Bulog Lipatgandakan Stok Pangan di Sumbagut Jelang Ramadhan 2026
Perum Bulog mengambil langkah strategis dengan melipatgandakan stok pangan di wilayah Sumatera bagian utara (Sumbagut) hingga tiga kali lipat jelang Ramadhan 2026, guna memastikan ketersediaan dan stabilitas harga.
Perum Bulog secara proaktif melipatgandakan stok pangan di wilayah Sumatera bagian utara (Sumbagut) sebagai langkah antisipasi menjelang Ramadhan 2026. Kebijakan ini diterapkan untuk menjaga ketersediaan pasokan serta menstabilkan harga, khususnya di daerah-daerah pascabencana yang rentan terhadap gangguan distribusi. Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani, menjelaskan bahwa penguatan cadangan ini mencakup wilayah Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
Langkah antisipatif ini diambil mengingat potensi lonjakan kebutuhan pangan yang signifikan selama bulan Ramadhan. Selain itu, Bulog juga mempertimbangkan kemungkinan hambatan logistik akibat kondisi cuaca ekstrem atau bencana alam. Rizal menegaskan bahwa strategi ini merupakan bagian dari komitmen Bulog untuk memastikan masyarakat dapat mengakses pangan dengan mudah dan harga yang terjangkau.
Penguatan stok ini dilakukan hingga tiga kali lipat dari kebutuhan normal di masing-masing kabupaten dan kota, terutama untuk daerah yang rawan bencana. Skema ini memastikan bahwa jika suatu wilayah membutuhkan 1.000 ton, Bulog akan menyiapkan hingga 3.000 ton sebagai cadangan pengaman. Ini adalah upaya konkret untuk mencegah kelangkaan dan gejolak harga di masa krusial.
Strategi Pengamanan Stok Pangan di Wilayah Rawan Bencana
Perum Bulog menerapkan strategi pengamanan stok pangan yang komprehensif di wilayah Sumbagut, khususnya di area yang memiliki risiko bencana tinggi. Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani, menjelaskan bahwa stok pangan dilipatgandakan hingga tiga kali lipat dari kebutuhan normal di setiap kabupaten dan kota yang rawan bencana. Tujuannya adalah memastikan masyarakat tetap memperoleh pasokan pangan tanpa harus menunggu distribusi dari wilayah lain ketika terjadi gangguan cuaca atau kondisi darurat.
Sebagai contoh, jika sebuah wilayah membutuhkan 1.000 ton pasokan, Bulog akan mempersiapkan cadangan hingga 3.000 ton. Langkah ini merupakan respons cepat Bulog terhadap potensi hambatan logistik yang sering terjadi di musim hujan atau pascabencana. Data per 28 Desember 2025 menunjukkan stok beras di Provinsi Aceh berada di kisaran 97 ribu ton, Sumatera Utara sekitar 25 ribu ton, dan Sumatera Barat sekitar 9 ribu ton, yang menjadi dasar perhitungan penambahan stok.
Perhatian khusus juga diberikan pada tradisi meugang di Aceh, yang secara historis mendorong peningkatan konsumsi pangan menjelang Ramadhan. Gudang-gudang Bulog di Aceh dipenuhi semaksimal mungkin dengan komoditas utama seperti beras, minyak goreng, dan gula. Penguatan stok juga difokuskan di Sumatera Utara dan Sumatera Barat yang sebelumnya terdampak bencana dan berpotensi menghadapi kendala distribusi.
Fokus Komoditas dan Sinergi Distribusi
Dalam upaya menjaga stabilitas harga dan ketersediaan pasokan, Bulog memfokuskan pengamanan stok pada komoditas pangan pokok yang paling dibutuhkan masyarakat. Komoditas utama yang menjadi prioritas adalah beras, minyak goreng, dan gula, yang merupakan kebutuhan dasar sehari-hari. Penekanan pada komoditas ini bertujuan untuk mengendalikan inflasi dan memastikan daya beli masyarakat tetap terjaga selama periode Ramadhan.
Rizal menegaskan bahwa pengamanan stok jelang Ramadhan sejalan dengan arahan pemerintah agar harga pangan tidak melampaui harga eceran tertinggi (HET). Bulog diminta untuk menjaga agar harga beras, minyak, dan gula tetap terkendali selama Ramadhan. Hal ini menunjukkan komitmen pemerintah dalam melindungi konsumen dari potensi kenaikan harga yang tidak wajar.
Untuk menjamin kelancaran distribusi hingga ke tingkat kabupaten dan kota, Bulog bersinergi dengan berbagai pihak. Sinergi ini melibatkan Satgas Pangan, pemerintah daerah, serta aparat TNI dan Polri. Kolaborasi lintas sektor ini krusial untuk mengatasi berbagai tantangan logistik dan memastikan pasokan pangan sampai ke tangan masyarakat secara efektif dan efisien.
Target Penyerapan Beras Nasional dan Ketahanan Pangan
Penguatan cadangan pangan di Sumatera juga merupakan bagian integral dari kesiapan Bulog menghadapi peningkatan kebutuhan pangan nasional pada tahun 2026. Bulog telah menerima penugasan dari pemerintah untuk menyerap beras hingga 4 juta ton pada tahun 2026, sebuah peningkatan signifikan dibandingkan target 3 juta ton pada tahun 2025. Peningkatan target ini mengindikasikan pentingnya pengelolaan stok yang lebih ketat dan terukur.
Peningkatan target penyerapan beras ini mencerminkan upaya pemerintah dalam memperkuat ketahanan pangan nasional secara keseluruhan. Dengan target yang lebih tinggi, Bulog dituntut untuk mengelola rantai pasokan dengan lebih efisien, mulai dari penyerapan gabah petani hingga distribusi ke konsumen. Ini juga menjadi indikator bahwa pemerintah memandang serius isu ketersediaan pangan jangka panjang.
Rizal menyatakan bahwa pengamanan pasokan menjelang Ramadhan adalah bagian dari upaya yang lebih luas untuk menjaga ketahanan pangan nasional dan memberikan kepastian kepada masyarakat. Bulog ingin masyarakat bisa menjalani Ramadhan dengan tenang karena pasokan aman dan harga tetap stabil. Komitmen ini bertujuan untuk menciptakan suasana kondusif bagi masyarakat dalam menjalankan ibadah dan aktivitas sehari-hari.
Sumber: AntaraNews