Bulog Pastikan Stabilitas Harga Pangan dan Stok Aman Jelang Ramadan 2026
Perum Bulog menegaskan komitmennya dalam menjaga stabilitas harga pangan dan ketersediaan stok strategis secara nasional menjelang Ramadan hingga Idul Fitri 2026, memastikan pasokan aman bagi masyarakat.
Perum Bulog menyatakan kesiapan penuh dalam menjaga stabilitas harga pangan dan ketersediaan stok strategis nasional. Komitmen ini diungkapkan menjelang periode penting Ramadan dan Idul Fitri 2026. Direktur Utama Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani, menegaskan pola pengamanan pasar akan diterapkan serupa dengan Natal dan Tahun Baru sebelumnya.
Langkah proaktif ini bertujuan untuk memastikan pasokan pangan tetap terjaga dan harga stabil di seluruh wilayah Indonesia. Bulog akan bekerja sama dengan seluruh pemangku kepentingan untuk turun langsung ke lapangan. Ini adalah bagian dari upaya pemerintah dalam menjaga daya beli masyarakat dan mengendalikan inflasi.
Hingga awal Februari 2026, Bulog mengelola stok beras signifikan mencapai 3,3 juta ton, termasuk Cadangan Beras Pemerintah (CBP). Selain beras, komoditas strategis lain seperti gula, jagung, dan minyak goreng juga tersedia dalam jumlah memadai.
Kesiapan Stok Pangan Strategis Nasional
Perum Bulog memastikan ketersediaan stok pangan strategis dalam jumlah yang memadai untuk menghadapi lonjakan permintaan menjelang Ramadan dan Idul Fitri 2026. Hingga 2 Februari 2026, stok beras yang dikelola Bulog mencapai 3,3 juta ton, terdiri dari 3,22 juta ton Cadangan Beras Pemerintah (CBP) dan 95.523 ton stok komersial. Jumlah ini menunjukkan kesiapan Bulog dalam menyangga kebutuhan beras nasional.
Selain beras, Bulog juga mengelola persediaan komoditas pangan penting lainnya. Stok gula pasir tercatat sebanyak 11.675 ton, jagung 53.637 ton, dan minyak goreng sebesar 15.475 kiloliter. Ketersediaan stok pangan ini tersebar di berbagai wilayah Indonesia, berfungsi sebagai instrumen utama untuk mendukung stabilitas harga dan kepastian pasokan.
Direktur Utama Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani, menekankan bahwa stok pangan tersebut siap digunakan untuk menjaga stabilitas harga dan pasokan, tidak hanya menjelang Ramadan dan Idul Fitri, tetapi juga Imlek. Komitmen ini mencerminkan peran Bulog sebagai penyangga pangan nasional yang krusial.
Strategi Pengamanan Harga dan Distribusi Minyak Goreng
Dalam upaya menjaga stabilitas harga pangan, Bulog juga fokus pada pengamanan harga minyak goreng, khususnya MinyaKita, di tingkat konsumen. Rizal menjelaskan bahwa Bulog siap melaksanakan penugasan pemerintah terkait distribusi minyak goreng melalui skema domestic market obligation (DMO). Alokasi DMO sebesar 30 persen dari total pasokan nasional dibagi kepada BUMN pangan, dengan porsi 70 persen untuk Bulog.
Melalui skema ini, Bulog memperoleh pasokan sekitar 30 ribu kiloliter minyak goreng setiap bulan. Pada periode sebelumnya, penyaluran telah mencapai sekitar 21,8 ribu kiloliter. Untuk Februari 2026, pasokan kembali disiapkan sebesar 30 ribu kiloliter untuk disalurkan, terutama ke pengecer dan pasar.
Distribusi yang terencana ini bertujuan agar harga minyak goreng tetap stabil dan terjangkau bagi masyarakat. Kesiapan operasional Bulog dalam menyalurkan MinyaKita merupakan bagian integral dari strategi menjaga stabilitas harga pangan secara keseluruhan.
Penyaluran Bantuan Pangan untuk Daya Beli Masyarakat
Selain menjaga stok dan harga, Bulog juga siap menyalurkan bantuan pangan yang ditugaskan pemerintah kepada Keluarga Penerima Manfaat (KPM). Bantuan ini berupa 10 kilogram beras dan 2 liter MinyaKita kepada 33,2 juta KPM untuk alokasi Februari dan Maret 2026. Program ini merupakan stimulus ekonomi penting.
Untuk dua bulan penyaluran tersebut, Bulog akan mendistribusikan sekitar 664,8 ribu ton beras dan 132,9 ribu kiloliter minyak goreng. Penyaluran bantuan pangan ini memiliki peran ganda, yaitu menjaga daya beli masyarakat dan mengendalikan inflasi pangan menjelang periode hari raya. Rizal menegaskan bahwa Bulog telah menyiapkan stok dan kesiapan operasional agar bantuan dapat tersalurkan tepat waktu dan tepat sasaran.
Komitmen Bulog untuk terus menjalankan perannya sebagai penyangga pangan nasional sangat vital. Hal ini memastikan ketersediaan, keterjangkauan, dan stabilitas harga pangan bagi seluruh masyarakat Indonesia, terutama di momen-momen krusial seperti Ramadan dan Idul Fitri.
Sumber: AntaraNews