Dari Krisis Pangan ke Peluang Emas, Mengapa Milenial Harus Aktif di Sektor Pertanian?
Peran kaum muda sangat penting bagi Indonesia untuk swasembada pangan.
Demi mendorong kontribusi generasi milenial di sektor pertanian, Ketua Umum Forum Masyarakat Indonesia Emas (Formas), Yohanes Handoyo Budhisedjati, menegaskan pentingnya peran kaum muda dalam menjaga ketahanan pangan nasional.
Menurutnya, ini adalah langkah strategis untuk memastikan Indonesia tetap mampu memenuhi kebutuhan pangan di tengah ancaman krisis global.
“Itu adalah sebagai trigger, sebagai pancingan untuk semua petani. Ayo kita sekarang mulai bangkit, ya. Ketahanan pangan, kita melihat bagaimana secara global,” ujar Yohanes dalam acara Strategi Menjadi Petani Milenial Sukses, di Gedung DPR RI, Jakarta, Rabu (22/1).
Yohanes menambahkan, Indonesia memiliki banyak lahan yang belum dimanfaatkan secara optimal, yang jika dikelola dengan baik, dapat menjadi solusi ketahanan pangan yang berkelanjutan. Dia juga menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam memperkuat sektor pertanian.
“Sebagai negara agraris, kita juga harus benar-benar membuktikan diri kita bahwa lahan masih cukup banyak untuk kita tanam. Kebutuhan-kebutuhan pangan, baik di dalam negeri, juga kita harus segera perkuat, ya. Inilah trigger-trigger kita. Dan Forum Masyarakat Indonesia emas ingin bekerjasama dengan semua pihak, semua anak bangsa yang bergerak sekarang di dalam bidang-bidang pertanian, bidang-bidang pangan, untuk mari segera kita bangkit,” terang dia.
Tantangan dan Solusi di Sektor Pertanian
Namun, Yohanes tidak menutup mata terhadap berbagai tantangan yang ada. Menurutnya, salah satu kendala utama adalah kurangnya koordinasi antara berbagai inisiatif yang ada. Banyak pelaku di sektor ini yang masih bekerja secara terpisah tanpa sinergi yang jelas.
Dia berharap kolaborasi antara Kementerian Pertanian dan Kementerian Desa dapat menjadi solusi untuk menyatukan upaya-upaya tersebut.
Senada dengan Yohanes, Ketua Dewan Penasihat Paguyuban Pariban 08, Ahmad Malino, menyoroti rendahnya minat generasi milenial terhadap sektor pertanian.
“Yang mana milenial ini sekarang memang cenderung pola kerjanya yang mana enggan ke pertanian. Senangnya kan modern, instant, dan lain-lain. Ini memang PR kita. Maka dari itu kita perlu stimulus, ya. Milenial ini biasanya berkaitan sama digital,” ungkap Ahmad.
Transformasi Pertanian Melalui Teknologi dan Edukasi
Ahmad juga menggarisbawahi pentingnya mengedukasi generasi muda, khususnya mahasiswa, mengenai potensi besar sektor pertanian. Dia menyayangkan fakta bahwa banyak lulusan pertanian memilih bekerja di sektor perbankan atau bidang lain yang tidak berkaitan langsung dengan latar belakang pendidikannya.
“Nah, platform digital ini, ini kita gabungkan dengan teknologi pertanian yang ada. Tentunya pemerintah harus itu mendukung. Baik dari sisi huluk pertanian, prosesnya maupun hilirnya. Sehingga pertanian kita itu nanti akan menjadi daya tarik bagi milenial. Itu yang penting. Dan ini bukan hanya sampai di sini saja,” tambah Ahmad.
Dia juga mengapresiasi perhatian Menteri Pertahanan Prabowo Subianto terhadap sektor pertanian, khususnya dalam memperkuat suasana pendapatan petani. Ahmad optimis, dengan program yang dijalankan secara intensif dan berkelanjutan, akan ada hasil positif di masa depan.
"Kalau saya yakin, insyaallah ini kalau kita maraton terus-menerus di awal 2025 ini, insyaallah bisa membuahkan hasil. Karena positif dari gen Z-gen Z milenial ini memang secara volume banyak sekali. Tapi memang tidak terarah," tutup dia.