Mentan Amran: Kepemimpinan Transformatif Kunci Kedaulatan Pertanian dan Lompatan Ekonomi Nasional
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa kepemimpinan transformatif pertanian menjadi fondasi utama untuk menjaga kedaulatan pangan sekaligus mendorong lompatan ekonomi nasional melalui reformasi sistem dan hilirisasi komoditas.
Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman baru-baru ini menegaskan pentingnya kepemimpinan yang berani dalam sektor pertanian. Kepemimpinan ini diharapkan mampu mengubah sistem pertanian yang ada. Hal ini menjadi fondasi utama dalam menjaga kedaulatan pangan nasional.
Pernyataan tersebut disampaikan Mentan Amran dalam sebuah acara Leadership Camp ASN Sulawesi Selatan di Asrama Haji Sudiang Makassar. Ia menekankan bahwa sektor pertanian sangat membutuhkan pemimpin yang tidak ragu untuk membongkar sistem lama. Sistem yang dimaksud adalah yang berbelit dan tidak efektif.
Menurutnya, reformasi regulasi, subsidi, hingga tata niaga merupakan langkah konkret. Langkah ini penting untuk memastikan kebijakan pertanian benar-benar berdampak positif bagi para petani.
Reformasi Sistem Pertanian untuk Efisiensi dan Kedaulatan
Mentan Amran menyoroti bahwa melakukan hal yang sama dan mengharapkan hasil berbeda adalah tidak masuk akal. Oleh karena itu, perubahan sistem menjadi sebuah keharusan agar Indonesia dapat melompat maju.
Sebagai bukti nyata dari kepemimpinan transformatif, ia memaparkan keberhasilan reformasi tata kelola pupuk bersubsidi. Reformasi ini dilakukan melalui deregulasi 145 aturan yang sebelumnya ada.
Penyederhanaan distribusi pupuk bersubsidi juga telah dilakukan. Sistem yang sebelumnya panjang dan rumit kini dipangkas. Ini membuat prosesnya lebih efisien dan transparan.
Distribusi pupuk bersubsidi kini hanya melibatkan Kementerian Pertanian, PT Pupuk Indonesia, serta Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) atau pengecer. Ini adalah ujung distribusi langsung kepada petani. Reformasi ini berhasil menurunkan biaya pupuk bersubsidi hingga 20 persen. Selain itu, volume pupuk juga meningkat 700 ribu ton tanpa tambahan anggaran. Langkah ini memperkuat kepastian pasokan dan meningkatkan efisiensi di tingkat petani. Pemerintah juga berencana membangun tujuh pabrik pupuk baru untuk memperkuat ketahanan pasokan nasional dalam jangka panjang.
Hilirisasi Komoditas Pertanian untuk Nilai Tambah Bangsa
Selain reformasi sistem, Mentan Amran juga menekankan pentingnya hilirisasi komoditas pertanian. Ini dianggap sebagai bagian dari kepemimpinan strategis. Tujuannya adalah untuk menjaga nilai tambah bagi bangsa.
“Seluruh kekayaan kita dihilirisasi. Jangan ekspor bahan mentah. Nilai tambahnya harus untuk rakyat,” tegasnya. Ia melihat peluang besar dalam hilirisasi kelapa. Ini seiring dengan pergeseran pola konsumsi pangan global, termasuk di China. Konsumen mulai beralih dari susu hewani ke susu nabati berbasis kelapa.
Potensi nilai ekonomi dari hilirisasi kelapa ini diperkirakan bisa mencapai Rp5.000 triliun. Mentan juga menyoroti komoditas gambir. Indonesia menguasai sekitar 80 persen bahan bakunya. Namun, proses pengolahannya masih banyak dilakukan di luar negeri.
“Gambir kita diekspor ke India, lalu dijual kembali oleh India ke Amerika. Potensinya bisa mencapai Rp5.000 triliun,” ungkapnya. Untuk komoditas CPO, Indonesia menguasai sekitar 60–70 persen pasar dunia. Dengan strategi penguatan biofuel dan pengurangan impor solar, nilai tambahnya dapat melonjak signifikan. Dari tiga komoditas ini saja, hilirisasi berpotensi menghasilkan Rp15.000 triliun.
Sumber: AntaraNews