BI-Rate Tetap 4,75%, Analis Ungkap Dampak Terhadap IHSG
Pada sesi pertama perdagangan Kamis (19/2) IHSG sempat menguat, namun tekanan jual di sesi kedua membuat indeks kembali ditutup di zona negatif.
Senior Market Chartist Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menilai Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat menunjukkan volatilitas pasca pengumuman keputusan Bank Indonesia mempertahankan suku bunga acuan di 4,75% pada Kamis (19/2).
Nafan melihat pada sesi pertama perdagangan Kamis (19/2) IHSG sempat menguat, namun tekanan jual di sesi kedua membuat indeks kembali ditutup di zona negatif.
"Kita melihat bahwasannya kinerja IHSG pada hari kemarin yang lalu. Di sesi pertama sempat mengalami penguatan, namun akhirnya di sesi kedua IHSG ditutup di zona negatif dari zona positif," kata Nafan kepada Liputan6.com, Jumat (20/2).
Menurutnya, penetapan BI-Rate memberikan sinyal kuat terhadap arah kebijakan moneter di tengah dinamika pasar keuangan global. Kebijakan ini dinilai lebih menitikberatkan pada stabilitas makroekonomi ketimbang mendorong pertumbuhan jangka pendek.
Sebagai informasi, berdasarkan hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 18–19 Februari 2026 memutuskan untuk mempertahankan BI-Rate di level 4,75%. Sementara itu, suku bunga Deposit Facility tetap di 3,75% dan Lending Facility di 5,50%.
Fokus Jaga Stabilitas Rupiah dan Inflasi
Nafan menjelaskan, keputusan mempertahankan BI-Rate lebih diarahkan untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat. Langkah ini dinilai penting guna meredam potensi gejolak eksternal yang masih membayangi pasar keuangan global.
Menurutnya, kebijakan tersebut juga bertujuan mengendalikan tekanan inflasi yang sebelumnya sempat berada di atas target Bank Indonesia. Inflasi terakhir tercatat di kisaran 3,55%, sedikit melampaui rentang sasaran BI yang berada di level 2,5% plus minus 1%.
"Karena kita ketahui bersama bahwasannya RDG-BI dalam hal di hasil di mana BI-Rate ditetapkan tetap di kisar 4,75%, bahwa ini lebih menyebabkan kepada stabilitas nilai tukar rupiah tujuannya untuk meredam gejolak nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, situasi terhadap dolar AS, dan juga di sisi lain untuk meredam kenaikan inflasi," jelas Nafan.
Peluang Suku Bunga Turun dan Dampaknya ke IHSG
Lebih lanjut, Nafan menilai ruang penurunan BI-Rate tetap terbuka apabila tekanan inflasi dan nilai tukar mulai terkendali. Jika kondisi makro semakin stabil, kebijakan suku bunga yang lebih rendah dapat menjadi katalis positif bagi pertumbuhan ekonomi nasional.
Penurunan suku bunga acuan berpotensi mendorong ekspansi kredit, meningkatkan konsumsi, serta memperkuat kinerja sektor riil. Dampaknya, sentimen positif bisa mengalir ke pasar saham dan menopang pergerakan IHSG.
"Jadi, nanti jika kesempatan BI-Rate bisa diturunkan, ini bisa memberikan benefit bagi ruang pertumbuhan ekonomi Indonesia ke depan," pungkasnya.