Inovasi Energi Hijau Angkot Pete-pete Makassar: Antara Hemat Biaya dan Risiko Keselamatan
Menelisik upaya sopir angkot "pete-pete" di Makassar yang beralih ke LPG demi hemat biaya, memunculkan dilema inovasi energi hijau versus risiko keselamatan dan regulasi yang belum jelas.
Di tengah hiruk pikuk lalu lintas Kota Makassar, angkutan kota yang dikenal sebagai "pete-pete" masih beroperasi, meskipun dengan tantangan berat akibat persaingan ketat. Angkot legendaris ini, yang pernah menjadi raja jalanan, kini berjuang untuk bertahan di tengah gempuran transportasi daring dan kendaraan pribadi. Namun, di balik perjuangan tersebut, muncul sebuah inovasi tak terduga yang bersinggungan dengan gagasan energi hijau.
Para sopir "pete-pete" di Makassar, seperti Yunus, menemukan cara untuk mengurangi biaya operasional yang membengkak dengan beralih menggunakan gas elpiji 3 kilogram sebagai bahan bakar. Keputusan ini bukan didasari oleh idealisme lingkungan, melainkan murni dorongan ekonomi untuk menyambung hidup. Inovasi ini, meski hemat, menimbulkan pertanyaan besar terkait keselamatan dan regulasi.
Fenomena ini menyoroti ironi transisi energi di tingkat akar rumput, di mana kebutuhan mendesak untuk bertahan hidup mendorong praktik yang berpotensi berbahaya. Kondisi ini juga menantang pemerintah untuk menghadirkan solusi yang tidak hanya murah, tetapi juga aman dan adil bagi seluruh lapisan masyarakat.
Sejarah dan Tantangan Angkot Pete-pete di Makassar
Angkutan kota "pete-pete" memiliki sejarah panjang di Makassar, mencapai puncak kejayaannya pada era 1980-an hingga akhir 2000-an. Pada masa itu, "pete-pete" bukan hanya alat transportasi, melainkan bagian integral dari kehidupan sosial kota, menjadi tempat interaksi dan berbagi cerita antarwarga. Suara mesin khas dan teriakan kernet menjadi identitas jalanan Makassar.
Namun, seiring waktu, peran "pete-pete" mulai tergerus oleh perkembangan teknologi dan perubahan pola mobilitas masyarakat. Kehadiran layanan ojek daring dan kemudahan memiliki kendaraan pribadi secara perlahan mengikis jumlah penumpang setia "pete-pete". Hal ini menyebabkan banyak rute yang dulu ramai kini menjadi sepi, memaksa para sopir mencari cara untuk tetap bertahan.
Kawasan Sudiang, yang dulunya menjadi titik kumpul ramai bagi sopir dan penumpang, kini sering terlihat lengang. Beberapa "pete-pete" terparkir di bawah pohon, menunggu penumpang yang tak kunjung datang, menggambarkan betapa sulitnya kondisi ekonomi para sopir. Situasi ini mendorong mereka untuk mencari solusi alternatif demi kelangsungan hidup.
Inovasi Hemat Biaya: LPG sebagai Bahan Bakar Alternatif
Di tengah kesulitan ekonomi, sopir "pete-pete" seperti Yunus menemukan solusi tak terduga untuk menekan biaya operasional mereka. Yunus beralih menggunakan tabung elpiji 3 kilogram, yang dikenal sebagai "gas melon", sebagai pengganti bahan bakar minyak untuk kendaraannya. Keputusan ini diambil bukan karena kesadaran lingkungan, melainkan semata-mata untuk menghemat pengeluaran harian.
Perbedaan biaya operasional sangat signifikan; jika menggunakan bensin, Yunus bisa menghabiskan hingga Rp200 ribu per hari, namun dengan gas elpiji, pengeluarannya turun drastis menjadi sekitar Rp80 ribu. Selisih Rp120 ribu ini menjadi penyelamat bagi ekonomi keluarganya, memberikan ruang bernapas di tengah himpitan biaya hidup.
Yunus mempelajari sendiri cara mengonversi kendaraannya melalui video di YouTube, melalui proses coba-coba selama dua tahun. Tanpa pelatihan formal atau sertifikasi, ia berhasil mengadaptasi sistem ini. Ironisnya, dari keterbatasan ini, Yunus justru menjadi rujukan bagi sopir "pete-pete" lain yang tertarik untuk mengadopsi inovasi serupa.
Dilema Keselamatan dan Regulasi Energi Hijau
Meskipun penggunaan gas elpiji berpotensi mengurangi emisi, praktik ini menimbulkan kekhawatiran serius terkait keselamatan. Tabung elpiji 3 kilogram tidak dirancang untuk penggunaan kendaraan dan tidak memiliki standar keselamatan yang memadai untuk instalasi di mobil. Tidak adanya uji kelayakan membuat seluruh sistem bergantung pada improvisasi yang berisiko tinggi.
Muhammad Farid, seorang dosen teknik mesin dari Universitas Negeri Makassar, mengingatkan bahwa sistem bahan bakar gas memerlukan standar keselamatan yang ketat. Kesalahan instalasi kecil dapat menyebabkan kebocoran gas, yang berpotensi memicu percikan api dan bahkan ledakan. Peringatan ini menggarisbawahi bahaya laten yang mengintai para sopir dan penumpang.
Selain masalah keselamatan, praktik ini juga berada dalam wilayah abu-abu secara hukum. Pertamina menegaskan bahwa elpiji 3 kilogram adalah gas subsidi yang khusus diperuntukkan bagi rumah tangga, bukan untuk kendaraan. Penggunaan untuk kendaraan dapat dianggap melanggar aturan, meskipun secara lingkungan ada potensi pengurangan emisi sekitar 21 persen.
Para penumpang, seperti Yusrianti, awalnya merasakan kekhawatiran, namun penjelasan dari sopir seringkali menenangkan mereka. Hingga saat ini, belum ada insiden besar yang dilaporkan, tetapi ketenangan ini bisa jadi rapuh, berdiri di atas fondasi ketidakpastian tanpa jaminan keamanan yang jelas.
Harapan dan Peran Pemerintah dalam Transisi Energi
Fenomena "pete-pete" berbahan bakar gas ini menyoroti ironi besar dalam komitmen energi bersih di Indonesia. Di tingkat pusat, pemerintah gencar menggaungkan transisi menuju energi hijau, namun di tingkat akar rumput, transisi ini berjalan tanpa arah, panduan, atau perlindungan yang jelas dari negara. Para sopir seperti Yunus tidak berbicara tentang emisi karbon, melainkan tentang bertahan hidup.
Ir Lambang Basri, ST, MT, PhD, seorang pengamat transportasi dari Universitas Hasanuddin, menekankan bahwa kondisi ini harus menjadi perhatian serius pemerintah. Sopir angkot membutuhkan solusi yang tidak hanya terjangkau, tetapi juga aman dan berkelanjutan. Keadilan energi menjadi krusial, memastikan akses terhadap energi bersih tidak hanya menjadi privilese pihak tertentu.
Ironisnya, praktik ini bahkan belum sepenuhnya terdeteksi oleh otoritas setempat hingga temuan lapangan mulai mencuat. Meskipun janji untuk menindaklanjuti telah terdengar, respons pemerintah seringkali tertinggal dari cepatnya perkembangan di lapangan. Di bawah pohon di Sudiang, tabung gas kecil itu menjadi simbol harapan sekaligus risiko yang menggantung.
Pemerintah diharapkan dapat hadir dengan solusi konkret, seperti program konversi bahan bakar yang aman dan bersubsidi, serta edukasi tentang risiko penggunaan elpiji yang tidak sesuai standar. Transisi energi hijau bukan hanya tentang menurunkan emisi, tetapi juga tentang menghadirkan solusi yang aman, terjangkau, dan adil bagi semua.
Sumber: AntaraNews