Bikin Heboh Sebar Hoaks Dibegal hingga Kritis, Luka Ansy Jan De Vries Ternyata Akibat Bisul Pecah Bukan Dibacok
Kepolisian sudah memanggil Ansy Jan De Vries untuk klarifikasi guna mendalami motif di balik unggahan tersebut.
Kepolisian membongkar cerita model Ansy Jan De Vries yang mengaku menjadi korban begal dan pembacokan. Kepolisian mengungkapkan bahwa luka Ansy Jan De Vries sempat viral di media sosial dipastikan bukan akibat sabetan senjata tajam, melainkan bisul pecah.
Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Budi Hermanto mengatakan, penyidik kepolisian bersama tim medis dan psikolog telah mendalami kasus tersebut.
“Ini sudah didalami, termasuk sudah dilakukan visum et repertum terhadap luka. Kami ulangi kembali, luka tersebut adalah bisul yang meletus. Jadi bukan karena bacokan pelaku begal," kata Budi saat konferensi pers di Mapolda Metro Jaya, Jumat (22/5).
Kronologi Perkara
Kasus itu bermula dari unggahan salah satu model yang mengaku menjadi korban tindak pidana. Kepolisian lalu bergerak melakukan penyelidikan.
Direktorat PPA-PPO, Subdit PPA-PPO Jakarta Barat, Polsek Kebon Jeruk, Dokkes Polda Metro Jaya sampai tim psikolog diterjunkan untuk menemui model Ansy Jan De Vries.
Menurut Budi, Direktorat Siber Polda Metro Jaya juga sudah memanggil Ansy Jan De Vries untuk klarifikasi guna mendalami motif di balik unggahan tersebut.
“Nah, pada saat kemarin dilakukan undangan klarifikasi dari Direktorat Siber Polda Metro Jaya untuk mendalami apa motif dari yang bersangkutan,” ujar dia.
Kepolisian mendalami kemungkinan ada upaya membangun opini lewat narasi korban kriminal yang ternyata tak sesuai fakta.
“Apakah ada suatu upaya kelompok-kelompok tertentu membuat cipta kondisi dengan mengunggah, mengaku bahwa yang bersangkutan adalah bagian dari korban? Nah, itu yang ingin kita klarifikasi," ujar Budi.
Begal Dipastikan Hoaks
Budi menegaskan kabar pembegalan diunggah Asy Jan De Vries itu dipastikan bohong. “Dan kami sampaikan pada konferensi pers ini bahwa berita tersebut adalah bohong," kata Budi.
Budi mengingatkan masyarakat agar tidak asal memakai media sosial dan membuat unggahan yang memicu kegaduhan. “Sebenarnya tujuan kita adalah untuk memberikan edukasi, literasi kepada masyarakat untuk tidak mudah, tidak sembarangan menggunakan media sosial," tandas dia.