Fakta Unik: 160 Petani Jabar Ikuti Pelatihan, Kemenko PM Dorong Petani Go Digital Perkuat Rantai Pasok

Kemenko PM menggelar pelatihan strategis di Jabar untuk mendorong petani go digital dan koperasi sebagai off-taker, mengatasi tantangan pemasaran serta efisiensi rantai pasok lokal.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Fakta Unik: 160 Petani Jabar Ikuti Pelatihan, Kemenko PM Dorong Petani Go Digital Perkuat Rantai Pasok
Kemenko PM menggelar pelatihan strategis di Jabar untuk mendorong petani go digital dan koperasi sebagai off-taker, mengatasi tantangan pemasaran serta efisiensi rantai pasok lokal. (AntaraNews)

Kementerian Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat (Kemenko PM) baru-baru ini meluncurkan inisiatif strategis untuk mendorong sektor pertanian dan koperasi di Jawa Barat agar lebih adaptif terhadap era digital. Pelatihan ini bertujuan mempercepat transformasi digital, khususnya bagi petani muda dan koperasi, demi meningkatkan efisiensi dan daya saing.

Bertempat di Koperasi Pondok Pesantren (Kopontren) Al-Ittifaq, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, program ini melibatkan 160 peserta dari 27 kabupaten/kota. Mereka dibekali kemampuan untuk memasarkan produk secara digital serta memperkuat peran koperasi sebagai off-taker dalam rantai pasok lokal.

Deputi Bidang Koordinasi Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat dan Pelindungan Pekerja Migran Kemenko PM, Leon Alpha Edison, menjelaskan bahwa pelatihan ini merupakan respons terhadap dua tantangan utama. Ini adalah upaya nyata pemerintah dalam mengatasi kesulitan pemasaran produk petani dan inefisiensi rantai pasok.

Mengatasi Tantangan Pemasaran dan Rantai Pasok

Kemenko PM mengidentifikasi adanya dua permasalahan krusial di lapangan yang menjadi dasar penyelenggaraan pelatihan ini. Pertama, banyak petani muda masih menghadapi kendala signifikan dalam memasarkan hasil produksi mereka secara mandiri melalui berbagai platform digital yang tersedia.

Kedua, peran koperasi sebagai offtaker atau pembeli produk dari petani di daerah masih belum optimal. Kondisi ini menyebabkan rantai pasok menjadi terlalu panjang dan pada akhirnya berdampak pada tingginya biaya logistik, yang merugikan petani maupun konsumen.

Leon Alpha Edison menegaskan, "Kami menemukan dua tantangan utama. Pertama, petani muda masih kesulitan memasarkan produk secara mandiri melalui platform digital. Kedua, belum banyak koperasi yang berperan sebagai offtaker di daerah, sehingga rantai pasok menjadi panjang dan biaya logistik tinggi." Pernyataan ini menggarisbawahi urgensi intervensi pemerintah.

Melalui program ini, Kemenko PM berupaya memberikan solusi konkret. Ini diharapkan dapat memutus mata rantai masalah tersebut, sekaligus menciptakan ekosistem pertanian yang lebih efisien dan berkelanjutan di masa depan.

Dua Program Pelatihan Strategis untuk Petani Go Digital

Untuk menyikapi temuan permasalahan tersebut, Kemenko PM menghadirkan dua program pelatihan yang terfokus dan relevan. Program pertama bertajuk "Berdaya Bersama", yang diikuti oleh 100 petani muda dan pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dari berbagai daerah.

Materi yang disampaikan dalam program "Berdaya Bersama" meliputi strategi digital marketing dan teknik pembuatan konten kreatif yang menarik. Pelatihan ini menggandeng mentor ahli dari Kementerian Koperasi dan UKM, DCT Agency, serta praktisi content creator profesional.

Sementara itu, pelatihan kedua diberi nama "Replikasi Model Rantai Pasok Lokal", yang secara khusus ditujukan bagi perwakilan koperasi dari seluruh Jawa Barat. Program ini berfokus pada pengembangan model bisnis dan manajemen rantai pasok yang efektif.

Selama dua hari, para peserta koperasi mendalami model bisnis yang telah berhasil diterapkan oleh Kopontren Al-Ittifaq. Mereka belajar langsung dari narasumber Kementerian Koperasi dan tim Al-Ittifaq, mendapatkan wawasan praktis untuk diterapkan di wilayah masing-masing.

Kolaborasi untuk Ekosistem Ekonomi Inklusif

CEO Kopontren Al-Ittifaq, Irawan, menyambut baik inisiatif Kemenko PM yang menjadikan lembaganya sebagai pusat pelatihan dan replikasi model. "Kami siap berbagi pengalaman dan model bisnis yang telah kami jalankan agar bisa diterapkan di berbagai daerah," kata Irawan.

Irawan menambahkan bahwa kolaborasi semacam ini sangat penting untuk memperkuat ekosistem agribisnis pesantren dan pada akhirnya meningkatkan kesejahteraan petani secara signifikan. Keterlibatan langsung dari pihak yang telah berhasil menjadi contoh nyata.

Leon Alpha Edison juga menekankan bahwa kegiatan ini merupakan bagian integral dari upaya konsolidasi lintas pemangku kepentingan. Tujuannya adalah untuk memperkuat ekosistem ekonomi inklusif di tingkat akar rumput, memastikan manfaatnya dirasakan langsung oleh masyarakat.

Leon menutup dengan menyatakan, "Tujuan akhirnya adalah memastikan intervensi pemerintah memberikan dampak nyata terhadap pengurangan kemiskinan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan." Ini menunjukkan komitmen jangka panjang pemerintah terhadap pembangunan ekonomi yang merata.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi