Menteri Israel: Dalam 6 Bulan Gaza akan Dihancurkan dan Warga Palestina Dipaksa Pindah ke Negara Ketiga
Selain itu dia juga menyatakan Israel akan secara sepihak menetapkan kedaulatan atas Tepi Barat.
Menteri Keuangan Israel sayap kanan, Bezalel Smotrich kemarin menyatakan waktu enam bulan, Gaza akan “dihancurkan total,” dengan penduduk Palestina yang dipindahkan secara paksa “dalam jumlah besar ke negara ketiga.”
Pada pernyataannya di Konferensi Pemukiman yang diadakan di daerah pemukiman ilegal Ofra, ia mengatakan bahwa Gaza akan segera dihancurkan total, dan para penduduk di daerah yang dijajah itu akan “dipusatkan” melalui koridor militer Israel di wilayah selatan Gaza. Di sana, warga Palestina akan diusir secara massal ke negara-negara ketiga.
“Dalam beberapa bulan, kami akan dapat menyatakan bahwa kami telah menang. Gaza akan dihancurkan total,” kata Smotrich seraya menambahkan, “Dalam enam bulan lagi, Hamas tidak akan ada sebagai entitas yang berfungsi,” kata dia seperti dikutip dari Quds News Network, Rabu (7/5).
Menetapkan Kedaulatan Sepihak di Tepi Barat
Ia mengatakan populasi Gaza yang terdiri dari sekitar 2,3 juta warga Palestina akan “terkonsentrasi” di sebidang tanah sempit antara perbatasan Mesir dan pangkalan militer Israel Koridor Morag. “Sisa jalur Gaza,” tambahnya, “akan kosong.”
“Mereka (warga Gaza) akan benar-benar putus asa, menyadari bahwa tidak ada harapan dan tidak ada yang bisa diharapkan di Gaza, dan mereka akan mencari relokasi untuk memulai kehidupan baru di tempat lain," kata dia.
Ia juga menetapkan Israel akan “menerapkan kedaulatan” di Tepi Barat dalam masa pemerintahan saat ini, yang akan berakhir pada Oktober 2026, kecuali jika pemilihan umum diadakan lebih awal.
Mengakui hal ini, Smotrich mengatakan kepada konferensi itu bahwa pembangunan baru di daerah E1 merupakan cara mereka membunuh warga Palestina secara de facto.
"Itu akan terjadi musim ini," katanya tentang rencana untuk mencaplok Tepi Barat. “Ini adalah salah satu tantangan terpenting kami, dan kami berada pada kesempatan bersejarah.”
“Kami akhirnya akan menduduki Jalur Gaza. Kami tidak akan takut lagi dengan kata ‘penjajahan’. Selama menduduki wilayah tersebut, kami bisa membicarakan soal kedaulatan,” kata dia.
Reporter Magang: Devina Faliza Rey