Ibrahim Abu Saoud, menyaksikan langsung serangan keji yang dilakukan tantara Israel terhadap warga Palestina di Gaza yang sedang mencari bantuan kemanusiaan di Rafah, Minggu (1/6/2025) kemarin. Kepada AP, dia mengatakan pasukan Israel menembaki orang-orang saat mereka bergerak menuju titik distribusi bantuan.
Pria berusia 40 tahun itu mengatakan kerumunan warga berjarak sekitar 300 meter dari lokasi militer Israel menembaki. Ia melihat banyak orang dengan luka tembak, termasuk seorang pemuda yang meninggal di tempat kejadian.
"Kami tidak dapat menolongnya," kata Abu Saoud dikutip dari Aljazeera, Senin (2/6/2025).
Hind Khoudary dari Al Jazeera melaporkan dari Deir el-Balah di Gaza tengah bahwa warga Palestina dibunuh ketika mencoba mendapatkan "satu makanan untuk anak-anak mereka".
"Itulah sebabnya warga Palestina mendatangi titik-titik distribusi ini, meskipun mereka tahu bahwa titik-titik tersebut kontroversial. Titik-titik distribusi tersebut didukung oleh AS dan Israel, tetapi mereka tidak punya pilihan lain," katanya.
"Bahkan paket makanan yang dibagikan kepada warga Palestina pun hampir tidak cukup. Kita berbicara tentang satu kilo tepung, beberapa kantong pasta, beberapa kaleng kacang fava – dan itu tidak bergizi. Itu tidak cukup untuk satu keluarga di Gaza saat ini," jelasnya.
اقرأ ما كتبته في التغريدة أدناه لتفهم عن ماذا سأتحدث الآن:
— Tamer | تامر (@tamerqdh) June 1, 2025
في ليلة الأمس، توجه مئات الآلاف من الأطفال والنساء والشيوخ والشبّان إلى مركز المساعدات التابع للمرتزقة في رفح، بهدف الوصول المبكر وحجز مكان، ومنع “الحشد الأول” وهم التجار والعصابات من الاستيلاء على السلع كما يحدث يوميًا… https://t.co/XjswAtffUb pic.twitter.com/zfRpsDfYx2
Tentara Israel membantai dengan cara menembaki ribuan warga Gaza yang sedang menunggu untuk mendapatkan makanan di dua lokasi distribusi bantuan di Gaza, Minggu (1/6/2025) kemarin. Akibatnya, sedikitnya 32 warga Palestina meninggal dunia dan lebih dari 200 lainnya terluka.
Dilansir Aljazeera, Senin (2/6/2025), tank-tank Israel menembaki ribuan warga sipil yang berkumpul di sebuah lokasi distribusi di Rafah, Gaza selatan pada Minggu pagi. Menurut Kantor Media Pemerintah Gaza, aksi keji itu menewaskan sedikitnya 31 orang warga Palestina.
Penembakan juga dilakukan tentara zionis Israel di titik distribusi serupa di selatan Koridor Netzarim di Kota Gaza, yang mengakibatkan warga Palestina meninggal dunia.
Bantuan tersebut didistribusikan oleh Yayasan Kemanusiaan Gaza (GHF), kelompok kontroversial yang didukung oleh Israel dan Amerika Serikat, yang telah menyelesaikan minggu pertama operasi yang kacau di daerah kantong tersebut.
Advertisement
PBB Tegaskan Operator Bantuan Kaki Tangan Israel
Direktur eksekutif GHF yang merupakan veteran AS, Jake Woods, mengundurkan diri sebelum pendistribusian dimulai, dengan menyatakan "jelas bahwa tidak mungkin untuk melaksanakan rencana ini sambil … mematuhi prinsip-prinsip kemanusiaan berupa kemanusiaan, netralitas, imparsialitas, dan independensi".
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan kelompok bantuan lainnya telah menolak bekerja sama dengan GHF. Mereka menyatakan GHF tidak netral. Mereka juga menyatakan GHF dibentuk untuk memungkinkan Israel mencapai tujuan militernya buat mengambil alih seluruh Gaza.
"Distribusi bantuan telah menjadi perangkap maut," kata kepala badan PBB untuk pengungsi Palestina, Philippe Lazzarini, dalam sebuah pernyataan pada hari Minggu.
Advertisement
Perangkap Kematian Massal
إسرائيل تحاول إنكار الحقيقة وخداع العالم. قادتها السياسيون وإعلامها، جميعهم شركاء في الإبادة ومخادعون ينكرون مجزرة المساعدات التي وقعت اليوم في رفح، والتي استُشهد فيها خمسون فلسطينيًا، رغم أن الحقيقة كالشمس، لا يمكن تغطيتها بغربالهم.
— Tamer | تامر (@tamerqdh) June 1, 2025
هذا مقطع يوثق لحظة تنفيذ المجزرة البشعة في… pic.twitter.com/jgcJhHraHM
Mengecam serangan tersebut, Kantor Media Pemerintah Gaza menggambarkan lokasi distribusi GHF sebagai "perangkap kematian massal, bukan titik bantuan kemanusiaan".
"Kami mengonfirmasikan kepada seluruh dunia bahwa apa yang terjadi adalah penggunaan bantuan secara sistematis dan jahat sebagai alat perang, yang digunakan untuk memeras warga sipil yang kelaparan dan mengumpulkan mereka secara paksa di titik-titik pembantaian yang terbuka, yang dikelola dan dipantau oleh tentara pendudukan dan didanai dan dilindungi secara politik oleh ... pemerintah AS," katanya dalam sebuah pernyataan.
Berbicara dari Kota Gaza, Bassam Zaqout dari Masyarakat Bantuan Medis Palestina mengatakan mekanisme distribusi bantuan saat ini telah menggantikan 400 titik distribusi sebelumnya dengan hanya empat titik.
"Saya pikir ada berbagai agenda tersembunyi dalam mekanisme penyaluran bantuan ini," katanya kepada Al Jazeera.
"Mekanisme ini tidak memenuhi kebutuhan masyarakat, seperti lansia dan penyandang disabilitas."
Advertisement
Hamas Siap Negosiasi, Israel Mau Terus Perang
Pembunuhan hari Minggu tersebut merupakan puncak dari minggu pertama yang mematikan bagi operasi proyek tersebut, menyusul dua penembakan sebelumnya di dua titik distribusi di selatan, yang pertama di Rafah, yang kedua di sebelah barat kota, yang mengakibatkan total sembilan warga Palestina terbunuh.
Di Gaza, bantuan penting baru mulai mengalir setelah Israel mencabut sebagian blokade total selama lebih dari dua bulan, yang menyebabkan lebih dari dua juta penduduknya yang kelaparan berada di ambang bencana kelaparan.
Sementara itu, Hamas mengatakan pada hari Minggu bahwa mereka siap untuk segera mengadakan putaran baru perundingan untuk gencatan senjata di Gaza setelah perundingan baru-baru ini tampaknya menemui jalan buntu.
"Gerakan ini menegaskan kesiapannya untuk segera memulai putaran negosiasi tidak langsung untuk mencapai kesepakatan pada pokok-pokok pertikaian," kata Hamas dalam sebuah pernyataan setelah mediator Qatar dan Mesir mengatakan mereka akan mengintensifkan upaya mereka untuk gencatan senjata di Jalur Gaza yang dilanda perang.
Sementara itu, Menteri Pertahanan Israel Katz mengatakan dia telah memerintahkan tentara zionis untuk terus maju di Gaza melawan semua target, terlepas dari adanya negosiasi.