Tabung gas subsidi 3 kilogram menjadi barang langka saat ini. Dampak kebijakan pemerintah, gas elpiji hanya bisa didapat di pangkalan yang sudah mendaftarkan diri ke Pertamina.
Warga terpaksa harus berkeliling jauh untuk mendapatkan gas elpiji karena tidak bisa lagi ditemukan di warung kecil. Secara harga, memang lebih kurang beberapa ribu dari pengecer.
Di wilayah Tangerang, saat ini harga gas elpiji 3 kilogram dibanderol Rp19.000. Tetapi, hanya bisa didapat di pangkalan atau distributor gas elpiji. Sementara di eceran Rp22-24 ribu pertabung.
Haidi Rahman (32), warga Sodong, Kabupaten Tangerang mengaku perlu tenaga, waktu dan biaya lebih agar bisa mendapatkan tabung gas subsidi murah tersebut.
“Kalau di jual di warung-warung seperti kemarin kita enggak repot. Jalan kaki saja bisa, meski harganya memang lebih mahal,” kata Haidi, Senin (3/2).
Menurut dia penjualan di pangkalan-pangkalan gas elpiji cukup merepotkan. Apalagi, jumlah yang dibeli tak boleh lebih dari satu. Ditambah lagi, harus membawa bukti fotocopy ktp.
“Belum antre, jarak dari rumah ke pangkalan itu yang sangat merepotkan. Eh cuma dijatah satu tabung kita harus jauh-jauh, ongkosnya berapa, kalau punya motor perlu bensin. Yang engga punya motor gimana, jalan. Apa ngojek kan tambah biaya," ujar karyawan swasta ini.
Dini, ibu rumah tangga pun mengeluhkan hal yang sama. Sebab, selain kehabisan waktu untuk mengantre agar memperoleh tabung gas subsidi, dia juga dipusingkan dengan jadwal antar-jemput anak sekolah.
“Antre lama banget, belum saya jemput anak sekolah. Belum masak, beberes rumah ini jadi merepotkan. Nanti anak pulang juga belum ada yang dimasak engga punya gas,” ujarnya.
Lantaran sulit memperoleh gas elpiji di pangkalan dan agen distributor yang ditunjuk pemerintah, dia mengaku lebih rela membayar agak mahal sedikit tetapi tabung gas melon bisa kembali diperjualbelikan di warung-warung kecil dekat lingkungan tempat tinggal warga.
“Mending dijual di warung-warung Madura, kita engga kalah waktu, tenaga jadi bisa banyak yang dikerjakan. Inikan kita cuma repot cari gas, belum lagi lama-lama antre eh disetop karena habis atau takut rusuh. Jadi kebijakan begini engga efektif malah buat masyarakat sengsara,” katanya.