BPS Jawab Kabar Data Pertumbuhan Ekonomi Kuartal II 2025 yang Diragukan
Puji lantas mencontohkan metode penghitungan produk domestik bruto (PDB) maupun produk domestik regional bruto (PDRB) yang berpedoman pada SNN.
Data pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III 2025 yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS) sempat dipertanyakan beberapa pihak. Lantaran angka pertumbuhan sebesar 5,12 persen kala itu diklaim melampaui ekspektasi.
Menanggapi hal tersebut, Direktur Neraca Produksi BPS Puji Agus Kurniawan menyampaikan, pihaknya telah menyediakan statistik resmi menggunakan metodologi dan proses bisnis yang standar. Sehingga memiliki keterbandingan secara internasional dan kualitas yang terjaga.
Puji lantas mencontohkan metode penghitungan produk domestik bruto (PDB) maupun produk domestik regional bruto (PDRB) yang berpedoman pada Sistem Neraca Nasional (SNN) 2008.
"Kami menyampaikan tadi berapa data yang digunakan untuk menghitung PDB. Jadi kalau misalkan di luar menghitung atau mengestimasi, pasti variabelnya tidak sebanyak yang digunakan oleh BPS," ujar dia dalam sesi Workshop Wartawan di Kantor BPS, Jakarta, Selasa (21/4).
Sebagai contoh, ia memaparkan penghitungan PDB/PDRB lewat pendekatan produksi atau lapangan usaha yang memiliki 17 variabel. Mulai dari Pertanian, Kehutanan dan Perikanan; Pertambangan dan Penggalian, Industri Pengolahan, hingga jasa lainnya.
"Secara teknis dia lebih spesifik juga waktunya. Karena ketika saya berbicara ada 17 kategori dari pertanian sampai hulu, itu metodenya beda-beda, tergantung dengan data yang tersedia," ungkap Puji.
Adapun dalam menghitung PDB/PDRB, BPS memakai tiga pendekatan. Selain pendekatan produksi, BPS juga mendorong pendekatan pengeluaran dan pendapatan.
Pendekatan menurut pengeluaran meliputi variabel seperti pengeluaran konsumsi rumah tangga, pengeluaran konsumsi lembaga non profit yang melayani rumah tangga, pengeluaran konsumsi pemerintah, pembentukan modal tetap bruto (PMTB), perubahan inventori, hingga ekspor & impor barang dan jasa.
Sementara pendekatan PDB/PDRB menurut pendapatan mengikuti variabel semisal kompensasi tenaga kerja, konsumsi barang modal tetap, surplus usaha, hingga pajak lainnya dikurang subsidi lainnya atas produksi.
Jawaban Menko Airlangga
Sebelumnya Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto juga sempat merespons keraguan sejumlah pihak terhadap capaian pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,12 persen pada kuartal II 2025.
Ia menegaskan angka tersebut memiliki dasar yang kuat dari berbagai indikator ekonomi yang tumbuh positif. Menurut Airlangga, konsumsi masyarakat masih menjadi motor utama perekonomian dengan kontribusi sebesar 54% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), dan mencatat pertumbuhan sebesar 4,97 persen.
"Ya kalau kita lihat konsumen konsumsi tumbuh tinggi. Sekitar 4,97% dan itu mewakili 54%," kata Airlangga saat ditemui di kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, beberapa waktu lalu.
Selain konsumsi, sektor investasi juga menunjukkan kinerja yang menggembirakan dengan pertumbuhan mencapai 6,99 persen. Di sektor perdagangan, transaksi eceran meningkat pesat, termasuk penggunaan uang elektronik yang tumbuh 6,26 persen, serta transaksi marketplace yang tumbuh 7,5 persen secara kuartalan (quarter to quarter).
Lonjakan Investasi dan Transaksi di Eceran
"Kemudian investasi tumbuh 6,99 persen. Kemudian transaksi di eceran meningkat. Uang elektronik 6,26 persen. Kemudian marketplace tumbuh quarter to quarter 7,5 persen," beber dia.
Pariwisata Melonjak
Sementara itu, sektor pariwisata juga mengalami lonjakan signifikan seiring berbagai kebijakan yang mendorong mobilitas domestik. Airlangga Hartarto mencatat, perjalanan wisata nusantara tumbuh sebesar 22,3 persen, sedangkan kunjungan wisatawan mancanegara naik 23,32 persen. Selain itu, jumlah lapangan kerja baru yang tercipta dari Februari 2024 hingga Februari 2025 mencapai hampir 3,6 juta orang.
"Kemudian year on year jumlah lapangan pekerjaan yang tercipta. Dari Februari ke Februari itu ada sejumlah mendekati 3,6 juta," ujarnya.