DPR Dukung Transformasi Pertanian Kementan untuk Kedaulatan Pangan dan Lapangan Kerja
Anggota DPR RI Bambang Soesatyo mendukung penuh inisiatif Kementerian Pertanian dalam melakukan transformasi pertanian melalui hilirisasi untuk memperkuat kedaulatan pangan nasional dan menciptakan jutaan lapangan kerja.
Anggota Komisi III DPR RI Bambang Soesatyo (Bamsoet) menyatakan dukungannya terhadap langkah transformasi pertanian yang diinisiasi Kementerian Pertanian (Kementan). Inisiatif ini bertujuan meningkatkan nilai tambah produk pertanian demi kedaulatan dan kemandirian pangan bangsa.
Bamsoet menyoroti kebijakan solutif yang digagas Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, terutama hilirisasi produk pertanian. Strategi ini terbukti mampu menciptakan hingga delapan juta lapangan kerja baru di tengah tantangan ekonomi.
Dukungan ini disampaikan Bamsoet dalam refleksi akhir tahun 2025, melihat kondisi bangsa yang menghadapi berbagai tantangan. Transformasi pertanian ini diharapkan menjadi jawaban konkret untuk penguatan ekonomi nasional.
Hilirisasi Pertanian: Strategi Kunci Kedaulatan Pangan dan Ekonomi Nasional
Bambang Soesatyo mengapresiasi berbagai terobosan yang dilakukan Menteri Amran sepanjang tahun 2025, termasuk dalam membantu korban bencana banjir di Sumatera. Di tengah situasi multidimensional, mulai dari bencana ekologis hingga pelemahan daya beli masyarakat, inisiatif Kementan menjadi oase sekaligus solusi nyata bagi penguatan ekonomi nasional.
Bamsoet secara khusus menyoroti langkah berani Amran dalam menyusun strategi transformasi dan investasi sektor pertanian yang berdampak langsung pada akar rumput. Konsistensi dalam hilirisasi produk pertanian menjadi salah satu aspek paling menonjol dari upaya ini.
Menteri Amran menegaskan bahwa hilirisasi pertanian adalah kunci kemandirian bangsa. Ia menyatakan, "Kita tidak boleh lagi membiarkan kekayaan alam kita keluar dalam bentuk mentah." Pembangunan pabrik-pabrik pengolahan di dekat sentra produksi petani akan menciptakan nilai tambah berkali-kali lipat dan memastikan ekonomi nasional tumbuh dari bawah.
Langkah hilirisasi pertanian ini berakar kuat pada visi besar Presiden Prabowo Subianto yang menegaskan komitmennya terhadap Pasal 33 UUD 1945 sebagai fondasi ekonomi nasional.
Investasi Besar dan Dampak Positif Transformasi Pertanian
Menyongsong pergantian tahun dari 2025 memasuki tahun 2026, Indonesia masih berselimutkan duka cita mendalam akibat bencana di Sumatera yang berdampak pada 3,3 juta jiwa. Kinerja perekonomian nasional juga sedang dalam tekanan, ditandai dengan angka pengangguran yang mencapai 7,28 juta orang per Februari 2025 menurut data Badan Pusat Statistik (BPS).
Sektor UMKM dan manufaktur pun mengalami tekanan hebat akibat gempuran produk impor ilegal. Oleh karena itu, sinergi kuat antara kementerian teknis diperlukan untuk menciptakan lapangan kerja dan melindungi pasar domestik.
Strategi hilirisasi dan investasi pertanian yang tengah digarap Kementan senilai Rp371 triliun difokuskan pada 14 komoditas strategis. Komoditas ini mencakup sektor perkebunan dan pangan unggulan.
Beberapa komoditas strategis yang menjadi fokus dalam program transformasi pertanian ini meliputi:
- Kelapa sawit
- Kelapa (untuk VCO dan santan)
- Tebu
- Kakao
- Kopi
- Lada
- Pala
- Jambu mete
- Gambir
Inisiatif transformasi pertanian ini diproyeksikan tidak hanya meningkatkan nilai tambah hingga ratusan kali lipat, tetapi juga mampu menyerap sekitar 8,6 juta tenaga kerja. Dorongan produktivitas demi memerangi penyelundupan adalah kombinasi solutif untuk mereduksi kompleksitas persoalan yang ada.
Bamsoet berharap, di tahun 2026, para pembantu Presiden semakin kreatif menggagas inisiatif baru. Sinergi ini krusial untuk menghadapi tantangan multidimensional dan memperkuat fondasi ekonomi bangsa.
Sumber: AntaraNews