Mereka yang Berlebaran dalam Getir, "Beli Roti pun Saya Tak Mampu, Tak Ada Daging, Tak Ada Sayuran"
Warga Gaza menjalani Iduladha dengan penuh kesedihan.
Gaza hancur lebur karena bombardir Israel dan blokade. Warga Palestina memperingati Iduladha dalam kegetiran.
Bagi warga muslim di seluruh dunia tradisi Iduladha biasanya memotong hewan kurban berupa kambing, domba atau sapi dan membagikannya kepada kaum miskin. Keluarga kemudian menyantap hidangan daging dan kue. Anak-anak mendapat hadiah dan baju baru.
Tapi sudah tiga bulan tak ada daging masuk ke Gaza. Israel melarang masuk kiriman bantuan kemanusiaan dan kebutuhan lainnya.
Hampir seluruh domba, sapi, dan kambing lokal di Gaza mati setelah 20 bulan bombardir dan operasi darat Israel.
Harga-harga meroket
Sejumlah kecil ternak yang tersisa dijual di kandang sementara yang didirikan di kamp tenda luas Muwasi di bagian selatan pantai Mediterania Gaza. Namun, tidak ada yang mampu membeli. Beberapa orang datang untuk melihat domba, kambing, serta seekor sapi dan unta. Beberapa anak tertawa melihat hewan-hewan itu dan melantunkan doa-doa yang terkait dengan hari raya.
“Membeli roti pun saya tak mampu. Tidak ada daging, tidak ada sayuran,” kata Abdel Rahman Madi. “Harga-harganya sangat mahal.”
Di pasar jalanan di kota terdekat, Khan Younis, beberapa kios menjual mainan domba boneka, pernak-pernik hari raya, dan pakaian bekas. Namun, sebagian besar orang pergi tanpa membeli hadiah setelah melihat harga.
“Dulu, ada suasana Iduladha, anak-anak senang. Sekarang dengan blokade, tidak ada tepung, tidak ada pakaian, tidak ada kegembiraan,” kata Hala Abu Nqeira, seorang wanita yang melihat-lihat pasar, seperti dilansir AP, Jumat (6/6).
Hadiah Hari Raya
“Kami hanya pergi untuk mencari tepung untuk anak-anak kami. Kami keluar setiap hari mencari tepung dengan harga wajar, tapi kami menemukannya dengan harga yang tidak masuk akal.”
Bombardir Israel hampir sepenuhnya menghancurkan kemampuan Gaza untuk mencukupi kebutuhan makanannya sendiri. PBB menyatakan 96% ternak dan 99% unggas telah mati. Lebih dari 95% lahan pertanian Gaza sebelum perang tidak dapat digunakan, baik karena terlalu rusak atau tidak dapat diakses di dalam zona militer Israel, menurut survei lahan yang diterbitkan pekan ini oleh Organisasi Pangan dan Pertanian PBB.
Rasha Abu Souleyma mengatakan dia baru-baru ini kembali ke rumahnya di Rafah — setelah mengungsi dari Khan Younis — untuk mencari beberapa barang yang ditinggalkannya. Dia kembali dengan beberapa pakaian, kacamata plastik merah muda, dan gelang yang diberikannya kepada kedua putrinya sebagai hadiah Hari Raya.
“Saya tidak bisa membelikan mereka pakaian atau apa pun,” kata wanita berusia 38 tahun itu. “Dulu saya membawa daging saat Iduladha agar mereka senang, tapi sekarang kami tidak bisa membawa daging, dan saya bahkan tidak bisa memberi makan anak-anak dengan roti.”
Di dekatnya, sekelompok anak bermain di ayunan sementara yang terbuat dari tali yang diikat dan dililitkan.
Karima Nejelli, seorang wanita pengungsi dari Rafah, menunjukkan bahwa masyarakat di Gaza kini telah melewati Idulaladha dan Idulfitri, masing-masing dua kali selama perang.
“Selama empat Hari Raya ini, kami sebagai warga Palestina tidak melihat kegembiraan apa pun, tidak ada kurban, tidak ada kue, tidak ada pembelian pakaian Hari Raya atau apa pun.”