Bapanas Pastikan Stabilitas Harga Pangan Jatim Terjaga Jelang Ramadhan 2026
Badan Pangan Nasional (Bapanas) mengonfirmasi **stabilitas harga pangan Jatim** menjelang Ramadhan 2026, melalui pengawasan intensif dan penguatan distribusi untuk menjamin ketersediaan pasokan.
Badan Pangan Nasional (Bapanas) memastikan pasokan serta harga komoditas pangan strategis di wilayah Jawa Timur tetap stabil selama bulan Ramadhan 2026. Pengawasan intensif dan penguatan distribusi di pasar menjadi fokus utama pemerintah. Langkah ini dilakukan untuk menjamin ketersediaan pangan bagi masyarakat.
Deputi Penganekaragaman Konsumsi dan Keamanan Pangan Bapanas, Andriko Noto Susanto, menyatakan bahwa perkembangan harga pangan di sejumlah pasar Jawa Timur sepanjang Februari 2026 terkendali. Harga komoditas cenderung stabil menjelang bulan suci Ramadhan. Hal ini memberikan ketenangan bagi konsumen.
Pemantauan oleh Tim Satgas Pelanggaran Harga, Keamanan, dan Mutu Pangan menunjukkan sebagian besar komoditas strategis bergerak dalam rentang wajar dan sesuai koridor Harga Eceran Tertinggi (HET) maupun Harga Acuan Penjualan (HAP) yang ditetapkan. Komitmen bersama para pelaku usaha turut mendukung upaya ini.
Pemantauan Harga Komoditas Strategis di Jawa Timur
Hasil pemantauan Tim Satgas sejak 13 Februari 2026 di Pasar Pucang Anom Surabaya dan Pasar Sidoharjo Lamongan menunjukkan kondisi harga yang terkendali. Beras menjadi komoditas paling stabil dengan harga premium di kisaran Rp15.000–16.000/kg di Surabaya. Harga beras di Lamongan bahkan sedikit turun menjadi Rp14.900/kg pada 27 Februari.
Beras medium konsisten pada Rp13.500/kg, sementara beras SPHP tetap Rp12.500/kg. Stabilitas ini mengindikasikan ketersediaan stok yang memadai di pasaran. Selain itu, efektivitas instrumen stabilisasi pemerintah juga berperan besar dalam menjaga harga.
Fluktuasi harga terjadi pada daging ayam, dari Rp40.000/kg naik menjadi Rp42.000/kg, lalu kembali ke Rp40.000/kg. Harga telur ayam juga bergerak dari Rp30.000/kg, sempat naik, dan terkoreksi menjadi Rp31.000/kg menjelang akhir Februari. Komoditas ini terus dipantau secara ketat.
Dinamika Harga Hortikultura dan Minyakita
Pada sektor hortikultura, cabai rawit merah masih menghadapi tekanan harga di kisaran Rp85.000–90.000/kg. Faktor pasokan dan kondisi cuaca di sentra produksi menjadi penyebab utama kenaikan ini. Pemerintah sedang berupaya mencari solusi untuk masalah tersebut.
Sebaliknya, cabai merah keriting mengalami penurunan harga signifikan dari Rp40.000/kg menjadi Rp22.000/kg pada akhir Februari. Bawang merah dan bawang putih juga menunjukkan tren penurunan bertahap. Kondisi ini memberikan sedikit kelegaan bagi konsumen.
Harga Minyakita tercatat stabil di Rp15.700/liter di seluruh titik pemantauan. Gula pasir curah juga menunjukkan tren positif dengan penurunan dari Rp17.000/kg menjadi Rp16.000/kg. Bulog telah menyalurkan sekitar 6 juta liter Minyakita ke 2.250 titik pedagang di 160 pasar Jawa Timur sejak 19 Januari hingga 26 Februari 2026.
Komitmen Bersama dan Pengawasan Rantai Pasok
Pemerintah menekankan pentingnya antisipasi peningkatan kebutuhan pada momen hari besar keagamaan secara terkoordinasi. Pengawasan diperkuat, sementara pelaku usaha diharapkan menjaga kelancaran distribusi serta stabilitas harga di lapangan. Masyarakat diharapkan tidak perlu khawatir.
Pada 12 Februari 2026, telah ditandatangani Komitmen Bersama Satuan Tugas Sapu Bersih Pelanggaran Harga, Keamanan, dan Mutu Pangan Daerah Jawa Timur. Sebanyak 35 pelaku usaha, produsen, dan asosiasi petani menyatakan komitmen menjaga pasokan dan harga wajar. Mereka juga mematuhi standar keamanan pangan.
Andriko Noto Susanto menambahkan, penelusuran mendalam terhadap rantai pasok terus dilakukan sesuai arahan Kepala Bapanas, Andi Amran Sulaiman. Hal ini untuk memastikan tidak terjadi distorsi harga di tingkat distributor maupun pedagang besar. Kepolisian akan bertindak jika ditemukan kenaikan harga tidak sesuai ketentuan.
Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas, I Gusti Ketut Astawa, mengonfirmasi kecukupan pasokan komoditas strategis. Tantangan utama saat ini adalah kelancaran distribusi hingga pedagang eceran. Penyebaran SPHP juga perlu lebih merata sesuai kebutuhan riil di lapangan.
Sumber: AntaraNews