Penampakan Cabai Asli Indonesia yang Sebenarnya, Jarang Ditemukan di Pasaran
Cabya Jawa adalah rempah asli Indonesia. Namun, kini keberadaannya mulai dilupakan.
Pernahkah Anda mendengar tentang Cabya Jawa? Mungkin namanya asing di telinga sebagian besar masyarakat Indonesia. Padahal sebelum kedatangan cabai dari Benua Amerika, Cabya Jawa lah yang menjadi sumber rasa pedas utama di Nusantara.
Cabya Jawa (Piper retrofractum Vahl) merupakan tanaman rempah asli Indonesia dari keluarga sirih-sirihan (Piperaceae). Masyarakat mengenalnya dengan berbagai nama, seperti cabai jamu atau lada Jawa.
Keberadaannya kini mulai meredup, tergerus popularitas cabai modern (Capsicum spp.) yang lebih dulu dikenal luas dan umum ditemukan di Indonesia. Simak ulasan selengkapnya:
Karakteristik Unik Cabya Jawa
Berbeda dengan cabai modern yang buahnya licin dan mengkilap, Cabya Jawa memiliki tampilan yang khas. Tanaman ini tumbuh merambat mirip seperti sirih. Daunnya berbentuk lonjong hingga bulat telur dengan ukuran antara 3 hingga 10 cm.
Buahnya berbentuk bulir silindris dengan permukaan berbintik-bintik. Warnanya pun berubah seiring dengan tingkat kematangannya, mulai dari abu-abu, hijau, kuning, hingga merah menyala saat matang sempurna.
Teksturnya yang unik inilah yang membedakannya dari jenis cabai lainnya. Cabya Jawa tumbuh subur di dataran rendah hingga ketinggian 600 meter di atas permukaan laut.
Kegunaan Cabya Jawa dalam Kuliner dan Pengobatan
Sejak zaman dahulu, Cabya Jawa telah dimanfaatkan sebagai bumbu masak untuk memberikan rasa pedas yang khas. Rasa pedasnya cenderung lebih hangat dibandingkan dengan cabai modern. Masyarakat biasanya mengeringkan buahnya terlebih dahulu lalu menghaluskannya menjadi rempah.
Selain sebagai bumbu masak, Cabya Jawa juga memiliki khasiat pengobatan tradisional. Tanaman ini dipercaya dapat meredakan berbagai keluhan kesehatan seperti nyeri gigi, radang tenggorokan, sariawan, asam urat, perut kembung, hingga batuk.
Bahkan, di Madura, Cabya Jawa menjadi campuran ramuan penghangat badan yang dicampur dengan kopi, teh, atau susu. Kandungan piperin yang terdapat dalam Cabya Jawa memiliki efek antiinflamasi dan analgesik. Tak hanya itu, tanaman ini juga berpotensi sebagai insektisida nabati yang ramah lingkungan.
Pada abad ke-16, para pelaut dari Portugis dan Spanyol membawa masuk tanaman cabai ke Asia Tenggara. Lambat laun, cabai mulai dikembangkan menjadi bahan pembuat sambal seperti yang biasa kita konsumsi sehari-hari saat ini.
Pemakaian cabai sebagai bahan pembuat sambal ini diikuti dengan beragamnya varian cabai, mulai dari cabai keriting, cabai rawit, cabai flores, hingga cabai domba. Akibatnya, penggunaan cabya bergeser menjadi sebatas herbal atau bahan jamu saja.