Seorang pria Palestina dewasa muda berusia 29 tahun meninggal akibat kekurangan gizi parah di Gaza. Blokade berkelanjutan oleh otoritas Israel memperparah bencana kemanusiaan di Gaza.
Pria itu bernama Ayoub Abu al-Hussain. Ia meninggal pada Senin (30/6) di Rumah Sakit Lapangan Khusus Kuwait di Rafah, bagian selatan Jalur Gaza.
Foto dan video yang dipublikasikan menunjukkan Ayoub dalam kondisi mirip tengkorak sangat kurus tinggal kulit pembalut tulang, dengan penurunan berat badan yang signifikan akibat pembatasan bantuan pangan dan kebutuhan pokok.
Menurut sebuah unggahan dari rumah sakit, pria tersebut tiba dalam keadaan “tak bernyawa” karena kekurangan gizi. Ia meninggal dalam pemandangan yang menggambarkan besarnya bencana kemanusiaan yang memburuk di Jalur Gaza akibat blokade bantuan kemanusiaan dan agresi Israel yang masih berlangsung.
Advertisement
Kelaparan yang disengaja
“Kelangkaan parah makanan dan obat-obatan mengancam kehidupan ribuan warga, terutama anak-anak, orang tua, dan mereka yang menderita penyakit kronis di tengah minimnya kebutuhan hidup yang paling mendasar,” imbuh unggahan rumah sakit tersebut, seperti dilansir Middle East Eye, Selasa (1/7).
Ismail al-Thawabta, direktur Kantor Media Pemerintah di Gaza mengindikasikan bahwa kematian pemuda itu “merupakan perkembangan yang tragis dan mengejutkan dalam bencana kemanusiaan yang memburuk di Jalur Gaza akibat pendudukan kriminal Israel,” bunyi pernyataannya kepada Anadolu.
“Fakta bahwa seorang pemuda di masa jayanya menjadi sangat kurus kering hingga menjadi tengkorak adalah bukti nyata kejahatan Israel yang mengerikan terhadap warga Palestina melalui kebijakan kelaparan yang disengaja dan sistematis, yang tidak lagi terbatas pada anak-anak saja.”
Like a skeleton..!!
— Al-Jarmaq News (@Aljarmaqnetnews) July 1, 2025
Palestinian youth Ayyoub Saber Abu al-Hussain, 29, passed away due to severe malnutrition caused by the crippling blockade, the closure of border crossings, and the denial of humanitarian aid to Gaza. pic.twitter.com/LL4FmC4S1A
Advertisement
Metode militer
Dalam penilaiannya pada pertengahan Mei, Integrated Food Security Phase Classification (IPC), menulis bahwa selama enam bulan ke depan, seluruh wilayah Gaza diperkirakan akan menghadapi apa yang disebut oleh para ahli sebagai “krisis, atau lebih buruk lagi, kerawanan yang akut.” IPC merupakan sebuah inisiatif global yang bertujuan meningkatkan analisis ketahanan pangan dan nutrisi untuk mengambil kebijakan.
Yang memperparah kekurangan pangan adalah inisiatif bantuan AS-Israel yang baru-baru ini beroperasi. Inisiatif itu adalah Gaza Humanitarian Foundation, yang telah menjadi sorotan karena penggunaan metode militer untuk mendistribusikan bantuan dan kurangnya kebutuhan pokok yang masuk ke Jalur Gaza.
GHF memulai operasinya pada akhir Mei, setelah blokade total selama tiga bulan di Jalur Gaza. Sudah lebih dari 500 warga Palestina terbunuh dan sekitar 4.000 lainnya terluka sejak saat GHF dibuka. Mereka ditembaki oleh pasukan Israel saat berupaya mengakses pasokan makanan dan bantuan.
Reporter Magang: Devina Faliza Rey