Investor Global Tegaskan Kepercayaan terhadap Fundamental Ekonomi Indonesia di Tengah Gejolak Global

Salah satu sinyal positif datang dari Asian Development Bank (ADB) yang memproyeksikan ekonomi Indonesia tumbuh stabil sebesar 5,2 persen pada 2026 dan 2027.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Investor Global Tegaskan Kepercayaan terhadap Fundamental Ekonomi Indonesia di Tengah Gejolak Global
Investor Global Tegaskan Kepercayaan terhadap Fundamental Ekonomi Indonesia di Tengah Gejolak Global (Merdeka.com)

Di tengah meningkatnya tensi geopolitik global dan dampak konflik di kawasan Timur Tengah terhadap stabilitas ekonomi dunia, sejumlah pengakuan internasional dalam sepekan terakhir menegaskan kembali ketangguhan fundamental ekonomi Indonesia di mata pelaku pasar global dan lembaga multilateral.

Salah satu sinyal positif datang dari Asian Development Bank (ADB) yang memproyeksikan ekonomi Indonesia tumbuh stabil sebesar 5,2 persen pada 2026 dan 2027, naik dari realisasi 5,1 persen pada 2025. Proyeksi tersebut tercantum dalam laporan Asian Development Outlook April 2026: The Middle East Conflict Challenges Resilience in Asia and the Pacific.

Pada waktu yang hampir bersamaan, lembaga indeks global FTSE Russell pada 7 April 2026 mempertahankan status pasar modal Indonesia sebagai Secondary Emerging Market dan menegaskan tidak memasukkan Indonesia ke dalam watch list penurunan peringkat.

Kedua penilaian tersebut muncul di tengah ketidakpastian global yang dipicu konflik Timur Tengah, volatilitas harga energi, serta tekanan perdagangan internasional yang memengaruhi sejumlah ekonomi dunia.

Proyeksi ADB untuk Indonesia disusun dengan asumsi skenario stabilisasi dini konflik Timur Tengah, dan berada di atas rata-rata proyeksi subkawasan Asia Tenggara sebesar 4,7 persen pada 2026. ADB menilai kekuatan Indonesia ditopang oleh permintaan domestik yang solid, inflasi yang terjaga di kisaran 2,5 persen dalam rentang target pemerintah, serta kebijakan moneter yang dinilai terkalibrasi dengan baik.

ADB juga mencatat bahwa momentum pertumbuhan pada awal 2026 didorong oleh penguatan konsumsi rumah tangga yang ditopang peningkatan produktivitas pertanian dan faktor musiman Ramadan dan Idulfitri, keberlanjutan pembangunan infrastruktur publik, serta meningkatnya investasi sektor swasta, khususnya pada industri hilir.

Arus masuk penanaman modal asing (PMA) yang stabil turut membantu menjaga pembiayaan eksternal dan stabilitas nilai tukar, sementara kebijakan fiskal disebut berperan dalam menjaga daya beli dan investasi.

Sementara itu, penguatan posisi Indonesia di pasar modal global tercermin dari keputusan FTSE Russell yang mempertahankan status Indonesia sebagai Secondary Emerging Market. Lembaga tersebut juga mengapresiasi kemajuan implementasi delapan Rencana Aksi Percepatan Reformasi Integritas Pasar Modal, termasuk peningkatan transparansi kepemilikan saham, perluasan klasifikasi investor menjadi 39 kategori, penetapan batas minimum free float sebesar 15 persen, serta penerapan mekanisme High Shareholding Concentration (HSC) sebagai peringatan dini bagi investor.

FTSE Russell juga menempatkan Indonesia dalam posisi sejajar dengan Tiongkok dan India dalam klasifikasi pasar, yang dinilai mencerminkan peningkatan standar tata kelola dan transparansi pasar modal nasional.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyambut positif capaian tersebut sebagai indikator bahwa reformasi pasar modal Indonesia menunjukkan kemajuan yang konsisten dan kredibel di mata penyedia indeks global.

Pemerintah menilai kedua pengakuan internasional ini sebagai validasi atas arah kebijakan ekonomi nasional yang konsisten dalam menjaga stabilitas makroekonomi, memperkuat permintaan domestik, menjaga kredibilitas kebijakan moneter dan fiskal, serta melanjutkan reformasi struktural di sektor keuangan.

Juru Bicara Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Haryo Limanseto, menyampaikan bahwa capaian tersebut mencerminkan kepercayaan global terhadap fundamental ekonomi Indonesia.

"Di tengah lingkungan eksternal yang penuh tantangan, Indonesia membuktikan bahwa kestabilan fundamental domestik merupakan jangkar yang efektif dalam menjaga kepercayaan investor jangka panjang," ujar Haryo Limanseto.

Pemerintah juga menegaskan komitmennya untuk terus mempercepat reformasi, termasuk menjelang review kuartalan FTSE Russell pada Juni 2026 dan review MSCI pada Mei 2026, guna menjaga momentum pertumbuhan yang inklusif, berkelanjutan, dan tahan terhadap guncangan eksternal.

Rekomendasi