Usir Warga Palestina ke Libya, Menteri Israel Seenaknya Bilang 'Gaza Bukan Tanah Mereka Tapi Milik Israel'
Menteri Pertanian Israel mengusulkan pemindahan warga Gaza ke Libya, memicu perdebatan internasional.
Belum juga selesai genosida Israel di Gaza, negeri zionis itu kembali menambah beban penderitaan warga Palestina di Gaza. Israel mengumumkan akan menguasai seluruh wilayah Gaza dengan militer.
Rencana yang telah disetujui oleh kabinet keamanan Israel itu pun mendapat kecaman dari negara-negara di dunia dan PBB. Sebab, salah satu poin dalam rencana itu yakni mencakup pemindahan paksa warga Palestina di daerah kantong itu.
Menteri Pertanian Israel, Avi Dichter pada Kamis (7/8/2025) lalu bahkan mengungkapkan garis besar rencana berskala besar untuk memindahkan penduduk Palestina di Jalur Gaza ke luar negeri. Dia bahkan dengan enaknya mengusulkan Libya sebagai negara alternatif untuk menampung mereka.
Dalam wawancara dengan surat kabar berbahasa Ibrani Maariv, Dichter mengklaim bahwa warga Gaza akan "dengan senang hati pergi" jika dukungan internasional yang diperlukan diberikan, dan menyarankan kemungkinan untuk menempatkan mereka di negara lain termasuk Libya.
Pria yang memiliki orangtua berasal dari Polandia itu mengklaim, penduduk Gaza akan setuju untuk meninggalkan Jalur Gaza jika masyarakat internasional menawarkan mereka alternatif, mirip dengan pengungsi Suriah setelah perang saudara.
"Kerinduan untuk membangun kehidupan baru di luar Gaza sungguh tak tertahankan. Saya melihatnya jelas di media sosial. Orang-orang di sana tahu tidak ada tempat untuk kembali," klaimnya dikutip dari Middle East Monitor, Sabtu (9/8/2025).
Dichter menyarankan Libya sebagai tujuan potensial bagi pemukiman kembali warga Palestina, dengan mengatakan, "Libya adalah negara yang sangat besar, dengan wilayah yang luas dan garis pantai yang mirip dengan Gaza.
Menurutnya, jika dunia berinvestasi miliaran dolar untuk merehabilitasi warga Gaza di sana, negara tuan rumah juga akan mendapatkan keuntungan ekonomi."
Tak cuma itu, Dichter bahkan dengan seenaknya mengklaim bahwa warga Gaza tidak memiliki hak atas tanah mereka. Dia mengklaim Gaza adalah tanah Israel.
"Gaza bukan tanah mereka; itu di sini, di Israel. Siapa pun yang kehilangan rumah di Gaza bisa mendapatkan sebidang tanah di mana pun. Ini bukan sekadar masalah ekonomi, melainkan masalah eksistensial," klaimnya.