biaya tersebut.
Monako
Di Monako, harga satu galon bahan bakar mencapai Rp139.000. Negara kecil ini tidak memiliki infrastruktur energi yang memadai, sehingga harus mengimpor bahan bakar dari negara lain, yang menyebabkan harga menjadi sangat tinggi.
Kota Hong Kong
Di Hong Kong, harga satu galon bahan bakar mencapai Rp187.000. Hal ini disebabkan oleh minimnya kilang minyak di negara tersebut, yang mengharuskan Hong Kong untuk mengimpor seluruh kebutuhan bahan bakar mereka.
Akibat dari kondisi ini, masyarakat dan industri di Hong Kong harus menghadapi biaya yang tinggi untuk bahan bakar. Dengan bergantung pada impor, harga bahan bakar cenderung fluktuatif dan dapat berdampak pada perekonomian lokal.