Ribuan Warga Gaza Dipancing Ambil Bantuan lalu Ditembaki Tentara Israel
Krisis kemanusiaan di Gaza semakin parah, dengan penduduk Palestina menghadapi kelaparan dan serangan militer yang terus berlanjut.
Situasi kemanusiaan di Gaza semakin memburuk setelah distribusi bantuan oleh organisasi baru yang kontroversial, Gaza Humanitarian Foundation (GHF), menyebabkan insiden tragis.
Setidaknya tiga warga Palestina kehilangan nyawa, dan puluhan lainnya mengalami luka-luka akibat ditembaki tentara Israel, saat ribuan orang yang kelaparan berdesakan untuk mendapatkan makanan di tengah blokade berkepanjangan Israel.
Peristiwa ini terjadi pada hari Selasa di kota Rafah, Gaza selatan, di bawah panas terik dan ancaman keamanan yang tinggi. Warga menyerbu lokasi distribusi yang dijaga ketat, mencoba mendapatkan paket bantuan dari GHF, organisasi yang baru-baru ini dibentuk dan didukung oleh Israel dan Amerika Serikat.
Suasana semakin kacau oleh dentuman tembakan dan suara helikopter militer Israel yang berputar-putar di atas kepala. Namun demikian, para penerima bantuan, yang terdiri dari laki-laki, perempuan, dan anak-anak, nekat menerobos pagar demi membawa pulang makanan untuk keluarga mereka.
“Kami hampir mati kelaparan. Kami harus memberi makan anak-anak kami yang ingin makan. Apa lagi yang bisa kami lakukan? Saya bisa melakukan apa saja untuk memberi mereka makan,” kata seorang ayah kepada Al Jazeera dikutip, Rabu (28/5/2025).
“Kami melihat orang-orang berlarian, dan kami mengikuti mereka, meskipun itu berarti mengambil risiko, dan itu menakutkan. Namun, ketakutan tidak lebih buruk daripada kelaparan,” lanjutnya.
Warga Dipancing Terima Bantuan lalu Ditembaki Tentara Israel
Otoritas di Gaza menyatakan beberapa warga masih dinyatakan hilang, dan insiden itu menambah panjang daftar penderitaan yang dialami penduduk akibat pemboman tanpa henti dan pembatasan masuknya bantuan.
Menurut Kantor Media Pemerintah Gaza, pasukan Israel melepaskan tembakan ke arah warga sipil yang mendekati lokasi distribusi.
“Pasukan pendudukan, yang ditempatkan di dalam atau di sekitar wilayah tersebut, melepaskan tembakan langsung ke warga sipil yang kelaparan yang dipancing ke lokasi tersebut dengan dalih menerima bantuan... memberikan bukti yang tak terbantahkan tentang kegagalan total pendudukan Israel dalam mengelola bencana kemanusiaan yang sengaja diciptakannya,” bunyi pernyataan resmi.
“Apa yang terjadi hari ini di Rafah adalah pembantaian yang disengaja dan kejahatan perang yang dilakukan dengan kejam terhadap warga sipil yang telah dilemahkan oleh lebih dari 90 hari kelaparan akibat pengepungan.”
Israel Membantah, PBB Mengritik Keras
Militer Israel membantah telah menargetkan warga secara langsung, menyatakan bahwa mereka hanya menembakkan tembakan peringatan dan situasi telah dikendalikan. Mereka juga memastikan bahwa distribusi bantuan akan tetap berlangsung.
Namun, program bantuan yang dikelola oleh GHF itu sendiri memicu pertanyaan serius. Organisasi ini didirikan secara tergesa-gesa dan dinilai tidak memiliki kapasitas maupun pengalaman untuk menjangkau lebih dari dua juta penduduk Gaza.
PBB dan lembaga kemanusiaan lainnya menyuarakan keprihatinan atas pendekatan GHF. Juru bicara PBB, Stephane Dujarric, menyebut adegan kekacauan di lokasi distribusi “menyedihkan”.
"Kami dan mitra kami memiliki rencana yang terperinci, berprinsip, dan operasional yang baik yang didukung oleh negara-negara anggota untuk menyalurkan bantuan kepada penduduk yang putus asa," katanya.
"Kami terus menekankan bahwa peningkatan operasi kemanusiaan yang berarti sangat penting untuk mencegah kelaparan dan memenuhi kebutuhan semua warga sipil di mana pun mereka berada."
Sementara itu, kelompok bantuan seperti Dewan Pengungsi Norwegia menilai program GHF sebagai kegagalan sejak awal.
“Bantuan tidak diberikan seperti ini,” kata juru bicara mereka, Ahmed Bayram.
“Inilah pemandangan yang selama ini telah kami peringatkan sepanjang bulan ini. Ini menimbulkan kekacauan. Ini menimbulkan kebingungan. Dan inilah hasilnya.”
“Saya pikir hal terbaik yang dapat dilakukan sekarang adalah membatalkan rencana ini, membalikkannya, dan membiarkan kami, para pekerja kemanusiaan profesional di PBB dan LSM, melakukan tugas kami... keputusan yang sangat sederhana: membuka gerbang dan membiarkannya tetap terbuka.”
Gaza Humanitarian Foundation
GHF sendiri merupakan hasil dari pertemuan rahasia antara pengusaha dan pejabat yang berafiliasi dengan Israel. Lembaga ini didirikan di Swiss pada Februari lalu, dan telah menggantikan peran PBB dalam mendistribusikan bantuan ke Gaza, meski belum terbukti kemampuannya.
Mantan kepala yayasan bahkan mengundurkan diri awal pekan ini, mengutip ketidakmampuan lembaga tersebut untuk menjaga prinsip “netralitas, imparsialitas, dan independensi”.
Laporan The New York Times menyebut GHF lahir dari “pertemuan pribadi para pejabat, perwira militer, dan pengusaha yang memiliki hubungan dekat dengan pemerintah Israel”. Meskipun disebut-sebut tidak terlibat langsung, Israel tetap mengendalikan sistem verifikasi penerima bantuan melalui teknologi pengenalan wajah dan biometrik yang memicu kekhawatiran pengawasan massal terhadap warga Palestina.
GHF hanya mengoperasikan empat titik distribusi di seluruh Gaza, jauh lebih sedikit dibandingkan jaringan bantuan yang sebelumnya dijalankan oleh PBB yang mencakup ratusan lokasi. Di Deir el-Balah, jurnalis Al Jazeera, Hind Khoudary, menggambarkan isi paket bantuan yang sangat terbatas: tepung, pasta, sedikit teh, kacang kalengan, dan beberapa biskuit.
Meskipun GHF mengklaim telah membagikan lebih dari 8.000 paket makanan dalam satu hari, Khoudary mengatakan jumlah tersebut nyaris tidak mencukupi.
“Ini jelas tidak cukup, dan tidak cukup untuk semua penghinaan yang dialami warga Palestina saat menerima paket makanan ini,” ujarnya.
Kondisi ini menggambarkan skala krisis kelaparan yang luar biasa. Menurut laporan terbaru dari IPC (Integrated Food Security Phase Classification), hampir 2 juta warga Gaza, sekitar 93% populasi, menghadapi kelangkaan pangan parah.