Peringatan Hari Kelaparan Sedunia di Tengah Kelaparan Gaza, Dunia Cuma Bisa Omon-Omon & Menonton
Peringatan Hari Kelaparan Sedunia 2025 jatuh pada hari ini, dunia masih bungkam melihat kelaparan di Gaza.
Peringatan Hari Kelaparan Sedunia jatuh pada hari ini, 28 Mei 2025. Pada saat itu dunia akan diajak sadar akan adanya krisis kelaparan yang masih banyak terjadi.
Ada beberapa tempat di dunia ini yang masih menghadapi persoalan tersebut akibat kemiskinan, sosial, keterbatasan sumber daya, hingga ancaman peperangan.
Salah satunya terjadi di Gaza dimana ada ribuan orang yang menjadi korban kelaparan akibat genosida yang dilakukan militer Israel.
Korban kelaparan justru kebanyakan adalah bayi dan anak-anak, akibat banyak bantuan pangan yang seharusnya diterima mereka justru diblokir oleh Israel. Tak heran jika setiap hari ada laporan korban tewas akibat kelaparan hebat yang terjadi akibat pembatasan bantuan pangan.
Situasi ini sudah parah sejak pertengahan tahun 2024 lalu. Namun faktanya tidak banyak tindakan yang dilakukan dunia untuk mengatasi masalah ini.
Pelapor khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Palestina Francesca Albanese, mempertanyakan bagaimana dunia bisa tetap diam atau acuh tak acuh terhadap situasi dan kelaparan di Gaza yang telah menewaskan lebih dari 38.000 warga Palestina.
“Bagaimana kita bisa tetap diam, acuh tak acuh, atau tidak aktif dalam menghadapi ketidakadilan yang keji ini, dan tidak merasa munafik ketika memperingati para korban genosida lainnya?” kata Abanese dikutip dari Anadolu.
Laporan IPC yang bermitra dengan PBB pada tahun lalu menyebut tingkat kelaparan mencapai 96 persen populasi atau sekitar 2,15 juta orang. Angka tersebut masuk kategori krisis pangan akut.
Israel Blokir Bantuan Kemanusiaan
Mengutip dari Anadolu Ajansi, Rabu (28/5) para pemukim Israel sayap kanan kembali memblokir jalannya truk berisi bantuan kemanusiaan ke Jalur Gaza sejak tiba di pelabuhan Israel pada Selasa (27/5) kemarin.
Laporan dari Haaretz, ada sekitar 20 aktivis sayap kanan bernama Tsav 9 (Order 9) berkumpul di Pelabuhan Ashdod untuk mencegah lewatnya truk bantuan yang menuju Gaza. Mereka berupaya keras mencegah pengiriman bantuan kemanusiaan ke Gaza.
Tindakan mereka menambah daftar kasus pemblokiran bantuan kemanusiaan yang sebelumnya dilakukan pemerintah Israel sejak 2 Maret 2025.
Akibat pemblokiran tersebut, terjadi krisis kemanusiaan parah di Gaza menurut laporan pemerintah, hak asasi manusia, dan internasional.
Meski faktanya Israel menghalau bantuan kemanusiaan, pemerintah Israel justru membuat propaganda yang mengklaim telah mengizinkan bantuan masuk meskipun hanya sekitar 100 truk yang masuk, atau kurang dari 1 persen dari kebutuhan dasar penduduk.
Fakta tersebut dibenarkan oleh pemerintah Gaza yang menyebut Israel sengaja membuat kampanye disinformasi untuk menutupi kebijakan genosida mereka.
“Tidak ada bantuan kemanusiaan nyata yang masuk ke Gaza meskipun tragedi kemanusiaan di sana semakin memburuk,” kata direktur kantor media, Ismail Thawabteh.
Kelaparan di Gaza Fase 'Akut'
Direktur Kantor Media Pemerintah Gaza menyebut kelaparan di Gaza telah mencapai fase 5, atau tingkat tertinggi pada skala keamanan pangan akut PBB, yang diklasifikasikan sebagai kelaparan.
Kepala kemanusiaan PBB Tom Fletcher lewat keterangannya pada Senin (18/5) mengatakan, setidaknya 14.000 bayi di Gaza terancam meninggal pada Rabu (21/5) jika mereka tidak mendapatkan nutrisi dan perawatan yang mendesak akibat blokade Israel.
Lebih lanjut ia mengkhawatirkan pasokan makanan bayi, ibu, dan anak-anak yang terbatas akibat penjarahan dan serangan Israel selama bantuan dikirimkan.
"Kami menanggung risiko penjarahan yaitu terkena serangan Israel. Kami terhalang dan menanggung risiko besar. Tapi saya tidak melihat hal yang lebih baik daripada menyediakan makanan bayi, bagi para ibu, yang saat ini tidak dapat memberi makan anak-anak mereka sendiri," ucap Fletcher.
Fakta yang terjadi mendukung pernyataan Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Tedros Adhanom Ghebreyesus yang mengatakan ada sekitar 2 juta warga Palestina kelaparan di Jalur Gaza akibat “berton-ton makanan diblokir di perbatasan” oleh Israel.
Menurut data PBB, ada ratusan ribu orang di Gaza yang mengalami ancaman krisis pangan akut, dan di antaranya adalah anak-anak yang berisiko langsung mengalami kematian akibat kelaparan.
Mereka menjadi korban blokade Israel yang secara drastis membatasi masuknya bantuan kemanusiaan seperti makanan, obat-obatan, dan bahan bakar.
Tercatat sejak awal Maret 2025, hampir semua jalur masuk ditutup dan menyebabkan lebih dari 83% bantuan pangan gagal mencapai wilayah tersebut.
Kebijakan tersebut membuat warga Gaza saat ini hanya bisa makan satu kali setiap dua hari. Menurut data, ada sekitar 50.000 anak-anak mengalami malnutrisi akut.
Jumlah Korban Gaza Terbaru
Menurut laporan dari Kementerian Kesehatan Gaza pada Sabtu (24/5) lalu, ada sekitar 53.901 warga Palestina tewas akibat genosida Israel sejak 7 Oktober 2023.
Selain korban tewas, tercatat ada 122.593 lebih warga Palestina menjadi korban luka dan ribuan lainnya masih terjebak di bawah reruntuhan bangunan.
Militer Israel semakin gencar menyerang wilayah Jalur Gaza sejak 18 Maret pasca kesepakatan gencatan senjata, dan perjanjian pertukaran tahanan yang berlaku pada bulan Januari dicabut. Sejak itu ada sekitar 3.747 orang tewas dan melukai hampir 10.600 lainnya.
Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres sempat menyebut Gaza telah memasuki "fase paling kejam" dalam perang tersebut. Guterres juga mengecam pembatasan bantuan Israel yang memperburuk bencana kemanusiaan.
Menurut laporan, Israel hanya mengizinkan masuknya bantuan dalam jumlah terbatas. PBB mengatakan pengiriman tersebut idealnya ada 500–600 truk pasokan yang dibutuhkan setiap hari, namun faktanya jauh di bawahnya. Bantuan tersebut diperuntukan untuk memenuhi kebutuhan dasar 2,1 juta penduduk warga Gaza.