Fakta Menarik: OJK Umumkan Sektor Jasa Keuangan Kalsel Stabil dan Tumbuh Positif di Tengah Tantangan Ekonomi
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Kalimantan Selatan menegaskan bahwa Sektor Jasa Keuangan Kalsel tetap stabil dan menunjukkan pertumbuhan positif, siap dukung inklusi keuangan. Bagaimana detailnya?
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel) baru-baru ini mengumumkan bahwa kinerja lembaga jasa keuangan di wilayahnya tetap stabil dan terjaga. Penilaian ini bertujuan untuk terus mendukung inklusi keuangan di seluruh pelosok Kalimantan Selatan. Kondisi positif ini tercermin dari berbagai indikator ekonomi yang menunjukkan tren peningkatan.
Kepala OJK Provinsi Kalimantan Selatan, Agus Maiyo, menyampaikan bahwa perkembangan sektor perbankan menunjukkan kinerja intermediasi yang solid. Profil risiko perbankan tetap terjaga, sementara aktivitas operasionalnya optimal dalam melayani kebutuhan keuangan masyarakat Kalsel. Hal ini menjadi angin segar bagi stabilitas ekonomi regional.
Data terbaru hingga September 2025 menunjukkan pertumbuhan aset perbankan yang signifikan, mencapai Rp110,39 triliun atau tumbuh 12,40 persen secara tahunan (yoy). Selain itu, dana pihak ketiga (DPK) juga melonjak 12,37 persen yoy, dan penyaluran kredit meningkat 9,19 persen yoy. Pertumbuhan ini mengindikasikan kepercayaan masyarakat dan pelaku usaha terhadap Sektor Jasa Keuangan Kalsel.
Kinerja Perbankan Konvensional dan Syariah yang Solid
Sektor perbankan di Kalimantan Selatan menunjukkan performa yang kuat dengan pertumbuhan yang merata. Kontribusi terbesar peningkatan kredit didominasi oleh kredit investasi, yang tumbuh sebesar 24,93 persen dengan outstanding mencapai Rp23,06 triliun. Penyaluran kredit terbesar secara spesial terpusat di Kota Banjarmasin, mencapai 65,48 persen atau setara Rp53,66 triliun, menandakan pusat aktivitas ekonomi yang dinamis.
Profil risiko perbankan juga relatif terjaga dengan baik, tercermin dari rasio Non-Performing Loan (NPL) nett sebesar 1,24 persen. Intermediasi keuangan berjalan cukup baik, ditunjukkan oleh Loan to Deposit Ratio (LDR) sebesar 82,79 persen. Angka-angka ini menegaskan bahwa Sektor Jasa Keuangan Kalsel memiliki fondasi yang kuat.
Sejalan dengan bank umum konvensional, bank umum syariah di Provinsi Kalimantan Selatan juga mencatatkan pertumbuhan positif hingga September 2025. Peningkatan terlihat pada Aset, DPK, dan Kredit masing-masing sebesar 10,22 persen yoy, 1,00 persen yoy, dan 11,28 persen yoy. Financing to Deposit Ratio (FDR) berada di angka 96,33 persen dengan NPF net sebesar 0,73 persen, menunjukkan efisiensi dan kesehatan finansial.
Agus Maiyo juga menjelaskan bahwa penyaluran kredit di Kalimantan Selatan didominasi oleh sektor ekonomi rumah tangga dengan porsi 37,55 persen. Sektor pertanian menyusul dengan 19,46 persen, dan perdagangan besar serta eceran sebesar 15,20 persen. Diversifikasi ini menunjukkan dukungan keuangan yang luas terhadap berbagai sektor vital di Kalsel.
Lonjakan Aktivitas Pasar Modal dan Lembaga Pembiayaan
Perkembangan Sektor Pasar Modal di Kalimantan Selatan per Agustus 2025 mencatatkan pertumbuhan yang signifikan. Nilai kepemilikan saham di Kalsel menempati posisi kedua di Kalimantan, dengan nilai sebesar 33,42 persen yoy atau menjadi Rp114,137 triliun. Sementara itu, nilai transaksi saham berada di angka Rp1,57 triliun, melonjak 72,25 persen yoy.
Kepala OJK Kalsel menambahkan, "Untuk jumlah Single Investor Identification tumbuh sebesar 23,49 persen yoy." Hal ini mengindikasikan peningkatan partisipasi investor di pasar modal Kalsel. Antusiasme investor ini menjadi penanda positif bagi pertumbuhan ekonomi dan literasi keuangan di daerah tersebut.
Lebih lanjut, sektor lembaga pembiayaan, perusahaan modal ventura, Lembaga Keuangan Mikro, dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya (PVML) juga menunjukkan pertumbuhan. Perusahaan Pergadaian Swasta mencatatkan pertumbuhan signifikan pada pinjaman yang disalurkan, mencapai Rp912 miliar atau meningkat 61,59 persen yoy hingga Mei 2025. Ini menunjukkan peran penting lembaga-lembaga ini dalam mendukung akses keuangan masyarakat.
Dari sisi Layanan Pendanaan Bersama Berbasis Teknologi Informasi (LPBBTI), data posisi Juni 2025 menunjukkan terdapat Rp958 miliar outstanding pinjaman dengan 336.953 rekening peminjam. Tingkat Kredit Macet (TWP90) tetap terjaga di angka 2 persen. Kinerja Perusahaan Pembiayaan menunjukkan piutang pembiayaan terkontraksi sebesar 1,05 persen yoy menjadi Rp11,9 triliun pada Juli 2025. Pembiayaan tertinggi pada sektor Pertambangan dan Penggalian dengan porsi 30,86 persen atau Rp3,69 miliar. Profil risiko sedikit meningkat dari bulan sebelumnya namun masih terjaga pada rasio Non Performing Finance 2,12 persen.
Sumber: AntaraNews